AAB - Jejak Yang Menagih



"Keserakahan akan produktivitas adalah bentuk pengabaian terhadap diri sendiri. Menuruti kesenangan tanpa mengenal batas, pada akhirnya akan meminta pertanggungjawaban dari tubuh kita di masa tua."

Jejak yang Menagih
By: Arif Agus Bege'h


Jemari Ibu
saksi rajin yang tak pernah lelah
merajut kasih di atas kain dan mesin tua
Lentik
ayu
tanpa keluh dalam setia

Kini jemariku menagih haknya
Setelah puluhan tahun kupacu dalam ambisi
memasak
menulis
bermain musik tanpa henti

Dokter menyebutnya overused
aku menyebutnya saksi dari keserakahan diri
menyelesaikan banyak hal lupa menabung sunyi

Kini kutahu
hobi memang memanjakan jiwa
namun tubuh juga perlu jeda
agar masa tua tak sekadar sisa
tapi sisa yang berharga


Masamba Sul-Sel, 01/01/02025 

AAB - Jangan Salahkan Cermin

Jangan Salahkan Cermin
By: Arif Agus B


Mereka mengangkat cermin setinggi langit
digosok sampai berkilau
dipoles dengan doa yang dipilih-pilih
dibersihkan memakai pendapat paling mahal
tetapi wajah yang muncul tetap saja kusut

Lalu cermin dituduh bersekongkol
katanya
pantulan sedang berlaku curang
seolah kaca memiliki agenda rahasia
seolah kejujuran
dapat disuap
dengan tepuk tangan

Aku melihat sebutir debu bertengger di pelupuk mata
kecil...
nyaris tak pantas dibicarakan
namun dari sanalah lahir gunung prasangka
jurang kesombongan
dan peta yang kehilangan utara

Betapa anehnya manusia
lebih berani mengadili bayangan
daripada memeriksa penglihatannya sendiri
lebih sibuk memperbaiki bingkai
daripada memastikan pandangannya jernih

Mereka mengganti cermin berkali-kali
model terbaru
ukuran lebih besar
harga lebih tinggi
hasilnya tetap sama saja kebohongan dipoles
menjadi keyakinan

Seekor burung hinggap di jendela
ia tidak bertanya
mengapa langit memantulkan dirinya
ia cukup terbang
ketika sayapnya siap
hanya manusia
menawar kenyataan
agar sesuai keinginannya

Kebenaran tidak pernah kehilangan wajah
yang sering berubah
hanyalah cara manusia menatapnya
debu yang dibiarkan sehari
akhirnya merasa pantas disebut penglihatan

Maka berhentilah memarahi cermin
jangan salahkan cermin
ia tidak pernah menciptakan rupa
ia hanya menolak berdusta
yang retak bukan pantulannya
melainkan keberanian mengakui diri

Pulanglah sebelum senja habis
basuh matamu
bukan kacanya
sebab dunia
tidak selalu perlu diubah
ketika yang meminta pertolongan
sesungguhnya adalah cara kita melihat


Masamba Sul-Sel, 10/06/2024

AAB - Ujian Yang Mengulang



"Tuhan masih sayang pada kita yang bodoh; Ia mengulang soal ujian yang sama, hanya agar kita tak terburu-buru menyerah pada keadaan."

Ujian Yang Mengulang
By: Arif Agus Bege'h


Tuhan masih memelukku
dalam bodoh yang panjang
mengulang soal yang sama
di atas meja ujian yang retak

Aku masih saja gagap
belum menemukan kunci jawaban di antara tumpukan tanya
Padahal, mungkin bukan soalnya yang sulit
tapi kesombonganku yang belum benar-benar karam

Jika ujian ini kembali datang
aku memilih untuk tidak menghafal jawaban
tapi belajar bagaimana cara berserah
saat pena tak lagi sanggup menuliskan apa-apa


Masamba Sul-Sel, 04/05/2024

AAB - Hakim Tanpa Kursi



"Ada sebuah kisah tentang bagaimana seorang Nabi pun pernah ditegur oleh Tuhan karena lalai dalam kelembutan. Lantas, dengan modal apa kita berani angkuh menolak memaafkan? Izinkan saya berbagi sebuah refleksi tentang syariat, ego, dan arti memaafkan."

Hakim Tanpa Kursi
By: Arif Agus Bege'h


Kita sibuk menunjuk salah
berlindung di balik dalil salah kaprah.
Padahal nabi pernah ditegur langit
karena berpaling dari hamba yang perih

Lalu siapa kita?
yang angkuh menyimpan dendam
padahal napas kita sendiri
hanyalah hutang ampunan yang belum lunas


Masamba Sul-Sel, 27/04/2024


Sajak Pengelana Yang Pulang


Sajak Pengelana Yang Pulang
By: Arif Agus Bege'h


Andai bisa ku atur ke mana rasa ini berlabuh,
takkan kusimpan ia di bilik yang tenang dan teduh.
Kubiarkan cintaku menjelma pengembara yang jauh,
menyusup ke dada para preman dan bandit yang angkuh.

Kepada penjahat yang kerap dikutuk malam,
kepada perampok yang memeluk sunyi dan kelam,
bahkan pada koruptor dengan nafsu yang dalam,
di sana cintaku mengawali perjalanan yang silam.
Bukan demi menista kesucian rasa yang kupunya,
namun di kubang hitam itu ada rahasia dunianya.

Biarlah cintaku belajar dari runtuhnya karsa,
menyaksikan bagaimana ego manusia menemui batasnya.
Hingga tiba masanya langit jiwa mereka berdarah,
menumpahkan hujan penyesalan yang tak lagi terarah.

Di saat airmata taubat membasuh wajah yang lelah,
aku 'kan datang menjemput cintaku yang telah berbenah.
Cinta itu tak lagi sama saat kuambil kembali,
ia telah disepuh nestapa, menjadi teramat sejati.

Sebuah rasa yang paham bagaimana cara mengabdi,
setelah menyaksikan hamba yang merangkak menuju Ilahi.
Maka saat ini, biarlah dadaku tetap sekokoh batu,
menutup rapat pintu dari cinta yang sekadar bertamu.

Aku belum butuh rayuan dari jiwa yang masih semu,
yang hanya mencari pelarian di setiap musim penatmu.
Aku hanya menunggu ia yang paham rahasia bertahan,
tahu kapan harus berdarah-darah maju memperjuangkan,
kapan harus berdiri teguh di tengah badai ujian,
dan kapan harus melepas jemari dengan keikhlasan.



Masamba Sul-Sel, 15/04/2024