• "Kendalikan isi pikiranmu sebelum pikiran itu mengendalikan nasibmu. Pikiran yang kosong adalah lahan subur bagi benih kegelisahan, namun pikiran yang sibuk dengan kebaikan adalah benteng yang kokoh bagi jiwa."

    "Jangan biarkan ruang pikiranmu menjadi tempat persinggahan khayalan yang sia-sia; penuhilah ia dengan kebajikan, agar dirimu tak sempat merusak diri sendiri dengan keraguan."

    Menjaga Menara Pikiran
    By: Arif Agus Bege'h


    Di sepanjang perjalanan yang tak pernah usai
    pikiran sering kali tersesat di persimpangan sunyi
    di sana, hujan sering datang tanpa diundang
    membawa embun keraguan yang perlahan menjelma airmata

    Namun, aku belajar menata ruang di kepala
    mengisi setiap celah dengan benih kebajikan
    sebab pikiran yang sibuk dengan kebaikan
    takkan lagi memberi ruang bagi retak yang sia-sia

    Takkan ada lagi waktu untuk merusak diri
    saat jiwa sibuk membasuh letih dengan doa
    biarlah hujan menghapus jejak khayalan
    biarlah airmata menjadi saksi kejernihan
    dalam perjalanan panjang menjemput kedamaian

    Sebab diri yang teguh dalam kebaikan
    telah menutup pintu bagi kesia-siaan
    menjaga istana pikiran tetap benderang
    di balik awan yang mencoba menghalangi pandang


    Mamuju Sul-Bar, 29/06/2023


    AAB - Menjaga Menara Pikiran

    0
  • Dari sudut sunyi Sulawesi, dari seorang yang kerap disebut penyair kampung... inilah sebuah kesaksian tentang kata yang murni, melawan riuhnya sandiwara.
    Sebuah sajak: Dari Sudut Sunyi."

    Sajak Dari Sudut Sunyi
    By: Arif Agus Bege'h


    Di sini, di tanah Sulawesi yang memeluk sunyi
    Aku merajut bait dari basah tanah dan wangi bumi
    Tak perlu sepasang kaki mengitari seluruh pulau
    Jika setiap aksara mampu membuat jiwa terpukau.

    Aku hanyalah penyair kampung tanpa nama besar
    Menulis bukan demi tepuk tangan yang hingar-bingar
    Bagiku, puisi adalah helaan napas yang jujur
    Bukan komoditas yang digadaikan hingga lebur.

    Kulihat mereka di seberang, di panggung-panggung megah
    Bersolek kata, menanti undangan dengan wajah sumringah
    Saling memuji dalam lingkaran kecil yang fana
    Mengaku nasional, padahal hanya topeng belaka.

    Itulah para penyair konspirasi, lahir dari akting bersama
    Menciptakan ekosistem palsu demi sebuah nama
    Mereka mengurasi rasa lewat kedekatan relasi
    Bukan dari kedalaman kalbu yang suci.

    Mereka butuh lampu sorot untuk terlihat bersinar
    Mereka butuh podium untuk terdengar pintar
    Padahal karyanya hampa, kering tanpa jiwa
    Hanya akal-akalan komite yang penuh sandiwara.

    Sementara di sini, di sudut terpencil yang senyap
    Puisi lahir dari keringat dan air mata yang menyerap
    Dari jeritan angin malam dan rintik hujan yang nyata
    Tanpa distorsi industri, tanpa kepalsuan kata.

    Biar mereka sibuk berebut tahta dan panggung ber AC
    Aku tetap di sini, menjaga ketulusan yang murni
    Sebab puisi sejati tak butuh restu para elit
    Ia akan terbang bebas, menembus langit yang sempit.


    Mamuju Sul-Bar, 05/05/2023

    Sajak Dari Sudut Sunyi

    0
  •  

    "Kesuksesan memiliki banyak wajah dan jalan. Sajak ini adalah pengingat bagi kita semua, bahwa di balik pencapaian yang kita raih, ada tanggung jawab besar yang menanti di depan sana, tentang asal-muasal harta dan ke mana ia kita labuhkan."

    Sajak Di Gerbang Perhitungan
    By: Arif Agus Bege'h


    Setiap napas adalah perjalanan yang tak pernah berhenti
    Ada yang menapaki karang tajam dengan peluh yang menetes ke bumi
    Ada yang melangkah di atas permadani, dibantu jemari sahabat dan keluarga
    Membawa harta warisan yang dipupuk dengan harapan para pendahulu yang mulia.

    Namun di ujung jalan, semua kaki akan berhenti pada satu garis tanya
    Tentang bekal apa yang dibawa, tentang untuk apa semua ini dipergunakan saja
    Harta hanyalah titipan yang akan diminta kembali pertanggungjawabannya
    Apakah ia menjadi ladang pahala, atau justru api yang membakar jiwa?

    Seringkali kita lupa saat puncak kesuksesan telah di tangan
    Bahwa di bawah sana, hujan sering membasahi mereka yang kehilangan
    Jika harta halal menjadi bekal, maka ia akan menjadi pelita di kegelapan
    Menjadi penenang hati, membawa kebahagiaan di hari kemudian.

    Tetapi celakalah jika kesuksesan dibungkus dengan cara yang nista
    Diselimuti dosa, disombongkan dengan harta yang bukan haknya
    Sebab setiap keping uang yang haram akan menjadi bara
    Yang akan membakar raga di akhirat, di tempat yang paling sengsara.

    Airmata yang jatuh karena takwa adalah mutiara di hadapan-Nya
    Namun airmata yang mengalir karena sombong hanyalah debu yang sia-sia
    Mari bersihkan hati dari penyakit-penyakit yang membusuk kan jiwa
    Agar perjalanan ini tidak berujung pada penyesalan yang tak ada akhirnya.

    Jangan biarkan riya’ menutupi mata dan meracuni pikiran
    Sebab dunia ini hanya persinggahan bagi setiap insan
    Peganglah erat kejujuran, karena itu adalah sebaik-baik jalan
    Menuju keridhoan yang menjadi tujuan akhir dari setiap penciptaan.

    Ya Rabb, jauhkan kami dari sifat-sifat yang merugikan
    Jauhkan hati ini dari kebencian dan kesombongan yang menjerumuskan
    Jadikanlah kesuksesan kami sebagai pintu keberkahan
    Dan bimbinglah kami pulang dengan damai dalam lindungan-Mu, Aamiin.


    Mamuju Sul-Bar, 04/04/2023

    Sajak Di Gerbang Perhitungan

    0


  • Jangan pernah melarang airmata seorang anak yang merindu, karena duka yang dipendam adalah badai yang siap meruntuhkan batin. Inilah sebuah pengingat tentang cara merayakan rindu melalui luka yang paling jujur.

    Tsunami Sunyi
    By: Arif Agus Bege'h


    Jangan bendung airmata anak yang merindukan ibunya
    duka yang dipasung adalah badai yang mengerami dada
    siap menjelma tsunami meruntuhkan seluruh tenang

    Biarkan ia luruh menjadi sungai yang paling jujur
    sebab tangis adalah bahasa purba seorang anak
    cara sunyi melipat jarak menuju pelukan yang tiada

    Menangislah
    biarkan ia jadi hujan di tanah perjalanan
    mendinginkan bara rindu sebelum membakar habis sabar
    membasuh luka hingga jinak menjadi keikhlasan


    Mamuju Sul-Bar, 09/03/2023

    AAB - Tsunami Sunyi

    0


  • "Aku tidak datang untuk mengajari kalian merangkai kata-kata indah atau membedah estetika bahasa. Aku datang membawa luka, air mata, dan perjalanan panjang yang sunyi. Ini adalah catatan tentang bagaimana aku belajar merangkul kepedihan, mengubah keluh kesah menjadi doa, dan menemukan Tuhan di antara retakan hati yang paling dalam. Izinkan aku membacakan sesuatu yang lahir dari sujud sepertiga malamku."


    Di Balik Perjalanan
    By: Arif Agus Bege'h


    Aku bukan guru yang merangkai diksi
    aku adalah luka dan air mata yang terus berjalan
    menikmati hidup di sela rindu dan cinta
    menemukan Tuhan pada tiap ciptaan
    sebagai bentuk penghambaan paling dalam

    Jika kau terdampar di ujung harapan yang karam
    jangan mencari sandaran pada sesama
    sebab mereka pun sama-sama sedang terluka
    temuilah Sang Pencipta di sepertiga malam
    saat sunyi menjadi jembatan paling karib

    Bicaralah pada-Nya lewat monolog doa
    tumpahkan keluh tanpa sisa penyesalan
    sebab manusia tak perlu tahu segala lukamu
    cukup jadikan puisi sebagai satu-satunya wadah
    tempat segala perihmu menetap dan bernapas

    Tak perlu menuntut jawaban atas takdir
    cukup mintalah kekuatan untuk tetap tegak
    meski badai dunia terus mencoba mematahkan
    biarkan Dia memeluk jiwamu yang koyak
    hingga isakmu berubah menjadi syukur

    Sebab di sini aku pun sedang belajar
    menjadikan air mata sebagai tinta abadi
    menikmati kepedihan sebagai perjalanan
    menuju rumah terakhir di mana segala lelah
    akhirnya melebur dalam sujud yang pasrah


    Mamuju Sul-Bar, 03/03/2023

    AAB - Di Balik Perjalanan

    0
  • "Di dunia yang terlalu sering dimabuk oleh retorika, kita kerap lupa bahwa kata-kata hanyalah kulit. Kebijaksanaan sesungguhnya tidak lahir dari apa yang diucapkan, melainkan dari apa yang diperjuangkan dalam sunyi. Inilah sebuah pengingat untuk kita semua."


    Di Balik Kata
    By: Arif Agus Bege'h


    Jangan kau ukir kebijaksanaan seseorang
    hanya dari indahnya untaian kata yang ia bentang
    sebab lidah seringkali menari lebih lincah
    menutup celah yang kosong di dalam dada

    Kebijaksanaan bukanlah hiasan bibir yang dipoles rapi
    ia adalah akar yang tertanam dalam buah pikiran
    ia adalah jejak nyata yang tertinggal dalam tindakan
    Sebuah janji yang dibuktikan bukan hanya yang disuarakan

    Lihatlah bagaimana ia melangkah di tengah badai
    lihatlah bagaimana ia bersikap saat tak ada yang memuji
    sebab di situlah cermin yang paling jujur
    tempat karakter diuji dan martabat diukur

    Jangan mudah terpesona pada kemilau retorika
    karena yang palsu akan luntur oleh waktu
    namun integritas
    ia akan tetap tegak
    menjadi saksi bisu dari jiwa yang benar-benar bijak


    Mamuju Sul-Bar, 15/02/2023

    AAB - Di Balik Kata

    0



  • "Hidup bukan tentang seberapa cepat kita mencapai garis akhir, melainkan tentang seberapa dalam kita memaknai setiap napas yang kita ambil. Di tengah derasnya perubahan zaman, kadang kita perlu berhenti sejenak, membiarkan kenangan membasuh luka, dan kembali mengumpulkan doa. Berikut adalah bait-bait yang saya tulis sebagai pengingat bagi diri sendiri."

    Dawai Waktu
    By: Arif Agus Bege'h


    Di beranda waktu
    aku menakar sisa jejak
    saat usia kian deras membawa cerita
    perjalanan ini tak selalu ramah
    namun bara di dada enggan menyerah

    Seringkali kenangan menjelma hujan
    membasuh getir yang tertinggal di ingatan
    aku tak lagi memusuhi perih yang hadir
    sebab di sana
    aku belajar mendewasa

    Jika langkahku kini mulai melambat
    bukan berarti airmata menumpulkan niat
    Ini hanya jeda untuk memanen doa
    agar esok mampu berpijak lebih kokoh

    Biarlah nasib bergulir sesuai takdirnya
    aku tetap memegang teguh komitmen diri
    menjaga api harapan tetap menyala
    meski jalan yang kutempuh kian sunyi

    Kelak saat rambut memutih dimakan zaman
    aku ingin tetap tegar menyambut senja
    sebab hidup bukan tentang cepatnya tiba
    melainkan tetap bertahan hingga titik akhirnya


    Mamuju Sul-Bar, 01/01/2023

    AAB - Dawai Waktu

    0


  • BIODATA PENULIS

    Data Pribadi
    ​Nama Asli: Agus Supriadi, S.Farm
    ​Nama Pena: Arif Agus Bege'h
    ​Tempat, Tanggal Lahir: Masamba, Luwu Utara, Sulawesi Selatan, 22 November 1980
    ​Silsilah: Putra pertama dari pasangan (Alm.) Muhammad Take dan (Alm.) Marni

    ​Profil Singkat
    ​Agus Supriadi, S.Farm, yang lebih dikenal di dunia literasi dengan nama pena Arif Agus Bege'h, merupakan seorang apoteker sekaligus pegiat sastra kelahiran Masamba, Luwu Utara. Lahir pada 22 November 1980 sebagai putra sulung, ia berhasil memadukan latar belakang keilmuan farmasi yang sistematis dengan kepekaan rasa yang dituangkan melalui untaian kata.

    ​Langkah kepenulisannya di dunia sastra, khususnya puisi, dimulai sejak tahun 2009. Selama belasan tahun mendedikasikan diri dalam dunia kata, ia secara konsisten merajut karya yang berpusat pada rekam jejak perjalanan kisah hidup yang dihadapi, serta filosofi tentang hujan dan air mata. Bagi Arif Agus Bege'h, hujan, air mata, dan dinamika hidup adalah elemen-elemen yang saling mengalir—menjadi sumber inspirasi terdalam untuk menangkap kesedihan, ketabahan, dan harapan manusia.

    ​Selain aktif menggoreskan pena, ia juga dikenal sebagai sosok yang berjiwa sosial tinggi. Dedikasinya tidak hanya terbatas pada lembar-lembar kertas, tetapi juga diwujudkan melalui keterlibatan aktifnya dalam berbagai kegiatan sosial, kebudayaan, gerakan sastra, serta organisasi kemasyarakatan. Ia percaya bahwa sastra dan aksi nyata di masyarakat adalah dua hal yang saling menghidupkan.

    BIODATA PENULIS

    0
  • "Puisi ini adalah renungan bagi mereka yang memegang amanah sebagai penjaga kualitas sastra, namun memilih untuk berpaling dari tanggung jawabnya."

    Matinya Sang Penjaga
    By: Arif Agus Bege'h


    Ia memoles kata
    namun jiwanya beku
    hanya menjual sanjungan di atas debu
    tak ada bedah makna
    tak ada api yang menyala
    sastra baginya hanyalah panggung penuh tipu daya

    Mata tertutup pada luka dan duka
    pena tumpul
    digerogoti kepentingan celaka
    ia pengkhianat yang memilih bungkam
    membiarkan karya berharga mati terendam

    Seharusnya kompas bagi pembaca yang sesat
    Kini malah menyesatkan dengan pujian sesaat
    ia biarkan mediokritas tumbuh subur dan meraja
    menjadikan sastra sekadar komoditas belaka

    Tak ada kritik
    hanya gema yang basi
    kehilangan nurani
    tenggelam dalam distorsi
    martabatnya gugur di meja yang sunyi
    membunuh ruh kata dengan nalar yang mati

    Wahai penista aksara yang terlelap dalam semu
    sejarah mencatat khianatmu dengan abu
    saat kau abaikan esensi dan kedalaman
    sastra hanyalah bangkai dalam kehampaan


    Mamuju Sul-Bar, 09/09/2022

    Matinya Sang Penjaga

    0
  • - Copyright © Aspulut - Powered by Blogger -