AAB - Belati Di Tanganmu
AAB - Pion
AAB - Sisa Rindu Semalam
AAB - Metafisika Pulang
By: Arif Agus Bege’h
Kita adalah peziarah di dalam waktu
meminjam sekejap napas dari semesta yang kelu
berdiri di atas tanah yang terus menua dan runtuh
membawa raga yang perlahan luruh
Waktu adalah arsitek yang sunyi membangun
batas di setiap jengkal ilusi
ketika suara membeku dan ego mencair
kita tersadar, fana adalah muara akhir
Sesak ini bukanlah sebuah ketakutan
melainkan benturan kesadaran dan keterbatasan
bahwa setiap entitas yang meruang dalam temu
pasti melebur kembali pada ketunggalan yang rindu
Materi akan kembali menjadi debu kosmis
air mata menguap dari sejarah yang tragis
namun substansi jiwa tak pernah benar-benar
mati ia bersemayam dalam doa, melampaui dimensi hari
Maka eksistensi ini adalah ruang pengisian
bukan tentang durasi, tapi tentang esensi kebaikan
sebab sebelum takdir menutup pintu tanpa mengetuk
pastikan jejakmu telah bermakna bagi semesta yang merunduk
Tarailu Sul-Bar, 29/11/2009
Puisi AAB : Kesedihan Palsu
By : Arif Agus Bege'h
esok
berjuta manusia menangis, meratap
dengan datangnya hari yg penuh bahagia (Idhul Adha)
entah apa yang mereka tangisi
bingung aku jadinya
kutak lagi brsedih
sebab mereka telah memberikan lautan air mata
meneggelamkan ketulusan
keikhlasan
kesucian
ahh
paling hanya esok saja mereka menangis
tangisanmu menodai lautan kesedihan
air mata kepura-puraan
kebohongan
kemunafikan
uuuaakkk
muak aku jadinya
tak ingin seperti mereka
menangis di balik tirai bersulam emas
bermahkota mutiara
airmataku saat ini kering tak dapat menetes
tapi jantungku
hatiku
jiwaku
ragaku
arwahku
menjerit bagaikan petir yang tak dapat menurunkan hujan di malam dan siang hari
mengapa kau menangis
cuiih....
tak sudi kuminum airmata buaya
meskipun kau bersedih dan menangis aku tetap di sini
kutelah memaafkanmu sebelum kalian meminta maaf
sebab aku adalah angin aku adalah air
disini kalian tak berbekas
Tarailu Sul-Bar, 26/11/2009