AAB - Sang Pengemudi Waktu



"Jangan menyesali rute yang salah, karena setiap tikungan adalah guru bagi sang pengemudi. Kedewasaan bukanlah tentang ke mana kendaraan itu melaju, melainkan tentang seberapa tenang hati kita saat memegang kendali di tengah badai."

Sang Pengemudi Waktu
By: Arif Agus Bege'h


Tubuh ini hanyalah raga yang diam
namun kepribadian adalah ruh yang bergerak
ia sang pengemudi yang menempuh jalan
melewati terjalnya usia dan curamnya pengalaman

Kita tak pernah benar-benar sampai
karena setiap kilometer mengubah cara pandang
pengemudi hari ini bukan lagi diri yang dulu
ia telah ditempa oleh badai dan teduhnya senja

Tak perlu mencari kemiripan di jalanan
sebab setiap jiwa memiliki peta yang unik
biarkan dirimu melaju dengan caramu sendiri
karena keindahan perjalanan terletak pada kendali yang berani


Morowali Sul-Teng, 17/08/2025 

AAB - Fatamorgana Sebuah Batas

 


"Saat kita berkata 'kesabaran ada batasnya', sebenarnya kita sedang menutup pintu-pintu rezeki. Sebab rezeki mencari jiwa yang sanggup meluaskan cakrawala hati."

Fatamorgana Sebuah Batas
By: Arif Agus Bege'h


Sabar bukan bejana terbatas
bukan pula titik yang lekas tumpah
batas itu hanyalah fatamorgana
garis ego yang kita lukis sendiri

Saat kau sebut sabar berbatas
kau sedang mengunci pintu rezeki
sebab berkah enggan memeluk jiwa
yang berhenti di tepian lelah

Rezeki mencari hati yang luas
menunggu sabar yang tak bertepi
bukan untuk mereka yang menyerah
saat ujian datang menyapa diri

Kesabaran adalah perjalanan panjang
bukan pemberhentian yang semu
meluaslah melampaui logika sempit
agar semesta memberi jalan pulang

Jangan batasi sabarmu hari ini
karena setiap inci yang kau luaskan
adalah pintu berkah yang terbuka
membuka jalan bagi rezeki tak terduga


Batas Sulsel - Sulteng, 11/07/2025

AAB - Penyair Di Kolong Jembatan

Penyair Di Kolong Jembatan
By: Arif Agus Bege'h


Di sudut kedai yang riuh oleh mesin dan gawai
seorang lelaki menatap kalimat di kertas buram
dunia bergerak cepat memuja angka dan hitungan
mengejar segala yang lekas mendatangkan uang
ia tahu kata-katanya tak lagi punya harga

Dulu
sajak adalah api barisan perlawanan
peluru tak kasat mata di tengah ketidakadilan
kini, bait-bait itu menjelma pajangan bisu
dilewati orang yang bergegas mengejar setoran
"Woy, apa gunanya puisi jika tak mampu membeli beras, ha ha ha penyair goblog?"
begitulah anggapan mereka

Penyair kini terpojok di sudut zaman
diadili keadaan yang menuntut hasil nyata
mereka ditagih pertanggungjawaban yang jelas
berapa harga satu diksi untuk sesuap nasi?
pertanyaan itu menyumbat tenggorokan yang lapar

Jalanan tak butuh kertas berisi duka jelata
sebab kaum miskin sibuk mencari rupiah
buruh pabrik pulang dengan pundak yang remuk
tak ada waktu membaca kalimat
tentang nasib yang salah
sajak-sajak itu mengambang tanpa guna

Di ruang rapat
orang berdebat arti keindahan
di luar
penggusuran berjalan tanpa kasihan
puisi tak mampu menahan besi buldozer
pun tak bisa memberi makan kami di kolong jembatan
tinta mengalir kalah oleh kenyataan pahit

Mereka dituduh pemalas yang memelihara mimpi
hidup dalam kesedihan tanpa menghasilkan apapun
sumbangan mereka dinilai nol dalam hitungan uang
di mana setiap tenaga harus menjadi keuntungan
penyair itu asing di tanah kata-katanya sendiri

Namun di kolong jembatan yang kumuh dan pengap
penyair itu tetap menulis tanpa mengharap upah
ia bukan lagi pemimpin yang membawa perubahan
melainkan orang yang mencatat luka agar tak kehilangan jiwa
salah satu cara terbaik menjaga hati tetap hidup


Masamba Sul-Sel, 07/06/2025

AAB - Benteng Berdaulat


Benteng Berdaulat

By: Arif Agus Bege'h



Aku mempertebal dinding ego ini
bukan untuk menantang badai atau melukai
melainkan mendirikan benteng sunyi,
tempat prinsip berdiri tegak menghalau tirani
Di bawah sana
kelicikan dunia menganga
merayap dengan cakar-cakar tipu daya
namun takkan menyentuh mahkota jiwa
selama pondasi nilai diri masih terjaga
Benteng ini tidak mengurung langkahku
ia hanya menyaring siapa yang berhak bertamu,
menjaga hal-hal berharga di dalam dadaku
agar tidak dijarah oleh bisingnya waktu



Masamba Sul-Sel, 22/05/2025

Sajak Istigfar Kadaluarsa

 

"Kita adalah seniman ulung yang pandai bersandiwara. Mulut sibuk mengetuk pintu ampunan, sementara hati diam-diam sedang merancang jadwal dosa untuk esok hari. Sebuah tamparan untuk diri saya sendiri... Istigfar Kedaluwarsa."

Istigfar Kedaluwarsa
By: Arif Agus Bege'h


Mulutku begitu fasih mengucap istigfar
setelah noda hitam selesai kurajut dalam gelap
air mata buatan menetes di atas sajadah
berpura-pura menyesali khilaf yang telanjur nikmat

Namun di sudut hati yang paling sunyi
sebuah bisikan iblis justru sedang menari
ia membatin dengan sangat riang:
"Besok sore, seru juga kalau diulangi lagi."

Sungguh komedi iman yang tak tahu malu
meminta ampunan hanya untuk mengosongkan ruang
agar dosa berikutnya punya tempat yang lapang
untuk kembali ditimbun tanpa rasa ngeri

Aku menjadikan taubat sebagai masa jeda
bukan akhir dari sebuah perjalanan sesat
meremehkan murka Sang Maha Mengetahui
seolah neraka hanyalah cerita fiksi penakut

Tuhan
runtuhkan keangkuhan tobat yang palsu ini
sebelum ajal datang memutus kontrak maksiat
ganti debar haram di dada ini
menjadi ketakutan yang jujur pada siksa-Mu


Masamba Sul-Sel, 24/04/2025