AAB - Sejuk Di Antara Gersang

 


Sejuk Di Antara Gersang
By: Arif Agus Bege'h


Di batas langit yang berarak kelabu
Ia turun tanpa sepatah ragu
tak ada protes pada putaran waktu
saat takdir membawa rintik menyentuh debu

Ia hadir di kala bumi tak menduga
menghapus duka
membasuh lara yang lama
sebuah berkah yang mengalir bersahaja
menjadi saksi tentang arti sebuah setia

O... Hujan di bulan Juni yang sunyi
mengajarkan tabah dalam sepi yang mulia
membawa sejuk di antara gersang dunia
meski hadirmu tak pernah diduga

Dalam sunyi yang mulia
hujan pun mereda


Masamba Sul-Sel, 02/06/2026

AAB - Mata Angin Persatuan

 


Mata Angin Persatuan
By: Arif Agus Bege'h


PANCASILA ADALAH CERMIN EGO YANG MELUNAK!
Sebuah ruang tempat kepala-kepala batu menunduk takzim
tempat amarah dan keserakahan diredam oleh rasa yang rukun
Ia mengingatkan kita bahwa di Indonesia
'AKU' baru akan bermakna jika ia meluhur menjadi 'KITA'!

Sebab apalah arti sebatang lidi tanpa ikatan?
apalah arti sekerat batu tanpa fondasi bangunan?
di tanah ini
kemegahan diri adalah kesia-siaan
jika saudaramu masih merangkak dalam ketertinggalan

PANCASILA ADALAH KOMPAS!
Penunjuk arah ketika peta dunia mulai buram dan bias
pemberi sauh ketika ombak modernitas menghantam cadas
agar bangsa ini TIDAK kehilangan arah di tengah badai zaman!
menolak karam
menolak tunduk pada perpecahan

Mari rapatkan barisan luruskan pandangan
memastikan kita TETAP BERJALAN BERIRINGAN
bukan sebagai asing yang saling mengancam
melainkan dengan hati yang damai
dan harmoni yang TERJAGA!


Masamba Sul-Sel, 01/06/2026

AAB - Elegi Bocah di Jantung Kota

 

"Kemegahan sebuah kota tidak diukur dari tingginya gedung-gedung pencakar langit atau gemerlap lampunya, melainkan dari bagaimana kota itu memperlakukan jiwa-jiwa yang paling rapuh di sudut-sudutnya."

Elegi Bocah di Jantung Kota

By: Arif Agus Bege'h



Rintihan anak yang terbuang di alon-alon kota

Ia menjerit

seakan hidup tak lagi bermakna

malam dingin menghujam sekujur tubuh yang dipaksa renta

dalam renungan ia berbisik:

sengsara hanyalah baka, membawa luka


Lampu-lampu kota berpijar begitu megah

namun tak satu pun sinarnya mampu

menyeka air mata yang tumpah

Ia meringkuk di antara tumpukan sepi dan bising jalanan

menatap dunia yang berlari

meninggalkan dirinya dalam lupakan


Di bawah langit malam yang tak lagi punya rasa iba

tangan kecilnya gemetar

meraba dada yang sarat kecewa

besok pagi kota ini akan kembali

terjaga dan tertawa tanpa pernah peduli

pada jiwa yang perlahan mati di sudutnya



Masamba Sul-Sel,  23/05/2026