AAB - Kunci Tidak Salah

Kunci Tidak Salah
By: Arif Agus B


Dinding sibuk memelihara gema
orang-orang saling menunjuk
seolah telunjuk lebih berguna daripada jalan keluar
lalu seseorang berkata
"Cari kuncinya."

Pintu tidak pernah tertawa
melihat kunci yang kecil
ia tidak berkata
"Ukuranmu terlalu pendek."
ia hanya menunggu
siapa yang benar-benar
mengerti cara membuka

Lucu
manusia sering memilih
memukul daun pintu
sampai catnya mengelupas
padahal yang dibutuhkan bukan tenaga
melainkan arah

"Aku sudah mencoba"
benarkah?
atau hanya mengulang cara yang gagal
dengan suara yang lebih keras?
kesalahan lama tidak berubah menjadi benar
hanya karena diulang

Ada orang yang memarahi keadaan
ada yang menyalahkan waktu
ada yang menuduh nasib
tak seorang pun bertanya kepada dirinya
"Apakah aku membawa kunci yang tepat?"

Gembok tidak pernah lahir untuk menghinamu
ia hanya setia menunggu pasangan yang sesuai
yang keras kepala bukan besi
tapi sering kali pemilik tangan

Aneh sekali
saat menghadapi pintu
semua orang mencari kunci
namun ketika menghadapi masalah
banyak yang sibuk mencari kambing hitam
seolah menyalahkan lebih mudah daripada berpikir

Kalau pintu bisa berbicara
mungkin ia akan berkata
"Aku tidak sedang menghalangimu.
aku hanya ingin tahu, 
apakah kau datang dengan cara yang benar."
betapa sederhana pelajaran itu
betapa rumit cara manusia menghindarinya

Maka berhentilah berdebat dengan tembok
berhentilah membenci gembok
berhentilah mengutuk jalan yang tertutup
sebab setiap jalan keluar
tidak lahir dari suara paling keras
melainkan dari kepala yang mau mencari kunci
sebelum menyalahkan pintu


Masamba Sul-Sel, 02/10/2021

(QS. At-Talaq [65]: 2–3)

 وَمَن يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَل لَّهُ مَخْرَجًا ۝ وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ 


Wa may yattaqillāha yaj‘al lahū makhrajā. Wa yarzuqhu min ḥaitsu lā yaḥtasib.

"Barang siapa bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan memberikan baginya jalan keluar. Dan Dia akan memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangkanya."

Sukamaju Selatan: Sebuah Catatan Dari Dermaga Hati

 
"Cinta yang sejati tidak diukur dari seberapa sering kita tertawa, melainkan dari seberapa tabah kita menanggung duka bersama. Sebab, tempat paling indah untuk berlabuh bukanlah tempat yang tanpa luka, melainkan tempat di mana kita belajar untuk tetap setia meski harus berkali-kali patah."


Sukamaju Selatan: Sebuah Catatan Dari Dermaga Hati
By: Arif Agus Bege'h


Di Sukamaju Selatan langkahku terhenti
menyapa bayang-bayang yang enggan pergi
tanah ini bukan sekadar hamparan bumi
ia adalah saksi
tempat benih cinta bersemi

Dulu, di bawah langit yang sama
kita melukis tawa di atas kanvas luka
Namun, cinta di sini tak selalu berbunga
ada banyak duka yang menyamar jadi air mata

Sukamaju Selatan
kaulah dermaga yang kupilih
tempatku menyandarkan lelah yang perih
meski perih seringkali datang tanpa permisi
di sini pula
janji-janji kupahat dalam sunyi

Banyak kisah telah karam menjadi debu
tentang rindu yang tumbuh meski harus meragu
Namun, di antara duka dan air mata yang membeku
cintamu adalah satu-satunya pelabuhan yang kutuju

Sukamaju Selatan
biarlah ia menjadi prasasti yang abadi
tempat cinta belajar untuk tidak mati
meski harus berkali-kali patah dan kembali


Masamba Sul-Sel, 08/07/2020

Daulat Di Atas Batu

Daulat Di Atas Batu
By: Arif Agus Bege'h


Matahari tepat di atas kepala
tidak ada lagi bayangan tempat bersembunyi
sebab ketakutan sudah kami injak habis di bawah telapak kaki yang legam

Kami menolak menjadi angka-angka yang patuh dalam catatan sejarah kalian
kami menolak menjadi barisan nama yang dilupakan setelah peluh diperas habis
mulai detik ini
kami adalah penentu arah mata angin!

Dengar
tanah ini bukan warisan yang bisa kau gadaikan di atas meja perundingan yang wangi
tiap jengkal tanah
tiap tetes air yang mengalir
adalah urat nadi yang berdenyut bersama nafas kami

Siapa yang berani menggoreskan duri di atas dada bumi ini
akan berhadapan langsung dengan badai yang selama ini kami simpan rapi
kami tidak pernah mencari musuh
tapi kami tahu persis cara meruntuhkan kesombongan

Saksikan hari ini!
kami runtuhkan dinding-dinding keraguan yang kalian bangun dengan narasi palsu
kalian mengira kami lemah karena kami memilih diam
padahal diamnya kami adalah cara mengumpulkan petir

Tangan-tangan kami mungkin kasar oleh kerja keras di lapangan
pakaian kami mungkin tidak berhias benang emas yang berkilau
tapi otak kami tajam
melebihi bilah pedang terdalam yang pernah ditempa sejarah

Kita tidak sedang berdiri di sini untuk meminta belas kasihan
kita tidak sedang mengemis ruang untuk sekadar bertahan hidup
kita sedang mengambil kembali
merebut dengan terhormat apa yang sejak awal adalah hak mutlak kita!

Mundur adalah haram bagi darah yang mengalir di tubuh ini
tunduk adalah bentuk khianat paling nista pada leluhur
siapa yang goyah
silakan minggir dari barisan
sebab perjalanan ini hanya menyisakan ruang bagi jiwa-jiwa yang membaja

Hari ini
langit ikut menjadi saksi
kita tegaskan satu hukum tak tertulis kepada dunia
Kami ada...!
kami berdaulat...!
dan kami tidak akan pernah bisa kalian patahkan!


Masamba Sul-Sel, 15/05/2020

AAB - Cinta Tanpa Jeda

Cinta Tanpa Jeda
By: Arif Agus Bege'h


Aku ingin mencintaimu seperti cara langit mencintai bumi
bukan dengan kepemilikan yang mengungkung dan kaku
melainkan dengan kelapangan yang membiarkanmu menjadi diri
sembari tetap menjagamu di bawah naungan atap biruku

Langit tak pernah menuntut bumi untuk berhenti berputar
ia membiarkanmu menari dengan musim
dengan hujan
dan dengan badai

Sebab ia tahu
meski kau jauh di bawah sana dan berpijar
hanya pada pelukannyalah segala cakrawalamu akan usai

Ketika kau terbangun dalam embun yang dingin merayap
akulah cahaya pertama yang menyentuh keningmu dengan lembut
dan saat kau lelah
saat mentari mulai lelap
aku akan melukis warna jingga
agar duka di hatimu segera larut

Aku ingin mencintaimu dengan cara yang paling tabah
seperti langit yang menerima segala debu dan asap dari bumi
namun tetap membalasnya dengan rintik hujan yang ramah
membasuh lukamu menghidupkan kembali mimpi yang hampir mati

Kita mungkin dipisahkan oleh jarak yang tak teraba oleh tangan
sebuah ruang hampa yang seringkali disebut sebagai 'tiada'
namun lihatlah ke atas saat kau merasa kehilangan arah dan tujuan
langit selalu di sana
tak pernah selangkah pun ia berpindah dada

Sebab mencintaimu adalah tentang menjadi saksi yang abadi
atas tumbuh kembangmu
atas runtuh dan bangkitnya jiwamu
aku adalah ruang tempatmu bernapas
tempatmu bermimpi
langit yang luas
yang selamanya akan merangkul setiap jengkal bumimu

Mencintaimu seperti langit berarti mencintai tanpa syarat
langit tidak pernah pergi meski tertutup mendung
ia hanya sedang memberi ruang
bagi bumi untuk merasakan rintik hujan


Masamba Sul-Sel, 02/01/2020

Sajak Hujan Yang Menepi

"Sebagaimana takaran obat yang harus presisi untuk menyembuhkan, begitu pula hidup; kita butuh takaran sabar yang tepat agar rasa sakit tidak menjadi luka yang abadi, melainkan menjadi hikmah yang menuntun kita pulang pada kedamaian."


Sajak Hujan Yang Menepi
By: Arif Agus Bege'h


Pagi menyapa di tanah Masamba
membawa aroma tanah basah dan sisa hujan semalam
aku meracik detik-detik menjadi kata
seperti dosis yang tepat untuk luka yang diam

Cinta bukan sekadar kata yang kuguratkan
ia adalah hujan yang jatuh di lembah ini
menyerap ke akar
meski tak terlihat oleh mata
menumbuhkan sabar di sela-sela rindu yang sunyi

Airmata—ah
biarlah ia menjadi saksi
bahwa menjadi manusia adalah perjalanan di perantauan
kita mendaki puncak kehidupan bukan untuk menaklukkan ego
tapi untuk mengerti arti pulang dan kasih yang tertitipkan

Masamba masih tenang dalam dekap cahaya
dan aku, dengan pena dan doa
menuliskan hidup yang terus bersahaja
antara syukur yang tumpah dan kasih yang terjaga


Masamba Sul-Sel, 28/07/2019