AAB - Balon Lampu Menertawakan Kita

Balon Lampu Menertawakan Kita
By: Arif Agus B


Mereka mengadakan rapat besar-besaran
agenda utamanya sederhana
mengusir semua yang berlabel negatif
seolah hidup bisa disterilkan seperti ruang operasi
seolah langit pernah berjanji
hanya akan menurunkan cuaca yang menyenangkan

Aku membawa sebuah balon lampu ke podium
ia tidak pandai berpidato
ia hanya diam sambil menggantung
tetapi diamnya lebih memalukan
daripada ribuan seminar yang menjual kiloan optimisme

Balon lampu itu seperti bertanya
"kalian ingin cahaya?"
"ha ha ha"
"lalu mengapa kalian memecat kutub yang kalian hina?"
"kalian ini aneh bin ajaib"
"kalian punya otak, tapi selalu menindas hatimu sendiri"
balon lampu itu menertawakan kita
ha ha ha

Betapa lucunya manusia
kegagalan disebut aib
air mata dianggap kebocoran karakter
kesalahan diperlakukan seperti sampah
lalu bingung
mengapa jiwanya gelap
meski rumahnya penuh slogan

Paku tidak pernah protes karena dipukul
pisau tidak marah karena terus diasah
benih tidak melaporkan tanah
kepada pengadilan karena dikubur
hanya manusia
berharap panen tanpa musim yang melelahkan
ha ha ha 

Kalian ingin laut tanpa ombak
gunung tanpa tanjakan
kitab tanpa ujian
doa tanpa penantian
lalu menyebut semua itu
sebagai definisi kehidupan yang sehat
ha ha ha

Balon lampu kembali tersenyum tipis
katanya
yang berbahaya bukan kutub negatif
yang berbahaya adalah rangkaian terputus
sebab kesombongan
lebih sering memadamkan cahaya
daripada kesedihan

Mungkin masalahnya
bukan pada hal-hal yang kalian sebut negatif
mungkin yang rusak
adalah cara kalian memberi nama
kalian menyebut proses sebagai hukuman
menyebut teguran sebagai kebencian
menyebut jeda sebagai kegagalan
ha ha ha

Jadi
sebelum sibuk mengusir segala kepahitan
cobalah bertanya kepada balon lampu
ia tidak pernah memilih hanya satu kutub
ia hanya setia menjalankan perannya
mengubah perbedaan menjadi cahaya


Mamuju Sul-Bar, 22/11/2023

AAB - Menjaga Akar Di Tanah Zaman




"Di tengah arus zaman yang menderu, tradisi bukan sekadar masa lalu, melainkan kompas bagi perjalanan kita. Puisi-puisi ini adalah napas yang menjaga agar akar bangsa tidak hanyut ditelan waktu."


Menjaga Akar Di Tanah Zaman
By: Arif Agus Bege'h


Perjalanan panjang telah menempuh usia
menyusuri zaman yang terus berubah rupa
kita tidak menolak laju mesin dan baja
namun bukan berarti melupakan jati diri yang terjaga

Hujan turun membasuh debu-debu modernitas
mengingatkan kita pada tanah yang punya identitas
tradisi adalah tepian agar sungai tak meluap liar
tempat akar berpijak agar jiwa tak pernah gusar

Seringkali airmata jatuh melihat tatanan luntur
tergerus ego yang angkuh dan kemajuan yang tak terukur
namun kita masih di sini menenun benang yang tersisa
menyimpan narasi leluhur di dalam dada yang setia

Perubahan itu niscaya
namun jangan sampai hanyut
jika identitas hilang
kita hanya akan menjadi pengembara kalut
mencari rumah di tengah megahnya beton yang dingin
kehilangan arah meski telah sampai ke puncak ingin

Maka biarlah perjalanan ini menjadi bukti nyata
bahwa inovasi dan warisan bisa berjalan seirama
hujan dan waktu akan menguji seberapa kuat kita bertahan
menjaga api tradisi tetap menyala di tengah kegelisahan

Jangan biarkan airmata penyesalan menjadi penutup kisah
karena membiarkan tradisi musnah adalah kekalahan yang parah
jadilah perisai bagi bangsa yang tetap memegang teguh martabat
agar anak cucu masih mengenali wajah negerinya yang keramat

Kita adalah penjaga yang menolak untuk lupa
menjadikan tradisi sebagai kompas di sepanjang masa


Masamba Sul-Sel, 22/11/2023

AAB - Duri Di Jalan Orang


"Puisi ini adalah pengingat bagi siapa saja yang lupa akan posisinya. Tentang keberanian untuk tahu diri, menjaga batas, dan berhenti menjadi penghalang bagi jalan hidup orang lain. Selamat meresapi."


Duri Di Jalan Orang

By: Arif Agus Bege'h



Keputusan terkunci

pintu telah tertutup rapat

tanpa suara kita

tanpa perlu lagi mufakat

tahu dirilah, saat diri tak lagi dibutuhkan

jangan jadi duri yang sengaja menghambat jalan


Perjalanan punya poros dan tupoksi sendiri

tak perlu menyisip ego merusak alur yang rapi

jika akal masih ada

mestinya kau memahami

bahwa menghalangi orang adalah nista yang hakiki


Langit kelabu

mengundang hujan jatuh ke bumi

menyapu angkuh yang angkuh dan sisa-sisa benci

biarkan mereka melaju tanpa hambatan tanganmu

sebab menjadi manusia adalah tentang tahu malu


Di ujung sesal

akhirnya jatuhlah airmata

tentang etika yang hilang di balik pintu nyata

menyingkirlah dari jalur yang bukan hakmu

sebab duri hanyalah sampah di tengah jalan ilmu


Cukupkan langkah

kembali pada porsi dirimu

biarkan mereka tenang mengejar hari yang baru

karena hidup adalah tentang menjaga tata

bukan berkuasa dengan cara yang hina semata



Masamba Sul-Sel, 13/11/2023

AAB - Tanpa Penundaan

Tanpa Penundaan
By: Arif Agus Bege'h


​Seberapa keras pun napas dihela dalam perjuangan

ketika garis takdir telah menjemput

segala daya manusia akan menjadi sunyi


Tidak ada pintu yang bisa menunda ajal

tidak ada ruang untuk negosiasi dengan waktu


​Di ambang kepasrahan itu

jangan biarkan imanmu retak hanya karena merasa terabaikan


Jangan mencari kesalahan pada mereka yang tidak mengulurkan tangan

sebab pada akhirnya

semua akan kembali sendiri-sendiri

ke hadapan-Nya.



Jakarta, 20/10/2023

AAB - Cermin Di Jalan Setapak



"Seringkali kita merasa bahwa setiap langkah yang kita ambil adalah milik kita sendiri. Namun, dalam hening yang panjang, saya menyadari bahwa jejak-jejak di depan kita bukanlah sekadar milik orang lain, melainkan guru yang membimbing agar kita tak jatuh di lubang yang sama. Berikut adalah puisi tentang perjalanan, kerendahan hati, dan cermin dari langkah-langkah yang telah lalu."


Cermin Di Jalan Setapak
By: Arif Agus Bege'h


Kita musafir yang tergesa mengejar fajar
lupa bahwa debu yang kita injak
adalah sisa perjalanan hujan dan airmata
milik mereka yang lelah sebelum sampai

Sesekali, langkah haruslah terhenti
membaca sunyi pada kaki yang pincang
menjadikan retakan di jalan orang lain
sebagai peta agar kita tak tersesat
sebab kesalahan adalah guru yang bisu
ia berdiri di tikungan yang paling tak terduga
menunggu kita mengulang langkah yang sama
di atas jalan yang tampak rata namun rapuh

Kerendahan hati adalah cara kita menatap
menjadikan jejak mereka cermin yang jujur
bahwa setiap luka yang telah mereka kecap
adalah kompas bagi jiwa yang masih gamang

Kini, berkacalah tanpa merasa lebih tinggi
karena pada akhirnya
kita hanya sedang pulang
belajar dari luka yang telah usai
agar tak perlu kita rengkuh kembali


Mamuju Sul-Bar, 22/09/2023