Daulat Di Atas Batu

Daulat Di Atas Batu
By: Arif Agus Bege'h


Matahari tepat di atas kepala
tidak ada lagi bayangan tempat bersembunyi
sebab ketakutan sudah kami injak habis di bawah telapak kaki yang legam

Kami menolak menjadi angka-angka yang patuh dalam catatan sejarah kalian
kami menolak menjadi barisan nama yang dilupakan setelah peluh diperas habis
mulai detik ini
kami adalah penentu arah mata angin!

Dengar
tanah ini bukan warisan yang bisa kau gadaikan di atas meja perundingan yang wangi
tiap jengkal tanah
tiap tetes air yang mengalir
adalah urat nadi yang berdenyut bersama nafas kami

Siapa yang berani menggoreskan duri di atas dada bumi ini
akan berhadapan langsung dengan badai yang selama ini kami simpan rapi
kami tidak pernah mencari musuh
tapi kami tahu persis cara meruntuhkan kesombongan

Saksikan hari ini!
kami runtuhkan dinding-dinding keraguan yang kalian bangun dengan narasi palsu
kalian mengira kami lemah karena kami memilih diam
padahal diamnya kami adalah cara mengumpulkan petir

Tangan-tangan kami mungkin kasar oleh kerja keras di lapangan
pakaian kami mungkin tidak berhias benang emas yang berkilau
tapi otak kami tajam
melebihi bilah pedang terdalam yang pernah ditempa sejarah

Kita tidak sedang berdiri di sini untuk meminta belas kasihan
kita tidak sedang mengemis ruang untuk sekadar bertahan hidup
kita sedang mengambil kembali
merebut dengan terhormat apa yang sejak awal adalah hak mutlak kita!

Mundur adalah haram bagi darah yang mengalir di tubuh ini
tunduk adalah bentuk khianat paling nista pada leluhur
siapa yang goyah
silakan minggir dari barisan
sebab perjalanan ini hanya menyisakan ruang bagi jiwa-jiwa yang membaja

Hari ini
langit ikut menjadi saksi
kita tegaskan satu hukum tak tertulis kepada dunia
Kami ada...!
kami berdaulat...!
dan kami tidak akan pernah bisa kalian patahkan!


Masamba Sul-Sel, 15/05/2020

AAB - Cinta Tanpa Jeda

Cinta Tanpa Jeda
By: Arif Agus Bege'h


Aku ingin mencintaimu seperti cara langit mencintai bumi
bukan dengan kepemilikan yang mengungkung dan kaku
melainkan dengan kelapangan yang membiarkanmu menjadi diri
sembari tetap menjagamu di bawah naungan atap biruku

Langit tak pernah menuntut bumi untuk berhenti berputar
ia membiarkanmu menari dengan musim
dengan hujan
dan dengan badai

Sebab ia tahu
meski kau jauh di bawah sana dan berpijar
hanya pada pelukannyalah segala cakrawalamu akan usai

Ketika kau terbangun dalam embun yang dingin merayap
akulah cahaya pertama yang menyentuh keningmu dengan lembut
dan saat kau lelah
saat mentari mulai lelap
aku akan melukis warna jingga
agar duka di hatimu segera larut

Aku ingin mencintaimu dengan cara yang paling tabah
seperti langit yang menerima segala debu dan asap dari bumi
namun tetap membalasnya dengan rintik hujan yang ramah
membasuh lukamu menghidupkan kembali mimpi yang hampir mati

Kita mungkin dipisahkan oleh jarak yang tak teraba oleh tangan
sebuah ruang hampa yang seringkali disebut sebagai 'tiada'
namun lihatlah ke atas saat kau merasa kehilangan arah dan tujuan
langit selalu di sana
tak pernah selangkah pun ia berpindah dada

Sebab mencintaimu adalah tentang menjadi saksi yang abadi
atas tumbuh kembangmu
atas runtuh dan bangkitnya jiwamu
aku adalah ruang tempatmu bernapas
tempatmu bermimpi
langit yang luas
yang selamanya akan merangkul setiap jengkal bumimu

Mencintaimu seperti langit berarti mencintai tanpa syarat
langit tidak pernah pergi meski tertutup mendung
ia hanya sedang memberi ruang
bagi bumi untuk merasakan rintik hujan


Masamba Sul-Sel, 02/01/2020

Sajak Hujan Yang Menepi

"Sebagaimana takaran obat yang harus presisi untuk menyembuhkan, begitu pula hidup; kita butuh takaran sabar yang tepat agar rasa sakit tidak menjadi luka yang abadi, melainkan menjadi hikmah yang menuntun kita pulang pada kedamaian."


Sajak Hujan Yang Menepi
By: Arif Agus Bege'h


Pagi menyapa di tanah Masamba
membawa aroma tanah basah dan sisa hujan semalam
aku meracik detik-detik menjadi kata
seperti dosis yang tepat untuk luka yang diam

Cinta bukan sekadar kata yang kuguratkan
ia adalah hujan yang jatuh di lembah ini
menyerap ke akar
meski tak terlihat oleh mata
menumbuhkan sabar di sela-sela rindu yang sunyi

Airmata—ah
biarlah ia menjadi saksi
bahwa menjadi manusia adalah perjalanan di perantauan
kita mendaki puncak kehidupan bukan untuk menaklukkan ego
tapi untuk mengerti arti pulang dan kasih yang tertitipkan

Masamba masih tenang dalam dekap cahaya
dan aku, dengan pena dan doa
menuliskan hidup yang terus bersahaja
antara syukur yang tumpah dan kasih yang terjaga


Masamba Sul-Sel, 28/07/2019

AAB - Rahim Sunyi

Untuk setiap hati yang subur karena air mata, dan setiap rindu yang tumbuh tanpa saksi... inilah "Rahim Sunyi."

Rahim Sunyi
By: Arif Agus Bege'h


Benih tak pecah di bawah terik
ia butuh sudut paling malam untuk berakar
begitulah rindu
mencari sunyi
jauh dari bising dunia

Hati yang subur adalah yang paling gulita
menyimpan lembap air mata yang enggan menyeka
di ruang tanpa cahaya
cinta tumbuh tanpa saksi

Rasa tak lahir dari panggung benderang
ia membesar di kedalaman basah yang senyap
hanya dalam gelap utuh
ia menjelma detak paling hidup


Masamba Sul-Sel, 26/07/2019

AAB - Media Tanam

Media Tanam
By: Arif Agus B


Jika suatu hari kau tak lagi menemukanku
berlama-lama di media sosial
bukan berarti aku menghilang
mungkin saat itu
aku sedang sibuk di media tanam
menjaga benih yang tak bisa tumbuh
di halaman yang terus bergerak

Ada rindu
cinta dan
harapan
semuanya terlalu berharga
jika dibiarkan hanyut
di antara jejak yang mudah dilupakan
maka kupilih tanah yang mau menerima musim

Benih-benih itu kusemai perlahan
bukan untuk segera dipanen
melainkan agar tumbuh dengan akarnya sendiri
saat tiba waktunya
mencari tempat yang baru
ia tak perlu tercerabut
oleh ketergesaan

Aku mengerti
tidak semua hati
siap menjadi ladang
ada yang masih dipenuhi batu
ada yang masih basah oleh hujan
dan ada yang belum selesai
merawat lukanya sendiri

Memindahkan benih
bukan sekadar berpindah tempat
selalu ada akar
yang harus belajar mengenal tanah baru
selalu ada musim
yang meminta kesabaran
sebelum tumbuh kembali

Mungkin karena itulah
cinta tidak pernah benar-benar ringan
ia berpindah
bukan hanya membawa harapan
tetapi juga sisa-sisa musim
yang pernah membuatnya bertahan
dan kehilangan

Jika kelak kau mencariku
carilah di ladang
tempat benih-benih itu tumbuh
sebab yang tak sempat hidup
di media sosial
barangkali sedang berbunga
di hati yang benar-benar siap menerimanya


Masamba Sul-Sel, 24/07/2019

Puisi ini menyampaikan pesan bahwa tidak semua hal berharga harus tumbuh di ruang yang ramai. Ada kalanya sesuatu justru berkembang lebih baik ketika ditanam dengan sabar di tempat yang benar-benar siap menerimanya.