AAB - Arsip Abadi
Arsip Abadi
By: Arif Agus B
Aroma tiner dan cat minyak menguap di udara
ku tutup rapat jendela kayu yang mulai rapuh
menolak bising klakson kota yang merusak fokus kerja
Di bawah temaram lampu pijar seratus watt
jemariku menari
menorehkan cairan pengawet pada kanvas basah
menangkap sisa-sisa napas terakhir yang hampir punah
Lembar demi lembar waktu perlahan membeku
denyut nadi melambat
tergantikan guratan pigmen yang pekat
seluruh penyesalan masa lalu
ku kunci di balik bingkai mahoni
Ku pandangi mahakarya yang terpajang di sudut sunyi
begitu anggun
sempurna
dan tak akan pernah menua
Keindahan fana yang dahulu mudah rapuh
kini menjelma abadi
Persetan dengan hukum alam
persetan dengan pembusukan
selamat datang di galeri kesunyian yang tak berujung
Di ruangan ini
akulah sang penguasa tunggal
menciptakan dunia dari kuas yang berlumur obsesi
mengubur penuaan di bawah lapisan pernis yang berkilau
Detak jarum jam dinding terdengar kian menjauh
namun ego ini telah menemukan rumahnya
Di dalam dimensi visual ini
aku mengunci waktu
menjadi pencipta keindahan absolut
membiarkan dunia luar runtuh menjadi debu
Masamba Sul-Sel, 10/07/2026
AAB - Janji Di Atas Podium
Janji Di Atas Podium
By: Arif Agus B
Hari itu
beratus mulut berteriak
bersumpah
membakar semangat dengan narasi tentang kesejahteraan
entah masa depan apa yang mereka janjikan
heran aku mendengarnya
Aku tak sudi lagi percaya
sebab orasi mereka telah menjelma fatamorgana
mengaburkan kenyataan
harapan dan keadilan
Paling hanya jelang pemilihan mereka peduli
pekikan kalian mengotori harapan rakyat kecil
suara penuh kepalsuan
jargon kosong dan pencitraan
Muak rasa telingaku
enggan aku ikut bersorak
bertepuk tangan di balik panggung baliho raksasa
berpayung kemewahan partai
Sikapku saat ini diam tanpa gerakan
namun nalar
kritik
marah
kecewa
kesadaranku
bergemuruh bagai gempa yang tak mampu meretakkan tanah di waktu fajar dan senja
mengapa kalian menipu jelata?
Basi...
tak sudi kutelan bualan manis para penguasa
meskipun kalian menang dan bersuka cita aku tetap bertahan di sini, dan roda nasib akan terus berputar
Telah kuabaikan rayuan kalian sebelum kalian berkuasa
sebab aku adalah akar aku adalah gunung
di bawah pijakanku
kuasa kalian takkan menggetarkan
Masamba Sul-Sel, 08/07/2026
Mantera Sembongkem
Mantera Sembongkem
By: Arif Agus B
Gerhana tipis menyapu ufuk yang memerah
tanah mengeras di bawah jejak kaki yang diam
aku berdiri tegak membawa segenggam mantra bumi
Sembongkem, si bongkem
kupanggil hening dari sudut paling sepi
lipatlah lidah yang bersiap melepas fitnah
redamlah bara amarah yang bergolak di dada lawan
Eeem...meng-emeng...
dunia mendadak sunyi
kehilangan seluruh gaungnya
menyisakan desau angin yang tak bertepi
Kunci Allah, gembok Allah
pintu-pintu ucapan kini telah terpasang pasak besi
tak akan mampu bergetar walau digertak badai
tak akan pecah menjadi kalimat yang mengancam
Tup tutup batur perem musuh
matamu mendadak kosong dan gamang
kata-katamu luruh
menjelma debu sebelum terucap
lumpuh segala niat buruk di hadapan wibawaku
Ndek buek muni, ndek buek ngeraos
kunci lidahmu yang tajam
kancing rapat pertemuan ini
hingga tak ada lagi celah untuk berdusta
Kene ajian sembongkem bunge
Maka tunduklah segala yang liar di bawah langit
redahlah sengketa lama yang membakar hati
biarkan jagat raya menjadi saksi bisunya kata
Udara membeku di antara kita
suara-suara bising meleleh menjadi hening
kau terpaku tanpa daya
menyerah pada kekuatan sakral yang merayap
Bismillahirrohmanirrohim...
sembongkem, si bongkem
eeem...meng-emeng...
kunci Allah, gembok Allah
tup tutup batur perem musuh
ndek buek muni, ndek buek ngeraos
kene ajian sembongkem bunge
ndenaara’ ku kuasani
kuasani Alah
em... (Roma/Ani) puah
ante teperiri, ante tepiara
mbe-mbe muter
mbe-mbe meco
keme’ te balit
keme’ te slametang
Berkat Lailahaillallah Muhammadarrasulullah
Masamba Sul-Sel, 02/07/2026
AAB - Menunda Muara
By: Arif Agus B
Jangan biarkan rindu itu tuntas sekarang
biarkan ia mengendap
menjadi rahasia yang paling gigih
di dalam dada kita masing-masing
Kau mengambil jalan ke utara
aku melangkah menuju selatan
kita adalah sepasang pengembara
pada dua setapak yang sengaja berjauhan
Tak perlu terburu-buru melipat jarak
waktu tahu cara merawat jeda
menghitung detak demi detak
sebelum ingatan benar-benar menjadi usang
Lalu, di sebuah tikungan yang tak terduga
tepat di penghujung hari yang lelah
langkah kita akan mendadak berhenti
menemukan ujung dari labirin yang sama
Di sanalah kisah kita akan diringkas
ketika langit mendadak luruh
menyatukan seluruh sisa tunggu
menjadi satu dengan hujan dan airmata
Masamba Sul-Sel, 01/07/2026
Langganan:
Postingan (Atom)




