• "Di dunia yang terlalu sering dimabuk oleh retorika, kita kerap lupa bahwa kata-kata hanyalah kulit. Kebijaksanaan sesungguhnya tidak lahir dari apa yang diucapkan, melainkan dari apa yang diperjuangkan dalam sunyi. Inilah sebuah pengingat untuk kita semua."


    Di Balik Kata
    By: Arif Agus Bege'h


    Jangan kau ukir kebijaksanaan seseorang
    hanya dari indahnya untaian kata yang ia bentang
    sebab lidah seringkali menari lebih lincah
    menutup celah yang kosong di dalam dada

    Kebijaksanaan bukanlah hiasan bibir yang dipoles rapi
    ia adalah akar yang tertanam dalam buah pikiran
    ia adalah jejak nyata yang tertinggal dalam tindakan
    Sebuah janji yang dibuktikan bukan hanya yang disuarakan

    Lihatlah bagaimana ia melangkah di tengah badai
    lihatlah bagaimana ia bersikap saat tak ada yang memuji
    sebab di situlah cermin yang paling jujur
    tempat karakter diuji dan martabat diukur

    Jangan mudah terpesona pada kemilau retorika
    karena yang palsu akan luntur oleh waktu
    namun integritas
    ia akan tetap tegak
    menjadi saksi bisu dari jiwa yang benar-benar bijak


    Mamuju Sul-Bar, 15/02/2023

    AAB - Di Balik Kata

    0



  • "Hidup bukan tentang seberapa cepat kita mencapai garis akhir, melainkan tentang seberapa dalam kita memaknai setiap napas yang kita ambil. Di tengah derasnya perubahan zaman, kadang kita perlu berhenti sejenak, membiarkan kenangan membasuh luka, dan kembali mengumpulkan doa. Berikut adalah bait-bait yang saya tulis sebagai pengingat bagi diri sendiri."

    Dawai Waktu
    By: Arif Agus Bege'h


    Di beranda waktu
    aku menakar sisa jejak
    saat usia kian deras membawa cerita
    perjalanan ini tak selalu ramah
    namun bara di dada enggan menyerah

    Seringkali kenangan menjelma hujan
    membasuh getir yang tertinggal di ingatan
    aku tak lagi memusuhi perih yang hadir
    sebab di sana
    aku belajar mendewasa

    Jika langkahku kini mulai melambat
    bukan berarti airmata menumpulkan niat
    Ini hanya jeda untuk memanen doa
    agar esok mampu berpijak lebih kokoh

    Biarlah nasib bergulir sesuai takdirnya
    aku tetap memegang teguh komitmen diri
    menjaga api harapan tetap menyala
    meski jalan yang kutempuh kian sunyi

    Kelak saat rambut memutih dimakan zaman
    aku ingin tetap tegar menyambut senja
    sebab hidup bukan tentang cepatnya tiba
    melainkan tetap bertahan hingga titik akhirnya


    Mamuju Sul-Bar, 01/01/2023

    AAB - Dawai Waktu

    0

  • "Berapa banyak dari kita yang sibuk mengejar puncak, hanya untuk mendapati diri kita kesepian di atas sana? Sebelum ego menghancurkan kita... Inilah sajak Tahta Di Puncak Sunyi...."

    Tahta Di Puncak Sunyi
    By: Arif Agus Bege'h


    Ketika kita memilih kebanggaan
    menjadi raja dalam jiwa,
    sesungguhnya kita telah tersesat
    menuju puncak kesombongan!

    Kita paku mahkota di kening!
    Terbuat dari logam ego yang berkilau semu,
    Merasa paling tinggi di atas angin
    hingga lupa tanah tempat bertumpu.

    Langkah kaki kian pongah mendaki
    melewati lereng puji yang fana.
    Setiap sapa dianggap sembah bakti,
    membuat mata hati buta warna!

    Di kanan kiri tebingnya curam!
    Tempat peduli sengaja kita jatuhkan,
    sebab sang raja tak boleh terlihat legam
    oleh jelaga ketidaksempurnaan.

    Lalu sampailah kita di puncak tertinggi,
    merayakan kemenangan seorang diri.
    Tiada lagi angin menyanyikan puji,
    hanya ada sunyi yang menusuk nadi!

    Takhta angkuh yang kita bangun
    rupanya hanyalah istana pasir yang rapuh,
    menanti waktu menyapu beruntun,
    meruntuhkan jiwa yang terlanjur angkuh.

    Di puncak itu kita mengerti,
    tak ada agung dalam kesendirian!
    Kita tidak sedang merajai bumi,
    kita tersesat memeluk kehampaan!


    Mamuju Sul-Bar, 10/10/2022

     

    Sajak Tahta Di Puncak Sunyi

    0
  • "Puisi ini adalah renungan bagi mereka yang memegang amanah sebagai penjaga kualitas sastra, namun memilih untuk berpaling dari tanggung jawabnya."

    Matinya Sang Penjaga
    By: Arif Agus Bege'h


    Ia memoles kata
    namun jiwanya beku
    hanya menjual sanjungan di atas debu
    tak ada bedah makna
    tak ada api yang menyala
    sastra baginya hanyalah panggung penuh tipu daya

    Mata tertutup pada luka dan duka
    pena tumpul
    digerogoti kepentingan celaka
    ia pengkhianat yang memilih bungkam
    membiarkan karya berharga mati terendam

    Seharusnya kompas bagi pembaca yang sesat
    Kini malah menyesatkan dengan pujian sesaat
    ia biarkan mediokritas tumbuh subur dan meraja
    menjadikan sastra sekadar komoditas belaka

    Tak ada kritik
    hanya gema yang basi
    kehilangan nurani
    tenggelam dalam distorsi
    martabatnya gugur di meja yang sunyi
    membunuh ruh kata dengan nalar yang mati

    Wahai penista aksara yang terlelap dalam semu
    sejarah mencatat khianatmu dengan abu
    saat kau abaikan esensi dan kedalaman
    sastra hanyalah bangkai dalam kehampaan


    Mamuju Sul-Bar, 09/09/2022

    Matinya Sang Penjaga

    0


  • Bidadari Hatiku
    (Untuk Istriku Nurhasanah)
    By: Arif Agus Bege'h


    Di bawah langit Pantai Manakarra
    kita merajut kisah
    melangkah bersama
    dalam perjalanan panjang yang tak selalu mudah
    engkau tetap tegar
    meski badai mencoba menggoyah

    Setiap hujan yang jatuh membasahi bumi
    seolah menjadi saksi betapa sabarnya hatimu
    engkau merangkul segala kurangku dengan ikhlas
    menjadi rumah tempatku berpulang saat napas terasa lepas

    Dan saat airmata harus jatuh membasuh pipi
    engkau tetap berdiri menyungging senyum yang berarti

    Terima kasih, Nurhasanah belahan jiwa yang sejati
    karena bersamamu
    segala luka mampu kuobati

    Dari suamimu yang selalu mencintaimu


    Mamuju Sul-Bar, 31/08/2022

    AAB - Bidadari Hatiku

    0


  • Kita sering mengira, menjadi pencuri berarti mengambil harta. Padahal, pencurian paling merugi adalah ketika kita merampas aib dan fitnah dari punggung orang lain, lalu dengan bangga memikulnya di pundak kita sendiri. Di saat mereka pulang membawa ampunan, kita justru terkapar memeluk beban pinjaman.
    Simaklah sebuah sajak... "Kolektor Jelaga."

    Kolektor Jelaga
    By: Arif Agus Bege'h


    Mereka mengetuk langit dengan dahi,
    memeras air mata di altar sepi,
    memohon noda masa lalu luruh,
    menjadi putih, menjadi utuh.

    Sementara kita, berdiri di tikungan,
    menjadi perampok di tengah jalan.
    Bukan emas yang kita sasar dari sesama,
    melainkan rongsokan kutuk dan dosa.

    Tangan kita lincah memunguti nanah,
    merampas aib yang nyaris punah.
    Lalu kita tebar di pasar-pasar kata,
    seolah itu wewangian kasta.

    Kita adalah kolektor jelaga,
    menyita arang dari tungku tetangga.
    Wajah mereka perlahan dibasuh cahaya,
    wajah kita legam tertimbun dusta.

    Di cermin waktu yang kian berkarat,
    kita bangga memikul sekarung laknat.
    Mengira sedang meruntuhkan takhta orang,
    padahal menggali kubur sendiri yang gersang.

    Waktu yang lebur di balik penanggalan,
    hanya menyisakan riuh kesesatan.
    Kita bersihkan halaman dengan belati,
    sambil menimbun bangkai di dalam hati.

    Kelak di perbatasan yang paling sunyi,
    saat semua topeng runtuh membumi:
    Mereka pulang membawa ampunan,
    kita terkapar memeluk beban pinjaman.


    Mamuju Sul-Bar, 17/08/2022

    Sajak Kolektor Jelaga

    0

  • Tuhan memberi sabar tanpa batas, lalu mengapa kita sibuk membuat batasan? Tundukkan egomu, bersiaplah menghadapi... Inilah Sajak Dialektika Tanpa Tepi.

    Dialektika Tanpa Tepi
    By: Arif Agus Bege'h


    Manusia adalah bait-bait yang ditulis dalam keterbatasan
    daging yang menua, usia yang berkejaran dengan nisan,
    kita dipatok oleh ruang, disekat oleh waktu yang ringkih.
    Namun di balik dada yang sempit ini,
    Tuhan menyisipkan sebuah semesta yang tak punya dinding
    ruang maha luas bernama Iman dan Takwa.

    Lihatlah ke dalam jiwamu yang paling sunyi,
    Tuhan menurunkan sabar bukan sebagai cangkir yang mudah penuh,
    melainkan samudera raya yang tak memiliki garis pantai.
    Ia dilepaskan bebas, tanpa pasak, tanpa pembatas,
    sepenuhnya diserahkan ke dalam genggaman kuasamu,
    menjadi otoritas mutlak bagi caramu mengeja dunia.

    Namun ego seringkali bertingkah seperti dinding penjara.
    Kita yang jemawa, dengan angkuh menggaris batas,
    berkata pada diri sendiri: "Cukup, sabarku sudah habis."
    Lalu kita menyalakan api dari sumbu yang pendek,
    membiarkan ruang lapang itu menyempit seketika,
    dan menggantinya dengan ruang pamer kesombongan.

    Maka jangan pernah kau tudingkan jemari ke langit,
    jangan pernah kau salahkan ketetapan Tuhan yang Maha Adil,
    jika batasan-batasan yang kau ciptakan sendiri itu
    kelak menjelma menjadi badai ancaman di hari depan,
    menjadi bencana senyap yang meruntuhkan rumah kedamaian
    yang telah kau bangun dengan susah payah.

    Kehidupan ini, pada hakikatnya, hanyalah sebuah
    perjalanan, hujan, dan airmata yang saling bertukar rupa.
    Perjalanan adalah bentangan waktu yang menagih ketabahan,
    hujan adalah berkah yang seringkali menyamar sebagai kelam,
    dan airmata adalah bahasa paling jujur dari jiwa
    saat ia mulai letih memikul beban keduniawian.

    Jika dadamu mulai sesak oleh gemuruh ketakutan,
    jika jiwamu gemetar menatap bayang-bayang ujian,
    atau ketika musibah datang tanpa mengetuk pintu rumahmu,
    hanya ada satu jalan untuk tetap tegak berdiri:
    tundukkan egomu serendah-rendahnya,
    runtuhkan menara keangkuhanmu hingga menyentuh debu.

    Menunduk bukan berarti kau kalah oleh keadaan,
    melainkan cara terbaik untuk meloloskan diri dari hantaman badai.
    Sebab di titik paling rendah, saat kesombongan telah sirna,
    kesabaran itu akan bertransformasi menjadi sayap yang lebar.
    Ia membebaskanmu dari kungkungan rasa sakit,
    membuatmu terbang di atas masalah yang mendera.

    Sabar yang bebas adalah sabar yang tidak lagi menghitung luka.
    Ia adalah aksi paling berani di tengah kepasrahan,
    sebuah kebebasan sejati di mana kau memilih untuk tetap memeluk damai
    ketika dunia memberikanmu seribu alasan untuk mengamuk.
    Ia tidak berkurang karena dicaci,
    ia tidak habis karena dikhianati.

    Ketahuilah, wahai pengembara yang melangkah di bumi yang fana,
    di ujung jalan yang basah oleh sisa badai ini,
    sabar adalah ketukan yang paling didengar di langit.
    Ia adalah satu kunci utama yang membebaskan,
    yang akan membuka satu demi sekian banyak pintu Syurga,
    tempat di mana segala batas dan airmata dilebur menjadi kebahagiaan yang abadi.


    Mamuju Sul-Bar, 10/08/2022

    Sajak Dialektika Tanpa Tepi

    0


  • Menanggalkan Arus
    By: Arif Agus Bege'h


    Bukan perihal kalah
    bukan pula tentang menyerah
    aku hanya sedang memulangkan detak yang sempat kau titip
    ke ruang sunyi tempat segala asa berlabuh tanpa paksa

    Sebab mencintai
    pada akhirnya
    adalah seni melepaskan
    membiarkan setiap kenangan menemukan rumahnya sendiri
    bukan lagi di saku bajuku bukan lagi di sela napasku

    Kubiarkan ia mengalir
    tak lagi kukunci dalam dekapan
    karena yang benar-benar abadi tidak akan pernah menuntut
    ia hanya perlu dibiarkan menetap sebagai sejarah
    tanpa harus kukorbankan langkahku untuk terus menjamah.


    Masamba Sul-Sel, 01/01/2022

    AAB - Menanggalkan Arus

    0
  •  

    "Kita tidak perlu menjadi batu yang hancur karena benturan. Belajarlah menjadi air; yang tetap utuh meski harus mengalah pada arah arus yang ia lalui."

    Retak Yang Bijak
    Oleh: Arif Agus Bege'h


    Badai tak memilah seberapa dalam akar tertanam
    ia hanya datang memangkas yang angkuh dan kelam
    jangan memahat diri menjadi karang yang beku
    sebab keras yang berlebih hanya mengundang retak di saku

    Kita sering lupa
    bahwa luka adalah ruang bagi cahaya
    bahwa setiap retakan adalah jalan bagi doa untuk menyapa
    mengapa harus menantang gelombang dengan dada yang sesak?
    jika pada akhirnya keangkuhan hanyalah cara tercepat untuk terkoyak

    Belajarlah menakar nasib serupa air yang mengalir
    menanggalkan ego sebelum hancur di akhir
    ia tak pernah melawan arus meski tajam menghujam
    ia justru memeluk batu hingga waktu membuatnya tenteram

    Terkadang
    kita perlu patah agar bisa melentur
    melepaskan genggaman yang membuat jiwa terkapar luntur
    sebab menjadi manusia bukanlah tentang siapa yang paling tegar
    tapi tentang siapa yang berani ikhlas
    kembali tegak
    sebelum benar-benar terkubur


    Masamba Sul-Sel, 22/11/2021

    AAB - Retak Yang Bijak

    0
  • - Copyright © Aspulut - Powered by Blogger -