"Banyak orang mengira lantang berarti menang. Padahal, sering kali suara yang dilepas tanpa saring, justru menjadi bumerang yang menghujam dada sendiri. Sebelum kita berani bersuara keras di depan semesta, kita harus berani menaklukan ego di dalam jiwa. Inilah sebuah pengingat, tentang perjalanan, tentang hujan, dan airmata yang mendewasakan."
Gema Lidah
By: Arif Agus Bege'h
Kutempa nyali di sepanjang perjalanan yang tak menentu
menjaga api dalam dada agar tak membakar diriku sendiri
sebab kata yang lahir dari amarah
hanyalah pisau bermata dua
yang siap berbalik menghujam jantung saat ia lepas dari mulutnya
Langit meredup
hujan menderas membasuh angkuh yang sisa
membersihkan saringan nurani sebelum suara ini kupancangkan
aku belajar menahan diri bukan karena takut pada dunia
namun karena sadar
memaki semesta hanya akan mengotori muka
Di balik airmata yang pernah jatuh membeku di pipi
aku memungut hikmah
bahwa diam adalah benteng yang suci
setiap kata yang tersaring adalah kehormatan yang kujaga
agar tak ada lagi luka yang harus kubayar dengan nestapa
Suaraku kini lantang mengguncang sunyi dengan ketegasan
bukan untuk memantik api tapi untuk menuntaskan ego diri
biarkan gema ini merambat menjadi saksi atas kemenangan
bahwa menguasai lidah adalah kedaulatan jiwa yang tertinggi
Tak perlu riuh rendah
cukup pesan yang menghujam ke sukma
sebab yang lantang bukan sekadar suara
tapi jejak yang nyata
Mamuju Sul-Bar, 18/08/2023
AAB - Gema Lidah
0Sajak ini saya tulis sebagai pengingat, sekaligus kritik tajam bagi mereka yang gemar menebar kata, namun takut memikul konsekuensinya. Inilah: 'Di Balik Topeng Kata'."
Di Balik Topeng Kata
By: Arif Agus Bege'h
Di balik bayang-bayang kau sembunyikan nama
merangkai diksi indah namun penuh dusta
kau biarkan jemari menari tanpa raga
tak berani menatap terang di depan mata
Apa guna sajak jika tak berani diakui?
hanya kepengecutan yang kau bungkus rapi
menyebar racun pikiran di sunyinya sepi
lalu berlari saat badai kritik menghampiri
Penyair sejati memikul beban di pundaknya
menuliskan kebenaran dengan harga nyawanya
namun kau, hanya pengecut yang haus pujian saja
berlindung di balik nama samaran yang sirna
Tak ada kehormatan bagi kata tanpa pemilik
hanya gema kosong yang membuat dunia tergelitik
kau takut dianggap salah, takut terlihat pelik
padahal karyamu hanyalah omong kosong yang picik
Jika tulisannmu adalah kebenaran yang hakiki
Mengapa perlu takut wajahmu dikenal nanti?
Apakah kau sadar betapa menyesatkan ini?
Membawa pembaca ke jalan yang tak kau yakini
Jadilah manusia yang berani menanggung kata
bukan bayang-bayang yang takut pada cahaya nyata
tampilkan namamu, tunjukkanlah siapa sang pencipta
agar karyamu tak sekadar sampah di tengah semesta
Sajak ini bukan untuk memuji keindahan bahasamu
tapi sebuah cermin bagi nyali yang mati dalam ragu
sebab menulis bukan tentang sekadar memburu waktu
tapi tentang tanggung jawab pada tiap bait yang kau restu
Mamuju Sul-Bar, 07/07/2023
Sajak Di Balik Topeng Kata
0"Kendalikan isi pikiranmu sebelum pikiran itu mengendalikan nasibmu. Pikiran yang kosong adalah lahan subur bagi benih kegelisahan, namun pikiran yang sibuk dengan kebaikan adalah benteng yang kokoh bagi jiwa."
"Jangan biarkan ruang pikiranmu menjadi tempat persinggahan khayalan yang sia-sia; penuhilah ia dengan kebajikan, agar dirimu tak sempat merusak diri sendiri dengan keraguan."
Menjaga Menara Pikiran
By: Arif Agus Bege'h
Di sepanjang perjalanan yang tak pernah usai
pikiran sering kali tersesat di persimpangan sunyi
di sana, hujan sering datang tanpa diundang
membawa embun keraguan yang perlahan menjelma airmata
Namun, aku belajar menata ruang di kepala
mengisi setiap celah dengan benih kebajikan
sebab pikiran yang sibuk dengan kebaikan
takkan lagi memberi ruang bagi retak yang sia-sia
Takkan ada lagi waktu untuk merusak diri
saat jiwa sibuk membasuh letih dengan doa
biarlah hujan menghapus jejak khayalan
biarlah airmata menjadi saksi kejernihan
dalam perjalanan panjang menjemput kedamaian
Sebab diri yang teguh dalam kebaikan
telah menutup pintu bagi kesia-siaan
menjaga istana pikiran tetap benderang
di balik awan yang mencoba menghalangi pandang
Mamuju Sul-Bar, 29/06/2023
AAB - Menjaga Menara Pikiran
0Dari sudut sunyi Sulawesi, dari seorang yang kerap disebut penyair kampung... inilah sebuah kesaksian tentang kata yang murni, melawan riuhnya sandiwara.
Sebuah sajak: Dari Sudut Sunyi."
Sajak Dari Sudut Sunyi
By: Arif Agus Bege'h
Di sini, di tanah Sulawesi yang memeluk sunyi
Aku merajut bait dari basah tanah dan wangi bumi
Tak perlu sepasang kaki mengitari seluruh pulau
Jika setiap aksara mampu membuat jiwa terpukau.
Aku hanyalah penyair kampung tanpa nama besar
Menulis bukan demi tepuk tangan yang hingar-bingar
Bagiku, puisi adalah helaan napas yang jujur
Bukan komoditas yang digadaikan hingga lebur.
Kulihat mereka di seberang, di panggung-panggung megah
Bersolek kata, menanti undangan dengan wajah sumringah
Saling memuji dalam lingkaran kecil yang fana
Mengaku nasional, padahal hanya topeng belaka.
Itulah para penyair konspirasi, lahir dari akting bersama
Menciptakan ekosistem palsu demi sebuah nama
Mereka mengurasi rasa lewat kedekatan relasi
Bukan dari kedalaman kalbu yang suci.
Mereka butuh lampu sorot untuk terlihat bersinar
Mereka butuh podium untuk terdengar pintar
Padahal karyanya hampa, kering tanpa jiwa
Hanya akal-akalan komite yang penuh sandiwara.
Sementara di sini, di sudut terpencil yang senyap
Puisi lahir dari keringat dan air mata yang menyerap
Dari jeritan angin malam dan rintik hujan yang nyata
Tanpa distorsi industri, tanpa kepalsuan kata.
Biar mereka sibuk berebut tahta dan panggung ber AC
Aku tetap di sini, menjaga ketulusan yang murni
Sebab puisi sejati tak butuh restu para elit
Ia akan terbang bebas, menembus langit yang sempit.
Mamuju Sul-Bar, 05/05/2023
Sajak Dari Sudut Sunyi
0"Kesuksesan memiliki banyak wajah dan jalan. Sajak ini adalah pengingat bagi kita semua, bahwa di balik pencapaian yang kita raih, ada tanggung jawab besar yang menanti di depan sana, tentang asal-muasal harta dan ke mana ia kita labuhkan."
Sajak Di Gerbang Perhitungan
By: Arif Agus Bege'h
Setiap napas adalah perjalanan yang tak pernah berhenti
Ada yang menapaki karang tajam dengan peluh yang menetes ke bumi
Ada yang melangkah di atas permadani, dibantu jemari sahabat dan keluarga
Membawa harta warisan yang dipupuk dengan harapan para pendahulu yang mulia.
Namun di ujung jalan, semua kaki akan berhenti pada satu garis tanya
Tentang bekal apa yang dibawa, tentang untuk apa semua ini dipergunakan saja
Harta hanyalah titipan yang akan diminta kembali pertanggungjawabannya
Apakah ia menjadi ladang pahala, atau justru api yang membakar jiwa?
Seringkali kita lupa saat puncak kesuksesan telah di tangan
Bahwa di bawah sana, hujan sering membasahi mereka yang kehilangan
Jika harta halal menjadi bekal, maka ia akan menjadi pelita di kegelapan
Menjadi penenang hati, membawa kebahagiaan di hari kemudian.
Tetapi celakalah jika kesuksesan dibungkus dengan cara yang nista
Diselimuti dosa, disombongkan dengan harta yang bukan haknya
Sebab setiap keping uang yang haram akan menjadi bara
Yang akan membakar raga di akhirat, di tempat yang paling sengsara.
Airmata yang jatuh karena takwa adalah mutiara di hadapan-Nya
Namun airmata yang mengalir karena sombong hanyalah debu yang sia-sia
Mari bersihkan hati dari penyakit-penyakit yang membusuk kan jiwa
Agar perjalanan ini tidak berujung pada penyesalan yang tak ada akhirnya.
Jangan biarkan riya’ menutupi mata dan meracuni pikiran
Sebab dunia ini hanya persinggahan bagi setiap insan
Peganglah erat kejujuran, karena itu adalah sebaik-baik jalan
Menuju keridhoan yang menjadi tujuan akhir dari setiap penciptaan.
Ya Rabb, jauhkan kami dari sifat-sifat yang merugikan
Jauhkan hati ini dari kebencian dan kesombongan yang menjerumuskan
Jadikanlah kesuksesan kami sebagai pintu keberkahan
Dan bimbinglah kami pulang dengan damai dalam lindungan-Mu, Aamiin.
Mamuju Sul-Bar, 04/04/2023
Sajak Di Gerbang Perhitungan
0Jangan pernah melarang airmata seorang anak yang merindu, karena duka yang dipendam adalah badai yang siap meruntuhkan batin. Inilah sebuah pengingat tentang cara merayakan rindu melalui luka yang paling jujur.
Tsunami Sunyi
By: Arif Agus Bege'h
Jangan bendung airmata anak yang merindukan ibunya
duka yang dipasung adalah badai yang mengerami dada
siap menjelma tsunami meruntuhkan seluruh tenang
Biarkan ia luruh menjadi sungai yang paling jujur
sebab tangis adalah bahasa purba seorang anak
cara sunyi melipat jarak menuju pelukan yang tiada
Menangislah
biarkan ia jadi hujan di tanah perjalanan
mendinginkan bara rindu sebelum membakar habis sabar
membasuh luka hingga jinak menjadi keikhlasan
Mamuju Sul-Bar, 09/03/2023
AAB - Tsunami Sunyi
0Di Balik Perjalanan
By: Arif Agus Bege'h
Aku bukan guru yang merangkai diksi
aku adalah luka dan air mata yang terus berjalan
menikmati hidup di sela rindu dan cinta
menemukan Tuhan pada tiap ciptaan
sebagai bentuk penghambaan paling dalam
Jika kau terdampar di ujung harapan yang karam
jangan mencari sandaran pada sesama
sebab mereka pun sama-sama sedang terluka
temuilah Sang Pencipta di sepertiga malam
saat sunyi menjadi jembatan paling karib
Bicaralah pada-Nya lewat monolog doa
tumpahkan keluh tanpa sisa penyesalan
sebab manusia tak perlu tahu segala lukamu
cukup jadikan puisi sebagai satu-satunya wadah
tempat segala perihmu menetap dan bernapas
Tak perlu menuntut jawaban atas takdir
cukup mintalah kekuatan untuk tetap tegak
meski badai dunia terus mencoba mematahkan
biarkan Dia memeluk jiwamu yang koyak
hingga isakmu berubah menjadi syukur
Sebab di sini aku pun sedang belajar
menjadikan air mata sebagai tinta abadi
menikmati kepedihan sebagai perjalanan
menuju rumah terakhir di mana segala lelah
akhirnya melebur dalam sujud yang pasrah
Mamuju Sul-Bar, 03/03/2023
AAB - Di Balik Perjalanan
0"Di dunia yang terlalu sering dimabuk oleh retorika, kita kerap lupa bahwa kata-kata hanyalah kulit. Kebijaksanaan sesungguhnya tidak lahir dari apa yang diucapkan, melainkan dari apa yang diperjuangkan dalam sunyi. Inilah sebuah pengingat untuk kita semua."
Di Balik Kata
By: Arif Agus Bege'h
Jangan kau ukir kebijaksanaan seseorang
hanya dari indahnya untaian kata yang ia bentang
sebab lidah seringkali menari lebih lincah
menutup celah yang kosong di dalam dada
Kebijaksanaan bukanlah hiasan bibir yang dipoles rapi
ia adalah akar yang tertanam dalam buah pikiran
ia adalah jejak nyata yang tertinggal dalam tindakan
Sebuah janji yang dibuktikan bukan hanya yang disuarakan
Lihatlah bagaimana ia melangkah di tengah badai
lihatlah bagaimana ia bersikap saat tak ada yang memuji
sebab di situlah cermin yang paling jujur
tempat karakter diuji dan martabat diukur
Jangan mudah terpesona pada kemilau retorika
karena yang palsu akan luntur oleh waktu
namun integritas
ia akan tetap tegak
menjadi saksi bisu dari jiwa yang benar-benar bijak
Mamuju Sul-Bar, 15/02/2023
AAB - Di Balik Kata
0"Hidup bukan tentang seberapa cepat kita mencapai garis akhir, melainkan tentang seberapa dalam kita memaknai setiap napas yang kita ambil. Di tengah derasnya perubahan zaman, kadang kita perlu berhenti sejenak, membiarkan kenangan membasuh luka, dan kembali mengumpulkan doa. Berikut adalah bait-bait yang saya tulis sebagai pengingat bagi diri sendiri."
Dawai Waktu
By: Arif Agus Bege'h
Di beranda waktu
aku menakar sisa jejak
saat usia kian deras membawa cerita
perjalanan ini tak selalu ramah
namun bara di dada enggan menyerah
Seringkali kenangan menjelma hujan
membasuh getir yang tertinggal di ingatan
aku tak lagi memusuhi perih yang hadir
sebab di sana
aku belajar mendewasa
Jika langkahku kini mulai melambat
bukan berarti airmata menumpulkan niat
Ini hanya jeda untuk memanen doa
agar esok mampu berpijak lebih kokoh
Biarlah nasib bergulir sesuai takdirnya
aku tetap memegang teguh komitmen diri
menjaga api harapan tetap menyala
meski jalan yang kutempuh kian sunyi
Kelak saat rambut memutih dimakan zaman
aku ingin tetap tegar menyambut senja
sebab hidup bukan tentang cepatnya tiba
melainkan tetap bertahan hingga titik akhirnya
Mamuju Sul-Bar, 01/01/2023





