AAB : Jejak Langkah Pilar Tarantula


Sebuah refleksi mendalam tentang hubungan manusia, alam, dan nilai persaudaraan

Jejak Langkah Pilar Tarantula
By: Arif Agus Bege'h


Di bawah tajuk rimbun yang meraksasa
kami berdiri, menyatukan detak dan doa
bukan sekadar raga yang melangkah maju
namun jiwa yang terpanggil oleh sunyi yang menderu

Pilar Tarantula, begitulah kami menamakan diri
seperti kaki-kaki kokoh yang merayap di sela duri
tak gentar pada tebing yang menjulang angkuh
tak surut pada jalur yang membuat lutut mengeluh

Carrier di pundak adalah beban yang nikmat
menyimpan cerita tentang peluh dan tekad yang bulat
menembus kabut pagi yang membelai rona wajah
mencari makna di antara akar dan tanah yang basah

Saat senja mulai melukis jingga di ufuk barat
kami berbagi tawa di balik kepul asap kopi yang hangat
di sana, di ketinggian yang memisahkan kita dari bising kota
dunia terasa jujur, tanpa topeng maupun kasta

Pilar ini takkan goyah oleh badai yang menerjang
tarantula ini akan terus mendaki, terus berjuang.
karena bagi kami, puncak hanyalah sebuah bonus
namun perjalanan dan persaudaraan adalah yang abadi dan tulus

Menyusuri belantara, menjaga alam dengan cinta
kami pulang membawa rindu, untuk kembali menyapa semesta


Makassar, 29/01/2017

Pesan
:
"Alam tidak butuh penakluk; ia butuh penjaga yang berjalan dengan hati."

AAB - Lampu Kuning Kata Orang

Jadikan 'kata orang' sebagai lampu kuning untuk waspada, bukan lampu merah yang menghentikan langkahmu.

Lampu Kuning Kata Orang
By: Arif Agus Bege'h


Hati-hati, kata orang
Kata orang, hati-hati
sebuah kalimat yang menjelma lampu kuning
bukan rambu untuk berhenti
melainkan jeda untuk menimbang diri

Jangan melarang dengan kata orang
jangan jadikan bisik-bisik itu lampu merah yang mengunci langkah
sebab ketakutan mereka bukanlah batas jalanmu
dan ragu mereka bukanlah penentu takdirmu

Kita adalah pengembara yang tak pernah sama
berjalan di atas tanah dengan detak jantung yang berbeda
apa yang menciderai mereka
mungkin adalah jalan pulang bagimu


Makassar, 22/11/2016

AAB - Sumpah Kita


"Sumpah Pemuda bukanlah rantai yang mengikat leher, melainkan api yang harus terus dijaga agar tidak padam oleh apatisme zaman."

Sumpah Kita
By: Arif Agus Bege'h


Apakah kau tau apa itu sumpah?
bukan, bukan sekadar kata yang jatuh di atas tanah
bukan pula deretan huruf yang disusun rapi
lalu dibiarkan mati di ruang-ruang sunyi

Apakah kau tau apa itu pemuda?
bukan, bukan hanya tentang usia yang masih muda
bukan tentang tenaga yang meluap di dada
tapi tentang nyala api yang menjaga bangsa

Apakah kau pernah bersumpah?
dengan darah
dengan keringat
dengan langkah
di atas janji yang kau ikat sendiri
sebelum waktu mengikisnya hari demi hari

Apakah kau seorang pemuda?
jika jiwa hanyalah cermin yang retak
mengikuti arus tanpa pernah berteriak
dan membiarkan makna hanyut di telan masa

Apakah kau tau apa itu Sumpah Pemuda?
bukan sekadar sejarah yang kau hafal di sekolah
bukan pula seremoni yang megah namun lemah

Sumpah Pemuda itu adalah salah satu pemaksaan ikrar
yang memaksa kita untuk sadar
bahwa di atas perbedaan yang menjauhkan
ada satu janji yang harus kita tumpahkan
satu tanah air
satu bangsa
satu bahasa

Namun kini
apakah ikrar itu masih hidup
atau hanya menjadi fosil yang masih terus kita peluk?


Makassar, 28/10/2016

AAB - Penyair Karbitan

Penyair Karbitan
By: Arif Agus B


Istilah itu jatuh
"Karbitan!"
suara paling nyaring
akal paling pendek

Ibu memeram pisang
ayah menunggu aroma
karbit bekerja
kebun tetap diam

Semalam
kulit berubah
warna bersorak
akar belum selesai

"Jangan cepat menilai!"
seru seseorang
lidah sering matang
isi kepala masih mentah

Karbit cuma benda
pisang cuma buah
vonis lahir
dari mulut manusia

Aneh
buah dipersalahkan
alat diadili
pemakai bertepuk tangan

Banyak tepuk
sedikit panen
banyak gelar
sedikit tumbuh

Puisi bukan bedak
nama bukan mahkota
usia halaman
bukan ukuran musim

Matang meminta waktu
bijak meminta luka
penyair meminta hidup


Makassar, 10/02/2016

AAB - Memilih Sepi Bersamamu


Memilih Sepi Bersamamu
By: Arif Agus Bege'h


Aku memilihmu!
Bukan karena aku bosan disebut sebagai sunyi yang mencari ketenangan!
Bukan pula karena aku sepi yang meratap tanpa teman!
Tidak!

Aku berdiri di sini,
Bukan untuk berlari dari bayang-bayang,
Bukan untuk mengemis penawar sepi yang datang.
Aku adalah sunyi itu sendiri!
Dan aku tidak pernah takut pada hening yang abadi!

Namun hari ini, dengarkan!
Aku memilihmu,
Karena aku ingin menjalani sunyi dan sepi ini—
Bersamamu!
Dua jiwa yang saling menggenapi dalam keheningan yang megah!

Kita adalah orang-orang yang telah dipilih!
Oleh garis takdir,
Oleh jalan cerita yang telah lama menanti,
Yang telah lama mengalir,
Untuk segera dikisahkan kepada dunia!

Maka biarkan sepi ini menjadi gemuruh!
Biarkan sunyi ini menjadi saksi yang kukuh!
Aku dan kamu,
Menantang takdir, menuliskan kisah kita sendiri


Makassar Sul-Sel, 01/01/2016.