AAB - Parasit Dibalik Sepi



Parasit Dibalik Sepi
By: Arif Agus Bege'h


Sahabat hidup saling menjaga dan berkorban
musuh hidup berhadapan di medan pertempuran
kekasih hidup merawat kesetiaan dalam pelukan
orang asing hidup tanpa saling mengusik kedamaian

Mereka memiliki hukum yang adil dalam hubungan
jelas mana batas kawan
jelas mana garis pertahanan

Lalu, makhluk yang datang mengendap-endap di kala sepi
yang mengaku paling paham saat seluruh dunia menjauhi
membisikkan kata manis seolah dialah pelipur hati
dia bernama setan
selalu berpura-pura peduli

Dia sebenarnya hidup dari mana?
dia memakan bagian jiwaku yang mana?

Kita sering kali begitu lengah
menerima uluran tangannya saat iman sedang goyah
kita mengira dia kawan setia yang membasuh air mata
padahal dia sedang menuntun kita menuju tebing nestapa

Setelah hasutannya kita dengarkan
dan kita terbahak-bahak menikmati dosa
kita jadi lupa
demi sebuah kesenangan fana yang dia tawarkan
kita sedang menelantarkan diri
dalam kemiskinan jiwa yang mengerikan
setan setan pun berpura-pura lupa
setelah madu kesesatan itu habis kita telan
dia pergi meninggalkan kita
berjalan kaki di atas puing-puing penyesalan

Dia sungguh tahu
setiap bisikannya mempercepat kematian nurani manusia
lalu, bertahun-tahun setelah kita hancur
terpuruk dalam kehampaan
masih dengan wajah ramah yang sama
si penipu ulung itu datang kembali
mengetuk pintu hati yang retak
tersenyum simpul dan berkata:
"Aku datang lagi gaes!"

Manusia yang telah sadar menatapnya dengan murka dan luka:
"Pergilah, kau adalah musuh yang nyata!"

Ha ha ha
Namun setan tertawa parau
menunjuk sisa-sisa iman yang hampir habis
lalu berkata:
"Jika jiwamu tidak kuhancurkan sampai tandas,
setan hidup memakan apa?"


Majene Sul-Bar, 15/01/2022

AAB - Menanggalkan Arus



Menanggalkan Arus
By: Arif Agus Bege'h


Bukan perihal kalah
bukan pula tentang menyerah
aku hanya sedang memulangkan detak yang sempat kau titip
ke ruang sunyi tempat segala asa berlabuh tanpa paksa

Sebab mencintai
pada akhirnya
adalah seni melepaskan
membiarkan setiap kenangan menemukan rumahnya sendiri
bukan lagi di saku bajuku bukan lagi di sela napasku

Kubiarkan ia mengalir
tak lagi kukunci dalam dekapan
karena yang benar-benar abadi tidak akan pernah menuntut
ia hanya perlu dibiarkan menetap sebagai sejarah
tanpa harus kukorbankan langkahku untuk terus menjamah.


Masamba Sul-Sel, 01/01/2022

Sajak Panggilan Badai

Panggilan Badai
By: Arif Agus Bege'h


Gelap mulai mengepung cakrawala
awan hitam bergulung membawa kabar buruk dari utara
semua orang berlari mencari tempat bersembunyi
menutup pintu dan mengunci jendela rapat-rapat


Tapi lihatlah
siapa yang masih berdiri di sini!
di tengah lapangan terbuka
menantang arah angin
dada ini tidak dirancang untuk bersembunyi dari ketakutan
melainkan untuk menyambut
setiap hantaman dengan kepala tegak

Mereka bilang
jalan ini terlalu sunyi dan berbahaya
bahwa kaki yang telanjang
akan hancur oleh tajamnya batu
namun mereka lupa
bahwa tapak kaki ini telah mengeras
ditempa oleh perjalanan panjang yang penuh air mata

Biarkan petir menyambar membelah langit!
suaranya menggelegar tidak akan membuat jantung ini ciut
sebab gemuruh di dalam jiwa
jauh lebih besar
dari sebuah pemberontakan terhadap nasib

Kita bukan daun kering yang pasrah diterbangkan angin malam
kita adalah pohon tua dengan akar yang tertanam sangat dalam
makin keras angin mencoba merubuhkan batangnya
makin kuat cengkeraman kita pada tanah kehidupan

Dengarkanlah wahai malam yang pekat!
sunyi yang kau tebarkan
tidak akan membungkam suara kami
sebab kebenaran tidak butuh ruang yang megah untuk terdengar
ia hanya butuh satu tenggorokan yang berani berteriak bebas

Waktu mungkin telah mengikis banyak hal dari diri kita
masa muda, tawa, dan kenyamanan yang pernah singgah
namun waktu tidak pernah bisa menyentuh satu hal:
harga diri yang tetap menyala di balik sisa-sisa luka

Maka majulah!
jangan tunggu sampai badai ini mereda
kita akan menembus hujan lebat ini bersama-sama
menghancurkan dinding keraguan yang menghalangi jalan!

Sebab di ujung badai nanti
sebuah fajar sedang menunggu
bukan untuk mereka yang bersembunyi di dalam rumah
melainkan untuk kita
para petarung yang bertahan
hingga tetes hujan terakhir jatuh ke bumi


Masamba Sul-Sel, 12/12/2021

AAB - Retak Yang Bijak

 

"Kita tidak perlu menjadi batu yang hancur karena benturan. Belajarlah menjadi air; yang tetap utuh meski harus mengalah pada arah arus yang ia lalui."

Retak Yang Bijak
Oleh: Arif Agus Bege'h


Badai tak memilah seberapa dalam akar tertanam
ia hanya datang memangkas yang angkuh dan kelam
jangan memahat diri menjadi karang yang beku
sebab keras yang berlebih hanya mengundang retak di saku

Kita sering lupa
bahwa luka adalah ruang bagi cahaya
bahwa setiap retakan adalah jalan bagi doa untuk menyapa
mengapa harus menantang gelombang dengan dada yang sesak?
jika pada akhirnya keangkuhan hanyalah cara tercepat untuk terkoyak

Belajarlah menakar nasib serupa air yang mengalir
menanggalkan ego sebelum hancur di akhir
ia tak pernah melawan arus meski tajam menghujam
ia justru memeluk batu hingga waktu membuatnya tenteram

Terkadang
kita perlu patah agar bisa melentur
melepaskan genggaman yang membuat jiwa terkapar luntur
sebab menjadi manusia bukanlah tentang siapa yang paling tegar
tapi tentang siapa yang berani ikhlas
kembali tegak
sebelum benar-benar terkubur


Masamba Sul-Sel, 22/11/2021

AAB - Kunci Tidak Salah

Kunci Tidak Salah
By: Arif Agus B


Dinding sibuk memelihara gema
orang-orang saling menunjuk
seolah telunjuk lebih berguna daripada jalan keluar
lalu seseorang berkata
"Cari kuncinya."

Pintu tidak pernah tertawa
melihat kunci yang kecil
ia tidak berkata
"Ukuranmu terlalu pendek."
ia hanya menunggu
siapa yang benar-benar
mengerti cara membuka

Lucu
manusia sering memilih
memukul daun pintu
sampai catnya mengelupas
padahal yang dibutuhkan bukan tenaga
melainkan arah

"Aku sudah mencoba"
benarkah?
atau hanya mengulang cara yang gagal
dengan suara yang lebih keras?
kesalahan lama tidak berubah menjadi benar
hanya karena diulang

Ada orang yang memarahi keadaan
ada yang menyalahkan waktu
ada yang menuduh nasib
tak seorang pun bertanya kepada dirinya
"Apakah aku membawa kunci yang tepat?"

Gembok tidak pernah lahir untuk menghinamu
ia hanya setia menunggu pasangan yang sesuai
yang keras kepala bukan besi
tapi sering kali pemilik tangan

Aneh sekali
saat menghadapi pintu
semua orang mencari kunci
namun ketika menghadapi masalah
banyak yang sibuk mencari kambing hitam
seolah menyalahkan lebih mudah daripada berpikir

Kalau pintu bisa berbicara
mungkin ia akan berkata
"Aku tidak sedang menghalangimu.
aku hanya ingin tahu, 
apakah kau datang dengan cara yang benar."
betapa sederhana pelajaran itu
betapa rumit cara manusia menghindarinya

Maka berhentilah berdebat dengan tembok
berhentilah membenci gembok
berhentilah mengutuk jalan yang tertutup
sebab setiap jalan keluar
tidak lahir dari suara paling keras
melainkan dari kepala yang mau mencari kunci
sebelum menyalahkan pintu


Masamba Sul-Sel, 02/10/2021

(QS. At-Talaq [65]: 2–3)

 وَمَن يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَل لَّهُ مَخْرَجًا ۝ وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ 


Wa may yattaqillāha yaj‘al lahū makhrajā. Wa yarzuqhu min ḥaitsu lā yaḥtasib.

"Barang siapa bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan memberikan baginya jalan keluar. Dan Dia akan memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangkanya."