AAB - Belantara Retak

 



"Jangan pernah malu dengan retakan pada jiwamu; retakan itulah yang membuat cahaya akhirnya bisa memantul keluar untuk dilihat dunia."

Belantara Retak
By: Arif Agus Bege'h


Suasana telah menjadi hitam
berjalanlah melalui lorong belakang
dan jiwa-jiwa tidak akan tahu
apa yang telah kita simpan dalam bimbang

Mereka masih sibuk membicarakan pekat
dan di antara kita telah saling memahami
tak perlu risau oleh waktu yang mencelat
sebab cerita tetap akan sampai meski di dalam sunyi

Namun lihatlah
lampu sorot kini menyala
membongkar habis topeng yang kita bawa
kita bukan lagi pemenang yang bersembunyi dalam ragu
sebab kebenaran adalah gema yang paling lantang
ia tak lagi butuh bayang
ia ingin berdiri telanjang

Lusa dan belasan perjalanan waktu kemudian
yang semula terlihat akhirnya menjadi belantara
tempat di mana setiap cela yang merayap
kini memantul menjadi retakan yang merdeka

Cepat
segera
saatnya
semua akan terbaca dengan sendirinya


Masamba Sul-Sel, 12/06/2026


Di Balik Pundak Yang Teguh



"Seringkali kita diajarkan bahwa diam adalah ketabahan, dan mengeluh adalah kekalahan. Namun kali ini, mari kita belajar melepaskan sedikit tali yang mencekik napas itu. Mari jujur pada diri sendiri. Inilah puisi tentang jiwa-jiwa yang lelah namun tetap melangkah, karya Penyair Aspulut: 'Di Balik Pundak yang Teguh'."

Di Balik Pundak yang Teguh

By: Arif Agus Bege'h



Kau berdiri seperti karang di tengah deburan

menahan badai

menelan riak-riak kesakitan

matamu bicara tentang peta perjalanan yang berat

tentang malam-malam di mana kau menolak untuk beristirahat


Ada seuntai beban yang kau ikat kuat di punggungmu

seolah dunia akan runtuh jika kau lepaskan satu

namun dengarlah

wahai jiwa yang sering terengah

langit pun butuh awan untuk membagi beban resah


Bumi tak pernah berputar sendirian dalam sunyi

ada gravitasi yang saling memeluk

menjaga harmon


Tidak semua beban perlu kamu pikul sendiri

sebab pundakmu manusia bukan pilar besi yang abadi

kita sering diajarkan bahwa diam adalah ketabahan

bahwa mengadu adalah kekalahan yang memalukan


Lalu kita mengunci pintu mematikan lampu di dalam dada

berpura-pura tegar meski batinmu basah oleh hujan yang melanda

padahal di dalam

retakan mulai merayap pelan

meminta ruang

meminta sedikit saja perhatian


Belajarlah meminta bantuan

sebab di sana bukan letak kehancuran

mengulurkan tangan bukan berarti kau telah patah

tapi tanda bahwa kau cukup berani untuk bersikap rendah


Biar saja airmata jatuh membasahi pipi yang lelah

sebab mengakui kerapuhan bukanlah sebuah fakta yang salah

meminta bantuan bukan tanda kelemahan

melainkan bukti bahwa kau menghargai kehidupan


Satu tangan yang kau raih satu bahu yang kau pinjam

bisa jadi lentera di tengah lorong yang sedang menghitam

kau tak harus menjadi pahlawan yang selalu menang

terkadang, menjadi manusia yang jujur jauh lebih tenang


Lepaskan sedikit tali yang mencekik napas mu itu

bicaralah pada angin

atau pada sahabat yang menunggu

dunia takkan menghakimi langkahmu yang melambat

sebab yang paling mencintaimu

ingin melihatmu selamat


Berhentilah memikul segalanya sendirian

sebab di sela-sela kebersamaan

ada damai yang Tuhan titipkan



Masamba Sul-Sel, 11/06/2026

AAB - Roda Menolak Diam


"Berhentilah menganggap hidup adalah roda yang berputar dengan sendirinya, sebab nasib bukanlah mekanisme otomatis yang bekerja tanpa bahan bakar. Tuhan telah memberikan mesin berupa akal, tenaga, dan kehendak. Jika roda kehidupanmu tak kunjung berputar, jangan tanyakan mengapa Tuhan tidak adil, tetapi tanyakan seberapa besar daya dan upaya yang telah kau curahkan untuk menggerakkannya."

Roda Menolak Diam
By: Arif Agus Bege'h


Bukan sekadar lingkaran besi yang pasrah pada nasib
bukan pula poros yang menunggu takdir memanggilnya naik ke langit
roda adalah janji
adalah jejak yang mesti dipahat di atas tanah
sebab tanpa daya yang membakar
ia hanyalah rongsokan yang terlelap dalam lelah

Kita sering berbisik pada angin
mengeluh tentang posisi yang di bawah
menuding semesta
menunjuk Tuhan seolah dialah yang membelenggu langkah
padahal, di tanganmu ada api
di kakimu ada otot dan nyali
mengapa kau biarkan roda itu membeku
hanya menjadi saksi mimpi yang mati?

Roda kehidupan tidak berputar oleh waktu yang sekadar berlalu
ia berputar oleh tetes keringat
oleh tekad yang tak kenal buntu
setiap engsel yang berderit adalah suara dari upaya yang kau kerahkan
setiap tanjakan adalah ruang bagi kekuatanmu untuk dibuktikan

Jangan kau gadai kegagalanmu dengan menyalahkan ketetapan-Nya
sebab Tuhan telah memberi mesin berupa akal dan jiwa yang merdeka
jika roda itu terhenti
jangan cari alasan pada langit yang diam
periksalah kembali daya di tanganmu
sebelum kau karam dalam kelam

Jadilah nahkoda bagi poros hidupmu sendiri
tarik napas
gerakkan roda itu
raih tujuan yang menanti
sebab nasib bukanlah surat yang datang dari langit tanpa nama
ia adalah lukisan yang kau coretkan dengan daya upaya dan doa yang terjaga


Masamba Sul-Sel, 08/06/2026

AAB - Isyarat Di Balik Hujan



"Terkadang, langkah terbaik bukanlah berlari mengejar keinginan, melainkan berhenti sejenak untuk membiarkan keikhlasan menjemput impian yang tak pernah kita sangka."

Isyarat Di Balik Hujan
By: Arif Agus Bege'h


Bukan perintang
hujan pagi ini turun menyapa
membasuh debu pundak mendinginkan lelah jiwa di Masamba

Di meja ini
"Takaran Sabar" menjadi saksi
bahwa menepi sejenak bukanlah akhir dari ambisi

Di balik kabut dingin yang menyapa
harapan yang lembut datang menjemput sapa

Tak perlu lagi mengejar dengan paksa
cukup ikhlas
hingga ia pulang ke sukma


Masamba Sul-Sel, 05/06/2026

AAB - Salah Menilai Langit



Salah Menilai Langit
By: Arif Agus Bege'h


Salah dalam menilai makna langit
kau kira ia hanyalah bentangan biru yang manja
tempat sunyi bersembunyi di balik megahnya
tempat pasrah bagi jiwa-jiwa yang menyerah
tidak, kau keliru, kau sama sekali buta

Langit adalah altar paling jujur
ia tak pernah tunduk pada takdir yang memudar
jika mendung datang
ia tak sudi mundur
jika amarah memuncak
ia runtuhkan petir mendampar
ia tidak meminta izin pada bumi untuk bergemuruh
ia tidak mengemis pada waktu untuk meruntuhkan angkuh

Lihatlah ke atas
ia tak pernah menahan jatuhnya hujan
ia tak pernah menyembunyikan badai di balik awan
sebab langit tahu kapan harus menggelegar
dan merobek kesunyian yang berpura-pura sabar

Di sana, di balik jubah hitam mega-mega
ada perang yang berkecamuk tanpa suara
ada tangis yang menjelma menjadi air mata badai
dan luka yang dipaksa sembuh sebelum tercerai
maka jangan kau dikte cakrawala dengan kelemahanmu
jangan kau ukur luasnya dengan ketakutanmu

Sebab pada akhirnya...
langit akan tetap berdiri
kokoh dan menyala
merajut mendung
memeluk petir
membasuh lara

Dan kita hanyalah debu...
yang terkesiap melihatnya berkuasa


Masamba Sul-Sel, 04/06/2026