By: Arif Agus B
Di sebuah kota
ada pintu yang usianya lebih tua
daripada para penghuni rumah
Anehnya
engsel masih tetap mengilap
tak ada goresan
tak ada debu
atau bekas telapak tangan
tak ada bunyi yang menandakan
ia pernah dibuka
Semua orang memujinya
"Indahnya"
"Kokohnya"
"Sempurna"
mereka berfoto di depannya
mereka menulis kekaguman
pada dinding-dinding percakapan
namun tak seorang pun berani
memutar gagangnya
Mereka takut
ada ruangan yang tak sesuai
dengan bayangan
takut langkah pertama lebih kecil
daripada harapan
takut gagal
padahal tak ada pintu
yang diciptakan
untuk dipandang selamanya
Ada yang menghabiskan
bertahun-tahun memoles rencana
mengukur kemungkinan
merapikan impian
hingga akhirnya
umur lebih dulu menutup jendela
sementara pintu tetap berdiri
sebagai benda yang tak pernah menjalankan takdirnya
Kesempurnaan
barangkali adalah ruang tunggu
yang paling ramai
di sana
banyak cita-cita duduk berjajar
nomornya tak pernah dipanggil
Mereka berkata
"Nanti,
kalau sudah siap ya ustads!"
padahal kesiapan
sering lahir setelah kaki berani melangkah
bukan sebelumnya
Lihatlah benih
ia tidak menunggu menjadi pohon
baru bersedia menembus tanah
Lihatlah sungai
ia tidak meminta peta sebelum mengalir
Hanya manusia
yang kerap ingin mengetahui
seluruh akhir cerita
sebelum bersedia membuka
halaman pertama
lalu waktu
diam-diam mengemasi musim
Kesempatan
berjalan keluar
tanpa menutup pintu
dan orang-orang itu masih berdiri
mengagumi kesempurnaan
yang ternyata
hanyalah nama lain dari
ketakutan yang berpakaian rapi
Masamba Sul-Sel, 15/03/2025


