AAB - Penyair Di Kolong Jembatan

Penyair Di Kolong Jembatan
By: Arif Agus Bege'h


Di sudut kedai yang riuh oleh mesin dan gawai
seorang lelaki menatap kalimat di kertas buram
dunia bergerak cepat memuja angka dan hitungan
mengejar segala yang lekas mendatangkan uang
ia tahu kata-katanya tak lagi punya harga

Dulu
sajak adalah api barisan perlawanan
peluru tak kasat mata di tengah ketidakadilan
kini, bait-bait itu menjelma pajangan bisu
dilewati orang yang bergegas mengejar setoran
"Woy, apa gunanya puisi jika tak mampu membeli beras, ha ha ha penyair goblog?"
begitulah anggapan mereka

Penyair kini terpojok di sudut zaman
diadili keadaan yang menuntut hasil nyata
mereka ditagih pertanggungjawaban yang jelas
berapa harga satu diksi untuk sesuap nasi?
pertanyaan itu menyumbat tenggorokan yang lapar

Jalanan tak butuh kertas berisi duka jelata
sebab kaum miskin sibuk mencari rupiah
buruh pabrik pulang dengan pundak yang remuk
tak ada waktu membaca kalimat
tentang nasib yang salah
sajak-sajak itu mengambang tanpa guna

Di ruang rapat
orang berdebat arti keindahan
di luar
penggusuran berjalan tanpa kasihan
puisi tak mampu menahan besi buldozer
pun tak bisa memberi makan kami di kolong jembatan
tinta mengalir kalah oleh kenyataan pahit

Mereka dituduh pemalas yang memelihara mimpi
hidup dalam kesedihan tanpa menghasilkan apapun
sumbangan mereka dinilai nol dalam hitungan uang
di mana setiap tenaga harus menjadi keuntungan
penyair itu asing di tanah kata-katanya sendiri

Namun di kolong jembatan yang kumuh dan pengap
penyair itu tetap menulis tanpa mengharap upah
ia bukan lagi pemimpin yang membawa perubahan
melainkan orang yang mencatat luka agar tak kehilangan jiwa
salah satu cara terbaik menjaga hati tetap hidup


Masamba Sul-Sel, 07/06/2025

AAB - Benteng Berdaulat


Benteng Berdaulat

By: Arif Agus Bege'h



Aku mempertebal dinding ego ini
bukan untuk menantang badai atau melukai
melainkan mendirikan benteng sunyi,
tempat prinsip berdiri tegak menghalau tirani
Di bawah sana
kelicikan dunia menganga
merayap dengan cakar-cakar tipu daya
namun takkan menyentuh mahkota jiwa
selama pondasi nilai diri masih terjaga
Benteng ini tidak mengurung langkahku
ia hanya menyaring siapa yang berhak bertamu,
menjaga hal-hal berharga di dalam dadaku
agar tidak dijarah oleh bisingnya waktu



Masamba Sul-Sel, 22/05/2025

Sajak Istigfar Kadaluarsa

 

"Kita adalah seniman ulung yang pandai bersandiwara. Mulut sibuk mengetuk pintu ampunan, sementara hati diam-diam sedang merancang jadwal dosa untuk esok hari. Sebuah tamparan untuk diri saya sendiri... Istigfar Kedaluwarsa."

Istigfar Kedaluwarsa
By: Arif Agus Bege'h


Mulutku begitu fasih mengucap istigfar
setelah noda hitam selesai kurajut dalam gelap
air mata buatan menetes di atas sajadah
berpura-pura menyesali khilaf yang telanjur nikmat

Namun di sudut hati yang paling sunyi
sebuah bisikan iblis justru sedang menari
ia membatin dengan sangat riang:
"Besok sore, seru juga kalau diulangi lagi."

Sungguh komedi iman yang tak tahu malu
meminta ampunan hanya untuk mengosongkan ruang
agar dosa berikutnya punya tempat yang lapang
untuk kembali ditimbun tanpa rasa ngeri

Aku menjadikan taubat sebagai masa jeda
bukan akhir dari sebuah perjalanan sesat
meremehkan murka Sang Maha Mengetahui
seolah neraka hanyalah cerita fiksi penakut

Tuhan
runtuhkan keangkuhan tobat yang palsu ini
sebelum ajal datang memutus kontrak maksiat
ganti debar haram di dada ini
menjadi ketakutan yang jujur pada siksa-Mu


Masamba Sul-Sel, 24/04/2025

AAB - Bukan Sekedar Berani


"Janganlah menilai seseorang hanya dari seberapa besar keberaniannya dalam mengambil risiko. Nilailah ia dari seberapa besar keberaniannya untuk mengakui kesalahan dan memperbaiki keadaan saat pilihannya tidak berjalan sesuai rencana. Keberanian yang sejati tidak lari saat ia salah; ia berdiri, menerima, dan belajar."

Bukan Sekadar Berani
By: Arif Agus Bege'h


Di rimba nasib yang liar dan buta
keberanian hanyalah gerak naluri
melompat tanpa tanya menerjang tanpa jeda
seperti binatang yang tak kenal hari nanti
hanya lapar dan ingin yang membakar diri

Namun menjadi manusia adalah soal lain
tentang berdiri tegak saat badai menghantam
bukan sekadar berani memecah batin
tapi berani memeluk luka yang terpendam
dan menanggung beban di tengah malam yang kelam

Sebab keberanian tanpa pikul tanggung jawab
hanyalah debu yang diterbangkan angin sesaat
tampak gagah di permukaan namun kosong di jawab
menyisakan puing penyesalan yang terpahat
pada jejak kaki yang hilang sebelum sempat melihat

Kita adalah pengemudi atas pilihan sendiri
keberanian hanyalah akselerasi di atas aspal
tapi tanggung jawablah yang menjaga kemudi
agar tak karam di jurang yang paling dangkal
saat ego berteriak
namun nurani harus menangkal

Maka jika kau tanya apa itu sejati berani
ia bukan tentang siapa yang paling cepat melaju
tapi siapa yang tersisa berdiri di ujung sini
ketika konsekuensi menagih janji yang dulu terpaku
berani berbuat
berani menanggung restu waktu


Palopo Sul-Sel, 07/04/2025

AAB - Ketakutan Yang Berpakaian Rapi

Ketakutan Yang Berpakaian Rapi
By: Arif Agus B


Di sebuah kota
ada pintu yang usianya lebih tua
daripada para penghuni rumah

Anehnya
engsel masih tetap mengilap
tak ada goresan
tak ada debu
atau bekas telapak tangan
tak ada bunyi yang menandakan
ia pernah dibuka

Semua orang memujinya
"Indahnya"
"Kokohnya"
"Sempurna"
mereka berfoto di depannya
mereka menulis kekaguman
pada dinding-dinding percakapan
namun tak seorang pun berani
memutar gagangnya

Mereka takut
ada ruangan yang tak sesuai
dengan bayangan
takut langkah pertama lebih kecil
daripada harapan
takut gagal
padahal tak ada pintu
yang diciptakan
untuk dipandang selamanya

Ada yang menghabiskan
bertahun-tahun memoles rencana
mengukur kemungkinan
merapikan impian
hingga akhirnya
umur lebih dulu menutup jendela
sementara pintu tetap berdiri
sebagai benda yang tak pernah menjalankan takdirnya

Kesempurnaan
barangkali adalah ruang tunggu
yang paling ramai
di sana
banyak cita-cita duduk berjajar
nomornya tak pernah dipanggil

Mereka berkata
"Nanti,
kalau sudah siap ya ustads!"
padahal kesiapan
sering lahir setelah kaki berani melangkah
bukan sebelumnya

Lihatlah benih
ia tidak menunggu menjadi pohon
baru bersedia menembus tanah

Lihatlah sungai
ia tidak meminta peta sebelum mengalir

Hanya manusia
yang kerap ingin mengetahui
seluruh akhir cerita
sebelum bersedia membuka
halaman pertama
lalu waktu
diam-diam mengemasi musim

Kesempatan
berjalan keluar
tanpa menutup pintu
dan orang-orang itu masih berdiri
mengagumi kesempurnaan
yang ternyata
hanyalah nama lain dari
ketakutan yang berpakaian rapi


Masamba Sul-Sel, 15/03/2025