AAB - Penyair Karbitan

Penyair Karbitan
By: Arif Agus B


Istilah itu jatuh
"Karbitan!"
suara paling nyaring
akal paling pendek

Ibu memeram pisang
ayah menunggu aroma
karbit bekerja
kebun tetap diam

Semalam
kulit berubah
warna bersorak
akar belum selesai

"Jangan cepat menilai!"
seru seseorang
lidah sering matang
isi kepala masih mentah

Karbit cuma benda
pisang cuma buah
vonis lahir
dari mulut manusia

Aneh
buah dipersalahkan
alat diadili
pemakai bertepuk tangan

Banyak tepuk
sedikit panen
banyak gelar
sedikit tumbuh

Puisi bukan bedak
nama bukan mahkota
usia halaman
bukan ukuran musim

Matang meminta waktu
bijak meminta luka
penyair meminta hidup


Makassar, 10/02/2016

AAB - Memilih Sepi Bersamamu


Memilih Sepi Bersamamu
By: Arif Agus Bege'h


Aku memilihmu!
Bukan karena aku bosan disebut sebagai sunyi yang mencari ketenangan!
Bukan pula karena aku sepi yang meratap tanpa teman!
Tidak!

Aku berdiri di sini,
Bukan untuk berlari dari bayang-bayang,
Bukan untuk mengemis penawar sepi yang datang.
Aku adalah sunyi itu sendiri!
Dan aku tidak pernah takut pada hening yang abadi!

Namun hari ini, dengarkan!
Aku memilihmu,
Karena aku ingin menjalani sunyi dan sepi ini—
Bersamamu!
Dua jiwa yang saling menggenapi dalam keheningan yang megah!

Kita adalah orang-orang yang telah dipilih!
Oleh garis takdir,
Oleh jalan cerita yang telah lama menanti,
Yang telah lama mengalir,
Untuk segera dikisahkan kepada dunia!

Maka biarkan sepi ini menjadi gemuruh!
Biarkan sunyi ini menjadi saksi yang kukuh!
Aku dan kamu,
Menantang takdir, menuliskan kisah kita sendiri


Makassar Sul-Sel, 01/01/2016.

AAB - Bayang Di Pusara Sunyi

Bayang Di Pusara Sunyi
By: Arif Agus Bege'h


Di bawah senja yang meredup
ada rindu yang kehilangan jalan pulang
langkah kakimu tak lagi terdengar
menyisakan sepi yang erat mendekap

Ayah...
punggungmu dulu tempat berlindungku,
tangan kokohmu penuntun jalan bimbang
kini saat badai hidup datang merundung
aku hanya mampu memeluk bayangmu

Ada sesak yang tertahan di dada
setiap kali ingatan memutar waktu
kepergianmu menyisakan ruang menganga
kehilangan yang takkan pernah bermuara

Di atas pusara berumput sunyi
kutitipkan doa dalam sujud yang dalam
melepas penat yang lama tersembunyi
menemani tidurmu yang kian tenteram

Rebah dan damailah di keabadian
tugasmu telah usai di dunia fana
biar di sini kujaga keteguhan
meski rindu ini tak pernah ada jeda


Masamba Sul-Sel, 29/11/2015

AAB - Menjaga Bara

Menjaga Bara
By: Arif Agus Bege'h


Semesta meminta langkah ini jeda
mungkin harap terlalu menggebu
hingga waktu menyuruhku menahan diri
sampai kepastian mekar sempurna

Jalan di depan samar tertutup kabut
ada enggan untuk terus melangkah
namun nurani berbisik pelan
agar api ini tidak padam total

Kita merawat asa dalam diam yang panjang
bukan menyerah pada keadaan
melainkan cara agar raga tidak hancur
sebelum gerbang kemenangan terbuka

Lelah hari ini rahasia antara bumi dan langit
tersimpan dalam lipatan doa yang melangit
kusisakan ruang sabar yang lapang
agar esok mampu menampung seluruh suka cita

Kegelapan ini pasti diringkus cahaya
perjuangan sepi yang dirawat sabar
akan menjelma kisah yang abadi
hari ini boleh penuh duri
namun akhir takkan mengkhianati


Makassar, 15/09/2015

AAB - Membaca Sunyi

Membaca Sunyi
By: Arif Agus Bege'h


Keadaan memaksaku menemani malam hingga habis
harusnya begini caraku mencintaimu
menahan sebagian rasa
hingga nanti waktu menyadarkanku
untuk menerimamu seutuhnya

Tersisa sepertiga malam yang malu merindu
ia tahu aku harus terjaga
membebaskan waktu dari dekapan mimpi
demi menjaga detak yang memanggil namamu

Kita dipaksa merawat rasa dalam takaran secukupnya
bukan karena cinta memudar
melainkan cara agar kita tidak hancur
sebelum takdir benar-benar menyatukan

Biarlah rindu malam ini sembunyi dalam kabut
menjadi rahasia antara jam dan doa
aku sengaja menyisakan ruang di dada
agar esok sanggup menampung seluruhmu

Di balik gelap yang pekat
ada cinta yang dirawat dengan sabar
malam boleh diringkus fajar
namun rasaku abadi dalam waktu


Makassar, 09/08/2015