AAB - Media Tanam

Media Tanam
By: Arif Agus B


Jika suatu hari kau tak lagi menemukanku
berlama-lama di media sosial
bukan berarti aku menghilang
mungkin saat itu
aku sedang sibuk di media tanam
menjaga benih yang tak bisa tumbuh
di halaman yang terus bergerak

Ada rindu
cinta dan
harapan
semuanya terlalu berharga
jika dibiarkan hanyut
di antara jejak yang mudah dilupakan
maka kupilih tanah yang mau menerima musim

Benih-benih itu kusemai perlahan
bukan untuk segera dipanen
melainkan agar tumbuh dengan akarnya sendiri
saat tiba waktunya
mencari tempat yang baru
ia tak perlu tercerabut
oleh ketergesaan

Aku mengerti
tidak semua hati
siap menjadi ladang
ada yang masih dipenuhi batu
ada yang masih basah oleh hujan
dan ada yang belum selesai
merawat lukanya sendiri

Memindahkan benih
bukan sekadar berpindah tempat
selalu ada akar
yang harus belajar mengenal tanah baru
selalu ada musim
yang meminta kesabaran
sebelum tumbuh kembali

Mungkin karena itulah
cinta tidak pernah benar-benar ringan
ia berpindah
bukan hanya membawa harapan
tetapi juga sisa-sisa musim
yang pernah membuatnya bertahan
dan kehilangan

Jika kelak kau mencariku
carilah di ladang
tempat benih-benih itu tumbuh
sebab yang tak sempat hidup
di media sosial
barangkali sedang berbunga
di hati yang benar-benar siap menerimanya


Masamba Sul-Sel, 24/07/2019

Puisi ini menyampaikan pesan bahwa tidak semua hal berharga harus tumbuh di ruang yang ramai. Ada kalanya sesuatu justru berkembang lebih baik ketika ditanam dengan sabar di tempat yang benar-benar siap menerimanya.

AAB - Gula Tidak Pernah Menawar Timbangan

Gula Tidak Pernah Menawar Timbangan
By: Arif Agus B


Angka sudah selesai mengatakan kebenaran
yang belum selesai adalah manusia mencari alasan
lalu mulut itu bergerak
"Tolong kurangi sedikit"

Aneh
gula tidak pernah protes ketika beratnya diumumkan
yang gelisah selalu manusia
benda mati lebih jujur
daripada lidah yang hidup

"Semua orang juga begitu."
kalimat itu sering dipakai
menghibur kesalahan
seolah banyak pelaku
bisa mengubah salah menjadi benar
padahal timbangan
tidak mengenal suara mayoritas

Ada yang pandai mengurangi isi
lalu menambah alasan
ada yang mengecilkan takaran
lalu membesarkan senyum
pembeli pulang membawa barang
penjual pulang membawa beban yang tak terlihat

Cermin masih bisa dibohongi dengan cahaya
foto masih bisa dipoles
cerita masih bisa dihias
tetapi timbangan tidak pernah belajar berpihak


"Aku hanya mengambil sedikit"
sedikit?
kata itu telah menjadi selimut bagi banyak tangan
padahal yang kecil
tetap memiliki nama di hadapan Tuhan

Lucunya
manusia lebih takut jarum timbangan bergerak ke kanan
daripada timbangan amal bergerak ke kiri
padahal yang pertama mengurangi untung
kedua mengurangi keselamatan

Kalau gula bisa berbicara
mungkin ia akan berkata
"Aku tidak pernah meminta beratku dikurangi. Itu urusanmu."
betapa tenangnya menjadi gula
betapa sibuknya menjadi orang
selalu saja mencari jalan agar angka mau berbohong

Saat bumi menutup seluruh tokonya
tak ada lagi harga
diskon
atau tawar-menawar
yang berdiri hanya kejujuran
dan pada hari itu
tak seorang pun mampu
menyuruh timbangan mengubah keputusan


Makassar, 16/12/2018

(QS. Al-An'am [6]: 152)

 وَأَوْفُوا الْكَيْلَ وَالْمِيزَانَ بِالْقِسْطِ ۖ لَا نُكَلِّفُ نَفْسًا إِلَّا وُسْعَهَا 

Wa auful-kaila wal-mīzāna bil-qisṭ. Lā nukallifu nafsan illā wus'ahā.

"Dan sempurnakanlah takaran dan timbangan dengan adil. Kami tidak membebani seseorang melainkan menurut kesanggupannya."

AAB - Tanpa Batas Finis

Tanpa Batas Finis
By: Arif Agus Bege'h


Lampu finis tak ada
ijazah bukan akhir
Ilmu itu napas
udara yang kautelan setiap hari

Gelar?
cuma halte singgah
pencarian tak usai
maka berjalannyalah dengan ikhlas
sampai batas usia


Makassar, 27/11/2018

AAB - Belati Fakta, Topeng Kebajikan


Belati Fakta, Topeng Kebajikan
By: Arif Agus Bege'h


​Atas nama fakta dan kebenaran
aib sesama ditiup ke udara
berdalih meluruskan perjalanan
padahal ego menari gembira
​Fitnah adalah dusta yang kelam
ghibah merobek senyap dan ngilu
bukan menghapus air mata dalam diam
tapi menguliti di panggung yang semu
​Maksiat takkan surut oleh gunjing
ketika lisan berubah jadi taring
membasuh lantai dengan air keruh
jiwa yang pongah takkan pernah basuh

​Takkan bersih jiwa yang pongah
saat daging saudara sendiri yang dikunyah...


Makassar Sul-Sel, 25/07/2018

AAB - Kedaulatan Tinta



Seorang penyair tidak pernah menulis untuk mematuhi pagar pembatas; ia menulis untuk menembusnya. Ketika sebuah tradisi atau komunitas menetapkan "pantangan," mereka sebenarnya sedang mengakui bahwa kata-kata Anda memiliki daya untuk mengguncang tatanan mereka.
Jangan pernah melihat larangan sebagai tembok yang menghentikan langkah, melainkan sebagai ujian atas kedalaman keyakinan Anda. Jika Anda berhenti menulis karena satu larangan, Anda bukan hanya tunduk pada mereka, tetapi Anda sedang mengkhianati suara batin yang menjadi sumber karya Anda. Tetaplah menulis, bukan untuk melawan mereka, melainkan untuk membuktikan bahwa kebenaran tidak memerlukan izin untuk diungkapkan.

Kedaulatan Tinta
By: Arif Agus Bege'h


Pagar kayu lapuk berdiri angkuh
menjaga mimpi di batas semu
ada pantangan yang coba membunuh
tapi pena ini tak sudi jemu

Mereka berkata: jangan menulis!
di luar garis jangan melangkah
namun di batin
suara berdengis
takkan biarkan jiwaku menyerah

Tantangan mereka adalah isyarat
akan besarnya kuasa kata-kata
mereka ketakutan di balik sekat
di hadapan beningnya air mata

Ini badai dari sumur puisi
menerjang dinding ketidaktahuan
meruntuhkan takut dengan amunisi
kejujuran nurani tanpa penundaan

Aku menulis
maka aku ada
tak butuh restu untuk berkreasi
biarkan tinta mengukir sabda
hingga runtuh pagar-pagar tradisi


Makassar, 05/02/2018