AAB - Di Balik Cadar Rindu



"Rindu bukanlah penghalang, melainkan jembatan gaib yang menghubungkan dua jiwa. Jangan takut pada jarak, karena kenangan yang telah menyatu dalam doa tidak akan pernah bisa dirobek oleh tangan siapa pun, bahkan oleh waktu sekalipun."

Di Balik Cadar Rindu
By: Arif Agus Bege'h


Di balik cadar rindu yang kian membalut
aku mengintai raut wajahmu, kekasih
wajah yang kekal menjadi pelita di palung sepi
memancarkan secercah cahaya dari relung hati yang tulus
menembus pekatnya jarak yang membentang


Di balik rindu
terhampar selembar kenangan yang kita rajut bersama
sebuah riwayat lama yang enggan menjadi dongeng belaka
namun selalu setia menghantarkan lelapmu
menuntunmu pulang menuju mimpi-mimpi benderang
tempat di mana aku dan kamu kembali menjadi satu


Di balik rindu
kau takkan pernah sanggup merobek lembar-lembar memori kita
sebab tak seorang pun mampu mengeja baris-baris cinta yang pernah sejajar
berjalin di antara derita dan bahagia dalam satu ruang hati
sebuah ruang sunyi yang tak lagi butuh cahaya luar
karena ia telah bersinar dari dalamnya sendiri


Di balik rindu
kulepaskan harapan bagi sebuah ungkapan yang tertunda
sesuatu yang suatu hari nanti akan merekah dari dasar batin
pada sebuah hari di mana aku tak lagi perlu bertanya
sebab aku tahu, aku telah bersemayam abadi di nadimu


Di balik setiap rindu yang berderu
ada doa yang menggantung di antara dua hati yang belum menyatu
sebuah penantian untuk meleburkan dua cahaya yang berbeda
menjadi satu pendaran agung yang takkan lagi mengenal kata pisah


Masamba Sul-Sel, 09/05/2014


AAB - Penantian Sebuah Rindu


"Cinta tidak selalu harus memiliki arah yang pasti sejak awal. Terkadang, kita hanya perlu menjadi seperti angin; membiarkan rasa itu berembus murni, hingga takdir sendiri yang mengantarkannya pada pemberhentian yang tepat."

Penantian Sebuah Rindu
By: Arif Agus Bege'h


Bila saatnya nanti
kutemukan satu titik terang di cakrawala
mungkin itulah jalan setapak menuju rindumu

Darimu, ada cintaku
dariku, ada cintamu

Biarkan rasa ini mengalir mengikuti takdir
sebab saat ini kita hanyalah sepasang angin
berembus tanpa arah yang pasti
menyentuh siapa saja yang dilewati

Namun, ketika cinta mulai bersemi di relung hatiku
dan barangkali di hatimu
sadarlah bahwa kita tak selalu bisa menuai rindu
meski benih harapan tumbuh begitu subur di antara kita

Izinkan aku mengeja arti cinta melalui kesedihan
melalui kegelisahan yang tak kunjung reda di bawah gerimis hujan
Aku yakin engkau tetap ada di sana
saat rindu dan cinta merindukan belaian kehangatan yang nyata

Sebab sebuah rindu memang harus dibayar tunai
dengan harga sebuah penantian yang panjang
dan pencarian yang tak jarang bersimbah air mata


Masamba Sul-Sel, 16/03/2014

AAB - Satu Takdir

Puisi ini adalah sebuah pengakuan bahwa cinta bukanlah sesuatu yang bisa ditolak atau dikendalikan oleh ego manusia. Ia adalah takdir yang menyatukan tawa dan tangis, mentari dan rembulan, dalam satu kebahagiaan yang utuh. Inilah 'Satu Takdir'.


Satu Takdir

By: Arif Agus Bege'h



Baja, batu, dan beton pun menjadi abu

tatkala cinta bertahta di singgasana kalbu

tak mampu kutolak

tak mungkin membatu

sebab ia takdir yang memaksa untuk menyatu


Di depan saksi

tawa dan tangis melabuh

menjadi janji yang tak lagi bisa roboh

menolak cinta adalah dosa yang sungguh

seperti memisah mentari dari rembulan yang teduh


Segala keras luruh dalam dekapan doa

satu bahagia lahir dari dua jiwa yang setia

kita tercipta berpasangan menolak arusnya sia-sia

sebab cinta adalah satu-satunya rumah bagi segala rasa



Masamba Sul-Sel, 23/02/2014

AAB - Meja Kayu dan Gelas Dingin

Cinta sejati bukanlah tentang dua orang yang saling memiliki, melainkan tentang runtuhnya ego masing-masing, agar ruang di antara mereka hanya dipenuhi oleh ketulusan yang tak berjarak.

Sebuah puisi tentang penghancuran ego

Meja Kayu dan Gelas Dingin
By: Arif Agus Bege'h


Kita berhadapan
sibuk membela diri
"Aku benar" katamu "Aku terluka" sahutku
di antara kopi yang hampir dingin
dua kepala batu menolak mengalah

Hening mengambil alih
kuturunkan nada bicara
kau melepas kepalan tangan
kita berhenti saling menuduh
menanggalkan gengsi yang melelahkan

Di lantai kedai
kata-kata tajam melunak jadi maaf
kesombongan runtuh perlahan
tanpa teriakan
hanya ada air mata

Tiada lagi menang atau kalah
meja terasa lapang tanpa drama dan pembelaan
justru dalam ruang hampa ini
kita akhirnya saling mendengarkan

Tersisa dua orang lelah berpura-pura kuat
bukan penguasa
bukan tawanan
hanya ada aku
kamu
dan kejujuran yang telanjang


Masamba Sul-Sel, 01/01/2014

AAB - Tatanan Rasa dan Semesta

Tatanan Rasa dan Semesta
By: Arif Agus Bege'h


Cinta yang sekadar lahir dari ketidaksengajaan
tidak akan pernah mampu menopang semesta
ia terlalu rapuh jika hanya bersandar pada peluang
tanpa akar yang menghujam tajam ke dalam kesadaran

Semestinya ia menjadi fondasi yang paling tegak
undang-undang pertama yang merawat peradaban manusia
bukan sebatas debar yang singgah lalu raib
melainkan hukum utama yang menjaga keseimbangan hidup

Sebab jauh sebelum langit merumuskan dogma
cintalah yang pertama kali memijak bumi ini
ia diutus sebagai kompas purba yang paling murni
menjadi terang bagi manusia yang baru meraba dunia

Namun seiring waktu kesucian itu perlahan buram
ketika rasa mulai dihunus sebagai senjata
manusia menyalahgunakan cinta demi menaklukkan
menghukum sesamanya atas nama kasih yang telah melenceng

Maka agama pun diturunkan ke dunia sebagai neraca pasti
membawa ketegasan dan deretan pagar pembatas
ia hadir mengemban tugas sebagai dasar hukum
untuk memperbaiki peradaban yang mempermainkan makna cinta

Lalu di antara segala rantai yang mengatur nasib
selemah-lemahnya peradilan tak lain adalah karma
sebuah hukum usang yang bekerja tanpa ruh dan kebijaksanaan
terjadi begitu saja hanya karena kebetulan sebuah keadaan

Pada akhirnya
putaran sebab-akibat tak lebih dari bayangan fana
di atas segala aturan dan pusaran nasib yang kebetulan
cinta yang utuh tetap berdiri teguh di puncak hierarki
bukan sebagai takdir yang kebetulan
melainkan kebenaran yang mutlak


Makassar, 15/12/2013