Belati Lidah
By: Arif Agus Bege'h
Jangan teriakkan rindu
jika di balik lidahmu
masih kau sembunyikan belati berkarat
Suara kerasmu hanya karat
menyisakan ujung ragu
yang membuat kata-katamu gagu
Simpan bising itu
sebab telinga ini tahu
mana cinta
mana luka masa lalu
Tarailu Sul-Bar, 02/06/2010
AAB - Belati Lidah
0Sama Saja
By Arif Agus Bege'h
Kalian takkan mampu mengeringkan pilu
sebab aku telah bersumpah setia pada kalbu
kesedihan adalah nafas yang menyatu
jalan sejarah yang tak mungkin terkikis waktu
Coba halangi sejarah yang kusemai
kau hanya akan melihatku tegak meski terkulai
bahagia tanpa tunjuk-Nya hanyalah sunyi yang lalai
tangis tanpa airmata
sesal yang tak usai
Biarkan ia mengalir sebagai takdir nyata
dalam luka
kutemukan jalan menuju-Nya
tak ada yang mampu memisahkan setia
meski dunia menolak
aku tetap tegak dalam doa
Kalian hanya melihat hambar di mata
tak mengerti bahagia bagi yang mendusta
hidup tanpa restu Sang Pencipta
adalah tangis tanpa airmata saksi derita
Sejarahku menuntaskan rahasia
tentang luka dan takdir yang tak sia-sia
bagi mereka yang lupa akan kehendak-Nya
pada akhirnya, sama saja
Sallugatta Sul-Bar, 28/05/2010
AAB - Sama Saja
0"Ketika langkah kaki mulai kehilangan arah, carilah isyarat itu. Karena di mana pun kau melangkah, rindu akan selalu menemukan jalannya untuk pulang—meski harus lewat airmata."
Isyarat Rindu
Karya: Arif Agus Bege'h
Karya: Arif Agus Bege'h
Isyarat rinduku padamu
berkedip mengedip rasa di hati
mengecup bibir yang kian mati
terasalah ruh mengelayap
terasalah ruh mengelayap
menuju sebuah titik rintih
saat semilir angin menyiasati sunyi
saat semilir angin menyiasati sunyi
di kala pejam matamu beralih
Haruskah aku bertanya?
dan mampukah kau menjawabnya?
ketika titik rindu kini menutup mata kakimu yang lelah
ke arah mana pun kelak kau melangkah
di sanalah kepingan wajahku
ketika titik rindu kini menutup mata kakimu yang lelah
ke arah mana pun kelak kau melangkah
di sanalah kepingan wajahku
rindu yang kau cari tanpa jengah
Mungkin esok kau menemukanku tanpa cinta
maka isyaratkan padaku tentang sisa kenangan kita
sebab kenangan itulah yang mengisyaratkan rinduku padamu;
rindu yang bernyanyi sunyi
tentang hujan yang membasahi kotamu
Inikah isyarat rindu itu?
menggelayut mengitari hati
berkejaran bersama asa
menempuh waktu yang panjang
menempuh waktu yang panjang
menuju belantara tragedi airmata
sanggupkah kau menyapa kelak tanpa nestapa?
sanggupkah kau menyapa kelak tanpa nestapa?
saat aku berdoa dengan hantaran sabda
yang siap menerpa semesta
Dan kau pun akhirnya menangis
dalam pasrah isyarat rinduku
Sampodo Palopo Sul-Sel, 13/05/2010
AAB - Isyarat Rindu
0Hadirkan Hujan
Oleh: Arif Agus Bege'h
Akankah aku menetap di ruang hatimu?
Di sana, rindu menggantung di antara hujan dan air mata,
terpintal dalam bantal dan lipatan kelambu.
Aku mendengar bisikan-bisikan getir,
tempat air mata dan jiwaku bersimpuh
di atas hamparan duka yang luas.
Namun, aku masih punya sisa asa,
meniti cinta, mendayung hingga ke muara kuasa-Nya.
Aku mengecap nikmat di antara fana dan sementara,
menemukan bahagia saat sunyi datang menyapa.
Di atas sajadah yang tak henti basah,
air mata meluruhkan warna-warni kaligrafiku,
meresap halus, menyapa jiwa yang dahaga di tengah banjir air mata.
Adakah salah jika mantramu tak kunjung memenuhi ruang?
Syairku lahir dari hati yang pernah mati—
mati karena cinta yang bersemayam di nisan yang belum bertuan.
Oh, Hujan...
Turunlah pada setiap jiwa dan raga yang berkeluh kesah,
basuhlah duka saat waktu tak lagi memihak.
Tarailu, Sulawesi Barat, 09/05/2010
AAB - Hadirkan Hujan
0"Meniti titik kehidupan sering kali memaksa kita berjalan di atas duri dan jeruji kegelisahan. Namun, ketika rindu dan tekad telah menjelma menjadi nyali, langkah yang tertatih pun akan tetap sampai pada tujuan. Jangan hiraukan pandangan mereka yang iri, sebab mereka hanya melihat hasil akhir tanpa pernah tahu seberapa berdarah-darah kita teruji."
Meniti Titik
By: Arif Agus Bege'h
By: Arif Agus Bege'h
Satu jiwa merambahku dengan jalang
suara rindu mendenting
merayu insting
kaukah yang bersiul bijak tanpa harap?
atau akulah yang tergoda nasihat kalbu?
atau mungkin gelisah yang basah
kaukah yang bersiul bijak tanpa harap?
atau akulah yang tergoda nasihat kalbu?
atau mungkin gelisah yang basah
Oh, rinduku...
Segala sisi berjeruji dan berduri
akan kulalui walau hati menari sebelum mati
karena getaran itu telah menjelma nyali
bernyanyilah
menarilah
membawa sekuntum sepi
kulafal huruf merangkai kalimat sakti:
Kau dan aku kini sembunyi
kulafal huruf merangkai kalimat sakti:
Kau dan aku kini sembunyi
Perlahan kaki melangkah
tertatih namun pasti
meniti malam hingga dini
gumam tak lagi memaki
sunyi mencambuk bagai cemeti
meniti malam hingga dini
gumam tak lagi memaki
sunyi mencambuk bagai cemeti
Andai saja hatimu peduli
tentu saja aku takkan menari sepi
tapi kini aku berlari
mencari
menelusuri
menjelajahi
lalu meniti cinta yang siap mati
lalu meniti cinta yang siap mati
Jika tak teruji
kalian tak perlu iri
Tarailu Sul-Bar,05/05/2010
AAB - Meniti Titik
0Baju Dari Air Mata
By: Arif Agus Bege'h
Kemarahan adalah api yang membakar sia-sia
jika hanya kau lepaskan ke udara
menjadi abu yang ditiup angin
hilang tanpa bekas
Aku memilih cara lain
Kubiarkan rasa sakit itu mengendap
dingin dan sunyi
di dasar palung jiwaku yang paling dalam
perlahan, ia mengeras
membatu
menjadi karang yang tak sanggup diguncang ombak
tak mampu ditembus oleh tajamnya tipu daya yang datang dari tangan-tangan palsu
Sekarang, lihatlah
aku berdiri bukan sebagai korban yang merintih
tapi sebagai penjaga dari kisahku sendiri
luka ini telah kutempa menjadi zirah
menjadi baju pelindung yang kujahit dengan benang ketabahan
Setiap tetes yang dulu jatuh sia-sia
kini kusematkan menjadi perisai
jangan tanya lagi tentang perih
karena air mata yang kukenakan ini
adalah bukti bahwa aku tidak lagi bisa ditembus oleh kehampaan
Tarailu Sul-Bar, 20/02/2010
AAB - Baju Dari Air Mata
0Hadiah Hati Untukmu
Oleh: Arif Agus Bege'h
Merah merona pipimu
saat kupandang, ada harapan yang berpendar di sana.
Akankah kau mengingatku saat terjaga,
menyambut mentari pagi?
Rambut hitammu terurai, laksana putri mayang.
Adakah kau simpan namaku di kalbumu,
lalu kau abadikan dalam sukma?
Dingin dan beku salju abadi di puncak Papua,
namun aku tak pernah berharap hatimu sedingin itu untukku.
Yang kumau, hanyalah ketulusan,
menerima aku apa adanya.
Andai tetesan embun mampu kutampung,
akan kubawa untukmu sebagai persembahan;
sejuknya cinta yang kutawarkan.
Aku mungkin tak bisa membawamu mendaki Himalaya,
namun aku jamin, rinduku jauh lebih tinggi dari puncaknya.
Akan kuberikan hatiku yang lapang,
untuk kau tebarkan segala rasa dan hasrat.
Meski tak seluas samudra,
akan kutangguk setiap asa,
demi mengayuh kehidupan,
dan menggapai kelenggangan surga di kalbumu.
Tarailu, Sulawesi Barat, 16/01/2010
AAB - Hadiah Hati Untukmu
0Hujan Air Mata
By: Arif Agus Bege'h
Menghitung waktu dengan jari manis
hingga membaca pun tanpa makna
tak menulis karna berharap
kini dirimu telah usai dipelukan sang raja
permaisuri pun menertawakanku
para mentri berpestapora
dan panglima mehunus pedangnya
seakan terbangun dalam mimpi buruk
namun nyata menyelimuti kesedihan,
tentukan nasib atau menanti kajabaiban,
salahkan hujan yang menanam benih,
benih air dan mata
siapakah yang bisa membuangmu
siapa pula yang mampu memisahkanmu dari tragedi atau hujan
apakah tragedi hanyalah kenangan
atau sejarah dalam ketulusan cinta
dan aku takkan dapat menggores namamu
di setiap sajak sajak yang tak bermakna di mata mereka
karena kau telah diberi nama fitra
air
beranjaklah menggapai tangga keempat hingga lima nan pasti
dalam hitungan makna yang akan kau tempuh
hilangkan benci pada jiwa sang raja
raja yang kalah oleh permaisurinya
sungguh dirimu memanggil adik pada mata
dan kau pun kuberi nama Nur Arifah Saputri
mata
kau hanyalah tragedi kebahagiaan
meski air menghalangi pandangan mata
namun kalian adalah buah dan jantung hati
tak terpisah oleh apapun meski bentunturan atau tiga ketukan
bahkan pemilik istana sekalipun
dan kaupun kuberi nama Nur Jumanah Dwiputri
sungguh bercahaya dalam makna dan nyata
meski gelap pada hujan, atau berkilau pada mata
namun gemerlap pada mata, hingga teriakannya tak pernah menggelegar
tak sanggupmu menerobos hujan meski asa selalu
namun tragedi takluk di pangkuanmu
semoga mereka bercermin padamu
sebagai makna cahaya terdahulu
sampai kapan cahaya tak sampai pada ujung harapan
hingga saat air dan mata mencari hujan
tragedi berakir dalam kehausan makna sejati
cinta memberi pilihan
cinta memberi pertanyaan
jawabanmu pada hujan
hujan air mata
Tarailu Sul-Bar, 30/12/2009
AAB - Puisi Hujan Air Mata
0Sisa Rindu Semalam
By: Arif Agus Bege'h
Hangat kopi pagi ini
penawar rindu semalam suntuk
kuseduh doa penuh harap
menjaga api tetap menyala
Di mana engkau bersembunyi?
hadir bersama cahaya surya
terangi setiap langkah kakiku
hingga senja menjemput tenang
Rindu ini masih dingin
perlu dekap hangat nyata
biarlah waktu pun saksi
betapa dalam rasa tertanam
Jangan biarkan aku sendiri
menunggu kabar di ambang
jadilah terang di jalan
menuntun arah menuju pulang
Setiap helai napas ini
adalah sapa untuk dirimu
datanglah saat matahari naik
menyempurnakan hari yang sepi
Tarailu Sul-Bar, 01/12/2009

