Rimba Di Atas Awan
By: Arif Agus Bege'h
Membaca peta pada kerut di telapak tangan
saat komat-kamit doa kehilangan gemertak
tak lagi berhenti karena menyerah
kini jejakmu telah larut di jantung belantara
kabut tebal menertawakan raguku
akar-akar tua mencengkeram bumi
dan badai malam meruncingkan durinya
Seakan tersesat dalam pusaran vegetasi
namun nyata menyelimuti keheningan
menembus semak, menanti fajar datang
salahkan angin yang menerbangkan rindu
rindu langkah, rindu arah
Siapakah yang mampu menghentikanmu?
siapa pula yang memisahkanmu dari tebing curam?
apakah petualangan hanyalah pelarian
atau sejarah keteguhan sebuah ikatan?
dan aku takkan menyerah melukis jiwamu
di setiap jalur pendakian yang tak terlihat oleh mereka
sebab kau telah ditempa sebagai Pilar Tarantula
Langkah, beranjaklah
tapaki setiap nan terjal
dalam dinginnya sunyi yang harus kau taklukkan
hilangkan gentar pada pekatnya malam
malam yang tunduk oleh ketegaran puncaknya
sungguh dirimu menuntun arah
dan kau pun kuberi nama: Ksatria Rimba Belantara
Kompas
kau adalah penunjuk di kala buntu
meski kabut menghalangi pandangan mata
namun kalian adalah degup dada
tak terpisahkan oleh jurang
bahkan oleh badai gunung sekalipun
dan kau pun kuberi nama: Cahaya Penjaga Setia
Sungguh perkasa dalam senyap dan nyata
meski pekat pada rimba
tajam pada tebing
namun kilau di puncak tak pernah berdusta
tak sanggupmu menembus dinding batu
meski asa membara
namun medan liar takluk di bawah sepatumu
semoga mereka bercermin padamu
sebagai lambang penjelajah terdahulu
Sampai kapan rute berakhir di ujung cakrawala?
hingga saat langkah dan kompas temukan puncaknya
pengembaraan berakhir dalam kehausan makna sejati
alam memberi tantangan
alam memberi jawaban
pulangmu pada pelukan rimba di atas awan
Makassar, 29/01/2018

