AAB - Isyarat Rindu

"Ketika langkah kaki mulai kehilangan arah, carilah isyarat itu. Karena di mana pun kau melangkah, rindu akan selalu menemukan jalannya untuk pulang—meski harus lewat airmata."

Isyarat Rindu
By: Arif Agus Bege'h

Isyarat rinduku padamu
berkedip mengedip rasa di hati
mengecup bibir yang kian mati
terasalah ruh mengelayap
menuju sebuah titik rintih
saat semilir angin menyiasati sunyi
di kala pejam matamu beralih

Haruskah aku bertanya?
dan mampukah kau menjawabnya?
ketika titik rindu kini menutup mata kakimu yang lelah
ke arah mana pun kelak kau melangkah
di sanalah kepingan wajahku
rindu yang kau cari tanpa jengah

Mungkin esok kau menemukanku tanpa cinta
maka isyaratkan padaku tentang sisa kenangan kita
sebab kenangan itulah yang mengisyaratkan rinduku padamu;
rindu yang bernyanyi sunyi
tentang hujan yang membasahi kotamu

Inikah isyarat rindu itu?
menggelayut mengitari hati
berkejaran bersama asa
menempuh waktu yang panjang
menuju belantara tragedi airmata
sanggupkah kau menyapa kelak tanpa nestapa?
saat aku berdoa dengan hantaran sabda
yang siap menerpa semesta

Dan kau pun akhirnya menangis
dalam pasrah isyarat rinduku


Sampodo Palopo Sul-Sel, 13/05/2010

AAB - Hadirkan Hujan

Hadirkan Hujan
By: Arif Agus Bege'h


Akankah aku menetap di ruang hatimu?
Di sana, rindu menggantung di antara hujan dan air mata
terpintal dalam bantal dan lipatan kelambu

Aku mendengar bisikan-bisikan getir
tempat air mata dan jiwaku bersimpuh
di atas hamparan duka yang luas
namun, aku masih punya sisa asa
meniti cinta, mendayung hingga ke muara kuasa-Nya

Aku mengecap nikmat di antara fana dan sementara
menemukan bahagia saat sunyi datang menyapa
di atas sajadah yang tak henti basah
air mata meluruhkan warna-warni kaligrafiku
meresap halus, menyapa jiwa yang dahaga di tengah banjir air mata

Adakah salah jika mantramu tak kunjung memenuhi ruang?
syairku lahir dari hati yang pernah mati
mati karena cinta yang bersemayam di nisan yang belum bertuan

Oh, Hujan...
turunlah pada setiap jiwa dan raga yang berkeluh kesah
basuhlah duka saat waktu tak lagi memihak


Tarailu, Sulawesi Barat, 09/05/2010

AAB - Meniti Titik



"Meniti titik kehidupan sering kali memaksa kita berjalan di atas duri dan jeruji kegelisahan. Namun, ketika rindu dan tekad telah menjelma menjadi nyali, langkah yang tertatih pun akan tetap sampai pada tujuan. Jangan hiraukan pandangan mereka yang iri, sebab mereka hanya melihat hasil akhir tanpa pernah tahu seberapa berdarah-darah kita teruji."

Meniti Titik
By: Arif Agus Bege'h


Satu jiwa merambahku dengan jalang
suara rindu mendenting
merayu insting
kaukah yang bersiul bijak tanpa harap?
atau akulah yang tergoda nasihat kalbu?
atau mungkin gelisah yang basah

Oh, rinduku...
Segala sisi berjeruji dan berduri
akan kulalui walau hati menari sebelum mati
karena getaran itu telah menjelma nyali
bernyanyilah
menarilah
membawa sekuntum sepi
kulafal huruf merangkai kalimat sakti:
Kau dan aku kini sembunyi

Perlahan kaki melangkah
tertatih namun pasti
meniti malam hingga dini
gumam tak lagi memaki
sunyi mencambuk bagai cemeti

Andai saja hatimu peduli
tentu saja aku takkan menari sepi
tapi kini aku berlari
mencari
menelusuri
menjelajahi
lalu meniti cinta yang siap mati

Jika tak teruji
kalian tak perlu iri


Tarailu Sul-Bar,05/05/2010


AAB - Belahan Jiwa

Belahan Jiwa
By Arif Agus Bege'h


Ingin kembali menatap senyummu
yang pergi membawa harapanku
Kembalikan ia bersama pagi,
sebelum kau sadar ada yang mati
satu belahan jiwa sejati
yang hanya bisa kau dapat dariku


Masamba Sul-Sel, 01/04/2010

AAB - ​Baju Dari Air Mata

Baju Dari Air Mata
By: Arif Agus Bege'h


Kemarahan adalah api yang membakar sia-sia
jika hanya kau lepaskan ke udara
menjadi abu yang ditiup angin
hilang tanpa bekas

​Aku memilih cara lain

​Kubiarkan rasa sakit itu mengendap
dingin dan sunyi
di dasar palung jiwaku yang paling dalam
perlahan, ia mengeras
membatu
menjadi karang yang tak sanggup diguncang ombak
tak mampu ditembus oleh tajamnya tipu daya yang datang dari tangan-tangan palsu

​Sekarang, lihatlah
aku berdiri bukan sebagai korban yang merintih
tapi sebagai penjaga dari kisahku sendiri
luka ini telah kutempa menjadi zirah
menjadi baju pelindung yang kujahit dengan benang ketabahan

​Setiap tetes yang dulu jatuh sia-sia
kini kusematkan menjadi perisai
jangan tanya lagi tentang perih
karena air mata yang kukenakan ini
adalah bukti bahwa aku tidak lagi bisa ditembus oleh kehampaan


Tarailu Sul-Bar, 20/02/2010