AAB - Kurban Sejati, Candu Yang Disembelih

Kurban Sejati, Candu Yang Disembelih
By: Arif Agus B


Di sela gema takbir yang menggetarkan langit
aku tak membawa ternak ke altar suci
kusembelih ego yang membara di ujung linting
mematikan api yang selama ini menjajah diri

Melewati perjalanan hujan dan air mata
kunikmati sesak yang luruh menjadi lega
sebab kurban sejati bukan hanya tentang darah
tapi tentang memutus rantai candu
demi kembali ke fitrah

Napas ini adalah kurbanku
bersih
sunyi
dan abadi


Masamba Sul-Sel,  03/05/2026

AAB - Kurban Tembakau

Kurban Tembakau
By: Arif Agus B


Di sela jari yang menghitam oleh jelaga
ia titipkan sebuah pinta yang paling purba
"Beri aku seorang putra, ya Tuhan,
maka akan kumatikan bara terakhir di hidupku"

Ia adalah tawanan asap
lelaki yang parunya telah lama menjadi abu
namun cinta ternyata lebih purba dari candu
dan janji adalah harga mati
bagi sebuah doa yang dikabulkan

Melalui perjalanan hujan
panjang dan dingin
serta air mata yang jatuh
di sujud-sujud paling sunyi
Tuhan akhirnya mengamini

Saat tangis lelaki kecil itu pecah di ambang fajar
ia tidak menyulut api untuk merayakan
ia justru mematahkan batang terakhirnya
membiarkan udaranya bersih
demi sebuah masa depan

Bagi dunia, itu hanya berhenti merokok
namun baginya
itu adalah cara mencintai yang paling suci
membunuh kecanduan
demi menghidupkan kasih sayang


Masamba Sul-Sel, 02/05/2026

AAB - Overheating



Overheating (Hangus Kepala)
By: Arif Agus Bege'h


​Tiga puluh tab di kepala sengaja tak ku-close
satu memutar masa lalu
satu membaca tips sukses usia muda
sisanya cuma loading kosong yang bikin lemot
terjebak tuntutan dunia yang tak ada habisnya

​Malam larut
dadaku berderu bak kipas laptop dipaksa
sistem memprotes panasnya ekspektasi
memori penuh oleh sampah fana
dan kantuk tak kunjung direstui

​Aku butuh shutdown dari bisingnya validasi
namun jika tombol itu terlalu jauh digapai
kemarilah
ketuk keningku
dan tekan refresh


Masamba Sul-Sel, 01/05/2026

AAB - Bara Sesat di Meja Doa

Bara Sesat di Meja Doa
By: Arif Agus B


Di antara khusyuk yang mengadu pada Ilahi
mengalir doa-doa wangi
menenun harap pada sepetak permadani
di tengah perjalanan jiwa
mencari jati diri
tiba-tiba
ada sesat yang menyusup pergi

Dari jemari yang gemetar karena candu
ada bara yang egois merayu
satu hembusan
sekadar rehat yang semu
tapi ribuan nafas tersengal pilu
laksana hujan abu yang menyesakkan rindu

Itu bukan sekadar kepul keabuan
itu adalah pedang yang kau hunus pelan
tanpa sadar
kau sedang menyerang ketenangan
menitipkan airmata
tersembunyi pada setiap isapan
menusuk dada mereka yang tulus dalam kebersamaan

Hormatilah udara yang mereka hirup
di tempat di mana harapan seharusnya tumbuh
jangan biarkan asap keangkuhanmu
menjadi duri di kelembutan ukhuwahmu


Masamba Sul-Sel, 01/05/2026 

AAB : Cahaya di Relung Jiwa


"Cinta sejati tidak terletak pada seberapa sering nama seseorang diucapkan, melainkan pada seberapa dalam kehadirannya dirasakan dalam setiap hela napas dan doa yang dipanjatkan secara rahasia."

Cahaya di Relung Jiwa
By: Arif Agus Bege'h


Sesekali kupanggil dirimu dalam senyap

sebab senyummu tak pernah lelah merayu setiap denyut jantungku

seakan engkau ingin bertahta dalam setiap degub dan hela napasku


Sesekali kurapal bayangmu

karena kutahu engkau pun tak jarang menyertakanku

menjadi penyempurna doa dan mantra penenang hati yang sedang bergelombang


Sesekali kusebut engkau

saat terdiam dalam waktu yang tidak sebentar

seakan semesta turut merenung

menyimak hasrat dan harapan untuk seorang kekasih idaman

sepertimu.


Izinkan aku kali ini tetap sesekali memanggilmu

dalam diam

dalam harapan

dalam ketulusan rindu yang tiada terkira

dalam cahaya yang tak satupun mampu membuatnya jadi gelap


Hanya untukmu yang sesekali kusebut

sebab yakinlah bahwa ketika hari itu tiba

tiada lagi waktu terbuang sebagai antara untuk saling mencari

hanya ada panggilan mesra sebagai tanda ketulusan kasih dan sayang kita

untuk selamanya.


Sesekali kupanggil engkau dengan segenap rasa

meskipun siapapun namamu di dunia nyata

engkau tetaplah cahaya tunggal di jiwaku



Masamba Sul-Sel, 21/03/2025