Di Balik Perjalanan
By: Arif Agus Bege'h
Aku bukan guru yang merangkai diksi
aku adalah luka dan air mata yang terus berjalan
menikmati hidup di sela rindu dan cinta
menemukan Tuhan pada tiap ciptaan
sebagai bentuk penghambaan paling dalam
Jika kau terdampar di ujung harapan yang karam
jangan mencari sandaran pada sesama
sebab mereka pun sama-sama sedang terluka
temuilah Sang Pencipta di sepertiga malam
saat sunyi menjadi jembatan paling karib
Bicaralah pada-Nya lewat monolog doa
tumpahkan keluh tanpa sisa penyesalan
sebab manusia tak perlu tahu segala lukamu
cukup jadikan puisi sebagai satu-satunya wadah
tempat segala perihmu menetap dan bernapas
Tak perlu menuntut jawaban atas takdir
cukup mintalah kekuatan untuk tetap tegak
meski badai dunia terus mencoba mematahkan
biarkan Dia memeluk jiwamu yang koyak
hingga isakmu berubah menjadi syukur
Sebab di sini aku pun sedang belajar
menjadikan air mata sebagai tinta abadi
menikmati kepedihan sebagai perjalanan
menuju rumah terakhir di mana segala lelah
akhirnya melebur dalam sujud yang pasrah
Mamuju Sul-Bar, 03/03/2023
AAB - Di Balik Perjalanan
0"Di dunia yang terlalu sering dimabuk oleh retorika, kita kerap lupa bahwa kata-kata hanyalah kulit. Kebijaksanaan sesungguhnya tidak lahir dari apa yang diucapkan, melainkan dari apa yang diperjuangkan dalam sunyi. Inilah sebuah pengingat untuk kita semua."
Di Balik Kata
By: Arif Agus Bege'h
Jangan kau ukir kebijaksanaan seseorang
hanya dari indahnya untaian kata yang ia bentang
sebab lidah seringkali menari lebih lincah
menutup celah yang kosong di dalam dada
Kebijaksanaan bukanlah hiasan bibir yang dipoles rapi
ia adalah akar yang tertanam dalam buah pikiran
ia adalah jejak nyata yang tertinggal dalam tindakan
Sebuah janji yang dibuktikan bukan hanya yang disuarakan
Lihatlah bagaimana ia melangkah di tengah badai
lihatlah bagaimana ia bersikap saat tak ada yang memuji
sebab di situlah cermin yang paling jujur
tempat karakter diuji dan martabat diukur
Jangan mudah terpesona pada kemilau retorika
karena yang palsu akan luntur oleh waktu
namun integritas
ia akan tetap tegak
menjadi saksi bisu dari jiwa yang benar-benar bijak
Mamuju Sul-Bar, 15/02/2023
AAB - Di Balik Kata
0"Hidup bukan tentang seberapa cepat kita mencapai garis akhir, melainkan tentang seberapa dalam kita memaknai setiap napas yang kita ambil. Di tengah derasnya perubahan zaman, kadang kita perlu berhenti sejenak, membiarkan kenangan membasuh luka, dan kembali mengumpulkan doa. Berikut adalah bait-bait yang saya tulis sebagai pengingat bagi diri sendiri."
Dawai Waktu
By: Arif Agus Bege'h
Di beranda waktu
aku menakar sisa jejak
saat usia kian deras membawa cerita
perjalanan ini tak selalu ramah
namun bara di dada enggan menyerah
Seringkali kenangan menjelma hujan
membasuh getir yang tertinggal di ingatan
aku tak lagi memusuhi perih yang hadir
sebab di sana
aku belajar mendewasa
Jika langkahku kini mulai melambat
bukan berarti airmata menumpulkan niat
Ini hanya jeda untuk memanen doa
agar esok mampu berpijak lebih kokoh
Biarlah nasib bergulir sesuai takdirnya
aku tetap memegang teguh komitmen diri
menjaga api harapan tetap menyala
meski jalan yang kutempuh kian sunyi
Kelak saat rambut memutih dimakan zaman
aku ingin tetap tegar menyambut senja
sebab hidup bukan tentang cepatnya tiba
melainkan tetap bertahan hingga titik akhirnya
Mamuju Sul-Bar, 01/01/2023
AAB - Dawai Waktu
0BIODATA PENULIS
Data Pribadi
Nama Asli: Agus Supriadi, S.Farm
Nama Pena: Arif Agus Bege'h
Tempat, Tanggal Lahir: Masamba, Luwu Utara, Sulawesi Selatan, 22 November 1980
Silsilah: Putra pertama dari pasangan (Alm.) Muhammad Take dan (Alm.) Marni
Profil Singkat
Agus Supriadi, S.Farm, yang lebih dikenal di dunia literasi dengan nama pena Arif Agus Bege'h, merupakan seorang apoteker sekaligus pegiat sastra kelahiran Masamba, Luwu Utara. Lahir pada 22 November 1980 sebagai putra sulung, ia berhasil memadukan latar belakang keilmuan farmasi yang sistematis dengan kepekaan rasa yang dituangkan melalui untaian kata.
Langkah kepenulisannya di dunia sastra, khususnya puisi, dimulai sejak tahun 2009. Selama belasan tahun mendedikasikan diri dalam dunia kata, ia secara konsisten merajut karya yang berpusat pada rekam jejak perjalanan kisah hidup yang dihadapi, serta filosofi tentang hujan dan air mata. Bagi Arif Agus Bege'h, hujan, air mata, dan dinamika hidup adalah elemen-elemen yang saling mengalir—menjadi sumber inspirasi terdalam untuk menangkap kesedihan, ketabahan, dan harapan manusia.
Selain aktif menggoreskan pena, ia juga dikenal sebagai sosok yang berjiwa sosial tinggi. Dedikasinya tidak hanya terbatas pada lembar-lembar kertas, tetapi juga diwujudkan melalui keterlibatan aktifnya dalam berbagai kegiatan sosial, kebudayaan, gerakan sastra, serta organisasi kemasyarakatan. Ia percaya bahwa sastra dan aksi nyata di masyarakat adalah dua hal yang saling menghidupkan.
BIODATA PENULIS
0"Puisi ini adalah renungan bagi mereka yang memegang amanah sebagai penjaga kualitas sastra, namun memilih untuk berpaling dari tanggung jawabnya."
Matinya Sang Penjaga
By: Arif Agus Bege'h
Ia memoles kata
namun jiwanya beku
hanya menjual sanjungan di atas debu
tak ada bedah makna
tak ada api yang menyala
sastra baginya hanyalah panggung penuh tipu daya
Mata tertutup pada luka dan duka
pena tumpul
digerogoti kepentingan celaka
ia pengkhianat yang memilih bungkam
membiarkan karya berharga mati terendam
Seharusnya kompas bagi pembaca yang sesat
Kini malah menyesatkan dengan pujian sesaat
ia biarkan mediokritas tumbuh subur dan meraja
menjadikan sastra sekadar komoditas belaka
Tak ada kritik
hanya gema yang basi
kehilangan nurani
tenggelam dalam distorsi
martabatnya gugur di meja yang sunyi
membunuh ruh kata dengan nalar yang mati
Wahai penista aksara yang terlelap dalam semu
sejarah mencatat khianatmu dengan abu
saat kau abaikan esensi dan kedalaman
sastra hanyalah bangkai dalam kehampaan
Mamuju Sul-Bar, 09/09/2022
Matinya Sang Penjaga
0Bidadari Hatiku
(Untuk Istriku Nurhasanah)
By: Arif Agus Bege'h
Di bawah langit Pantai Manakarra
kita merajut kisah
melangkah bersama
dalam perjalanan panjang yang tak selalu mudah
engkau tetap tegar
meski badai mencoba menggoyah
Setiap hujan yang jatuh membasahi bumi
seolah menjadi saksi betapa sabarnya hatimu
engkau merangkul segala kurangku dengan ikhlas
menjadi rumah tempatku berpulang saat napas terasa lepas
Dan saat airmata harus jatuh membasuh pipi
engkau tetap berdiri menyungging senyum yang berarti
Terima kasih, Nurhasanah belahan jiwa yang sejati
karena bersamamu
segala luka mampu kuobati
Dari suamimu yang selalu mencintaimu
Mamuju Sul-Bar, 31/08/2022
AAB - Bidadari Hatiku
0Menanggalkan Arus
By: Arif Agus Bege'h
Bukan perihal kalah
bukan pula tentang menyerah
aku hanya sedang memulangkan detak yang sempat kau titip
ke ruang sunyi tempat segala asa berlabuh tanpa paksa
Sebab mencintai
pada akhirnya
adalah seni melepaskan
membiarkan setiap kenangan menemukan rumahnya sendiri
bukan lagi di saku bajuku bukan lagi di sela napasku
Kubiarkan ia mengalir
tak lagi kukunci dalam dekapan
karena yang benar-benar abadi tidak akan pernah menuntut
ia hanya perlu dibiarkan menetap sebagai sejarah
tanpa harus kukorbankan langkahku untuk terus menjamah.
Masamba Sul-Sel, 01/01/2022
AAB - Menanggalkan Arus
0"Kita tidak perlu menjadi batu yang hancur karena benturan. Belajarlah menjadi air; yang tetap utuh meski harus mengalah pada arah arus yang ia lalui."
Retak Yang Bijak
Oleh: Arif Agus Bege'h
Badai tak memilah seberapa dalam akar tertanam
ia hanya datang memangkas yang angkuh dan kelam
jangan memahat diri menjadi karang yang beku
sebab keras yang berlebih hanya mengundang retak di saku
Kita sering lupa
bahwa luka adalah ruang bagi cahaya
bahwa setiap retakan adalah jalan bagi doa untuk menyapa
mengapa harus menantang gelombang dengan dada yang sesak?
jika pada akhirnya keangkuhan hanyalah cara tercepat untuk terkoyak
Belajarlah menakar nasib serupa air yang mengalir
menanggalkan ego sebelum hancur di akhir
ia tak pernah melawan arus meski tajam menghujam
ia justru memeluk batu hingga waktu membuatnya tenteram
Terkadang
kita perlu patah agar bisa melentur
melepaskan genggaman yang membuat jiwa terkapar luntur
sebab menjadi manusia bukanlah tentang siapa yang paling tegar
tapi tentang siapa yang berani ikhlas
kembali tegak
sebelum benar-benar terkubur
Masamba Sul-Sel, 22/11/2021
AAB - Retak Yang Bijak
0 "Cinta yang sejati tidak diukur dari seberapa sering kita tertawa, melainkan dari seberapa tabah kita menanggung duka bersama. Sebab, tempat paling indah untuk berlabuh bukanlah tempat yang tanpa luka, melainkan tempat di mana kita belajar untuk tetap setia meski harus berkali-kali patah."
Sukamaju Selatan: Sebuah Catatan Dari Dermaga Hati
By: Arif Agus Bege'h
Di Sukamaju Selatan langkahku terhenti
menyapa bayang-bayang yang enggan pergi
tanah ini bukan sekadar hamparan bumi
ia adalah saksi
tempat benih cinta bersemi
Dulu, di bawah langit yang sama
kita melukis tawa di atas kanvas luka
Namun, cinta di sini tak selalu berbunga
ada banyak duka yang menyamar jadi air mata
Sukamaju Selatan
kaulah dermaga yang kupilih
tempatku menyandarkan lelah yang perih
meski perih seringkali datang tanpa permisi
di sini pula
janji-janji kupahat dalam sunyi
Banyak kisah telah karam menjadi debu
tentang rindu yang tumbuh meski harus meragu
Namun, di antara duka dan air mata yang membeku
cintamu adalah satu-satunya pelabuhan yang kutuju
Sukamaju Selatan
biarlah ia menjadi prasasti yang abadi
tempat cinta belajar untuk tidak mati
meski harus berkali-kali patah dan kembali
Masamba Sul-Sel, 08/07/2020






