"Puisi ini adalah renungan bagi mereka yang memegang amanah sebagai penjaga kualitas sastra, namun memilih untuk berpaling dari tanggung jawabnya."
Matinya Sang Penjaga
By: Arif Agus Bege'h
Ia memoles kata
namun jiwanya beku
hanya menjual sanjungan di atas debu
tak ada bedah makna
tak ada api yang menyala
sastra baginya hanyalah panggung penuh tipu daya
Mata tertutup pada luka dan duka
pena tumpul
digerogoti kepentingan celaka
ia pengkhianat yang memilih bungkam
membiarkan karya berharga mati terendam
Seharusnya kompas bagi pembaca yang sesat
Kini malah menyesatkan dengan pujian sesaat
ia biarkan mediokritas tumbuh subur dan meraja
menjadikan sastra sekadar komoditas belaka
Tak ada kritik
hanya gema yang basi
kehilangan nurani
tenggelam dalam distorsi
martabatnya gugur di meja yang sunyi
membunuh ruh kata dengan nalar yang mati
Wahai penista aksara yang terlelap dalam semu
sejarah mencatat khianatmu dengan abu
saat kau abaikan esensi dan kedalaman
sastra hanyalah bangkai dalam kehampaan
Mamuju Sul-Bar, 09/09/2022
Matinya Sang Penjaga
0Bidadari Hatiku
(Untuk Istriku Nurhasanah)
By: Arif Agus Bege'h
Di bawah langit Pantai Manakarra
kita merajut kisah
melangkah bersama
dalam perjalanan panjang yang tak selalu mudah
engkau tetap tegar
meski badai mencoba menggoyah
Setiap hujan yang jatuh membasahi bumi
seolah menjadi saksi betapa sabarnya hatimu
engkau merangkul segala kurangku dengan ikhlas
menjadi rumah tempatku berpulang saat napas terasa lepas
Dan saat airmata harus jatuh membasuh pipi
engkau tetap berdiri menyungging senyum yang berarti
Terima kasih, Nurhasanah belahan jiwa yang sejati
karena bersamamu
segala luka mampu kuobati
Dari suamimu yang selalu mencintaimu
Mamuju Sul-Bar, 31/08/2022
AAB - Bidadari Hatiku
0Kita sering mengira, menjadi pencuri berarti mengambil harta. Padahal, pencurian paling merugi adalah ketika kita merampas aib dan fitnah dari punggung orang lain, lalu dengan bangga memikulnya di pundak kita sendiri. Di saat mereka pulang membawa ampunan, kita justru terkapar memeluk beban pinjaman.
Simaklah sebuah sajak... "Kolektor Jelaga."
Kolektor Jelaga
By: Arif Agus Bege'h
Mereka mengetuk langit dengan dahi,
memeras air mata di altar sepi,
memohon noda masa lalu luruh,
menjadi putih, menjadi utuh.
Sementara kita, berdiri di tikungan,
menjadi perampok di tengah jalan.
Bukan emas yang kita sasar dari sesama,
melainkan rongsokan kutuk dan dosa.
Tangan kita lincah memunguti nanah,
merampas aib yang nyaris punah.
Lalu kita tebar di pasar-pasar kata,
seolah itu wewangian kasta.
Kita adalah kolektor jelaga,
menyita arang dari tungku tetangga.
Wajah mereka perlahan dibasuh cahaya,
wajah kita legam tertimbun dusta.
Di cermin waktu yang kian berkarat,
kita bangga memikul sekarung laknat.
Mengira sedang meruntuhkan takhta orang,
padahal menggali kubur sendiri yang gersang.
Waktu yang lebur di balik penanggalan,
hanya menyisakan riuh kesesatan.
Kita bersihkan halaman dengan belati,
sambil menimbun bangkai di dalam hati.
Kelak di perbatasan yang paling sunyi,
saat semua topeng runtuh membumi:
Mereka pulang membawa ampunan,
kita terkapar memeluk beban pinjaman.
Mamuju Sul-Bar, 17/08/2022
Sajak Kolektor Jelaga
0Tuhan memberi sabar tanpa batas, lalu mengapa kita sibuk membuat batasan? Tundukkan egomu, bersiaplah menghadapi... Inilah Sajak Dialektika Tanpa Tepi.
Dialektika Tanpa Tepi
By: Arif Agus Bege'h
Manusia adalah bait-bait yang ditulis dalam keterbatasan
daging yang menua, usia yang berkejaran dengan nisan,
kita dipatok oleh ruang, disekat oleh waktu yang ringkih.
Namun di balik dada yang sempit ini,
Tuhan menyisipkan sebuah semesta yang tak punya dinding
ruang maha luas bernama Iman dan Takwa.
Lihatlah ke dalam jiwamu yang paling sunyi,
Tuhan menurunkan sabar bukan sebagai cangkir yang mudah penuh,
melainkan samudera raya yang tak memiliki garis pantai.
Ia dilepaskan bebas, tanpa pasak, tanpa pembatas,
sepenuhnya diserahkan ke dalam genggaman kuasamu,
menjadi otoritas mutlak bagi caramu mengeja dunia.
Namun ego seringkali bertingkah seperti dinding penjara.
Kita yang jemawa, dengan angkuh menggaris batas,
berkata pada diri sendiri: "Cukup, sabarku sudah habis."
Lalu kita menyalakan api dari sumbu yang pendek,
membiarkan ruang lapang itu menyempit seketika,
dan menggantinya dengan ruang pamer kesombongan.
Maka jangan pernah kau tudingkan jemari ke langit,
jangan pernah kau salahkan ketetapan Tuhan yang Maha Adil,
jika batasan-batasan yang kau ciptakan sendiri itu
kelak menjelma menjadi badai ancaman di hari depan,
menjadi bencana senyap yang meruntuhkan rumah kedamaian
yang telah kau bangun dengan susah payah.
Kehidupan ini, pada hakikatnya, hanyalah sebuah
perjalanan, hujan, dan airmata yang saling bertukar rupa.
Perjalanan adalah bentangan waktu yang menagih ketabahan,
hujan adalah berkah yang seringkali menyamar sebagai kelam,
dan airmata adalah bahasa paling jujur dari jiwa
saat ia mulai letih memikul beban keduniawian.
Jika dadamu mulai sesak oleh gemuruh ketakutan,
jika jiwamu gemetar menatap bayang-bayang ujian,
atau ketika musibah datang tanpa mengetuk pintu rumahmu,
hanya ada satu jalan untuk tetap tegak berdiri:
tundukkan egomu serendah-rendahnya,
runtuhkan menara keangkuhanmu hingga menyentuh debu.
Menunduk bukan berarti kau kalah oleh keadaan,
melainkan cara terbaik untuk meloloskan diri dari hantaman badai.
Sebab di titik paling rendah, saat kesombongan telah sirna,
kesabaran itu akan bertransformasi menjadi sayap yang lebar.
Ia membebaskanmu dari kungkungan rasa sakit,
membuatmu terbang di atas masalah yang mendera.
Sabar yang bebas adalah sabar yang tidak lagi menghitung luka.
Ia adalah aksi paling berani di tengah kepasrahan,
sebuah kebebasan sejati di mana kau memilih untuk tetap memeluk damai
ketika dunia memberikanmu seribu alasan untuk mengamuk.
Ia tidak berkurang karena dicaci,
ia tidak habis karena dikhianati.
Ketahuilah, wahai pengembara yang melangkah di bumi yang fana,
di ujung jalan yang basah oleh sisa badai ini,
sabar adalah ketukan yang paling didengar di langit.
Ia adalah satu kunci utama yang membebaskan,
yang akan membuka satu demi sekian banyak pintu Syurga,
tempat di mana segala batas dan airmata dilebur menjadi kebahagiaan yang abadi.
Mamuju Sul-Bar, 10/08/2022
Sajak Dialektika Tanpa Tepi
0Menanggalkan Arus
By: Arif Agus Bege'h
Bukan perihal kalah
bukan pula tentang menyerah
aku hanya sedang memulangkan detak yang sempat kau titip
ke ruang sunyi tempat segala asa berlabuh tanpa paksa
Sebab mencintai
pada akhirnya
adalah seni melepaskan
membiarkan setiap kenangan menemukan rumahnya sendiri
bukan lagi di saku bajuku bukan lagi di sela napasku
Kubiarkan ia mengalir
tak lagi kukunci dalam dekapan
karena yang benar-benar abadi tidak akan pernah menuntut
ia hanya perlu dibiarkan menetap sebagai sejarah
tanpa harus kukorbankan langkahku untuk terus menjamah.
Masamba Sul-Sel, 01/01/2022
AAB - Menanggalkan Arus
0"Kita tidak perlu menjadi batu yang hancur karena benturan. Belajarlah menjadi air; yang tetap utuh meski harus mengalah pada arah arus yang ia lalui."
Retak Yang Bijak
Oleh: Arif Agus Bege'h
Badai tak memilah seberapa dalam akar tertanam
ia hanya datang memangkas yang angkuh dan kelam
jangan memahat diri menjadi karang yang beku
sebab keras yang berlebih hanya mengundang retak di saku
Kita sering lupa
bahwa luka adalah ruang bagi cahaya
bahwa setiap retakan adalah jalan bagi doa untuk menyapa
mengapa harus menantang gelombang dengan dada yang sesak?
jika pada akhirnya keangkuhan hanyalah cara tercepat untuk terkoyak
Belajarlah menakar nasib serupa air yang mengalir
menanggalkan ego sebelum hancur di akhir
ia tak pernah melawan arus meski tajam menghujam
ia justru memeluk batu hingga waktu membuatnya tenteram
Terkadang
kita perlu patah agar bisa melentur
melepaskan genggaman yang membuat jiwa terkapar luntur
sebab menjadi manusia bukanlah tentang siapa yang paling tegar
tapi tentang siapa yang berani ikhlas
kembali tegak
sebelum benar-benar terkubur
Masamba Sul-Sel, 22/11/2021
AAB - Retak Yang Bijak
0 "Cinta yang sejati tidak diukur dari seberapa sering kita tertawa, melainkan dari seberapa tabah kita menanggung duka bersama. Sebab, tempat paling indah untuk berlabuh bukanlah tempat yang tanpa luka, melainkan tempat di mana kita belajar untuk tetap setia meski harus berkali-kali patah."
Sukamaju Selatan: Sebuah Catatan Dari Dermaga Hati
By: Arif Agus Bege'h
Di Sukamaju Selatan langkahku terhenti
menyapa bayang-bayang yang enggan pergi
tanah ini bukan sekadar hamparan bumi
ia adalah saksi
tempat benih cinta bersemi
Dulu, di bawah langit yang sama
kita melukis tawa di atas kanvas luka
Namun, cinta di sini tak selalu berbunga
ada banyak duka yang menyamar jadi air mata
Sukamaju Selatan
kaulah dermaga yang kupilih
tempatku menyandarkan lelah yang perih
meski perih seringkali datang tanpa permisi
di sini pula
janji-janji kupahat dalam sunyi
Banyak kisah telah karam menjadi debu
tentang rindu yang tumbuh meski harus meragu
Namun, di antara duka dan air mata yang membeku
cintamu adalah satu-satunya pelabuhan yang kutuju
Sukamaju Selatan
biarlah ia menjadi prasasti yang abadi
tempat cinta belajar untuk tidak mati
meski harus berkali-kali patah dan kembali
Masamba Sul-Sel, 08/07/2020
Sukamaju Selatan: Sebuah Catatan Dari Dermaga Hati
0"Sebagaimana takaran obat yang harus presisi untuk menyembuhkan, begitu pula hidup; kita butuh takaran sabar yang tepat agar rasa sakit tidak menjadi luka yang abadi, melainkan menjadi hikmah yang menuntun kita pulang pada kedamaian."
Sajak Hujan Yang Menepi
By: Arif Agus Bege'h
Pagi menyapa di tanah Masamba
membawa aroma tanah basah dan sisa hujan semalam
aku meracik detik-detik menjadi kata
seperti dosis yang tepat untuk luka yang diam
Cinta bukan sekadar kata yang kuguratkan
ia adalah hujan yang jatuh di lembah ini
menyerap ke akar
meski tak terlihat oleh mata
menumbuhkan sabar di sela-sela rindu yang sunyi
Airmata—ah
biarlah ia menjadi saksi
bahwa menjadi manusia adalah perjalanan di perantauan
kita mendaki puncak kehidupan bukan untuk menaklukkan ego
tapi untuk mengerti arti pulang dan kasih yang tertitipkan
Masamba masih tenang dalam dekap cahaya
dan aku, dengan pena dan doa
menuliskan hidup yang terus bersahaja
antara syukur yang tumpah dan kasih yang terjaga
Masamba Sul-Sel, 28/07/2019
AAB - Sajak Hujan Yang Menepi
0Untuk setiap hati yang subur karena air mata, dan setiap rindu yang tumbuh tanpa saksi... inilah "Rahim Sunyi."
Rahim Sunyi
By: Arif Agus Bege'h
Benih tak pecah di bawah terik
ia butuh sudut paling malam untuk berakar
begitulah rindu
mencari sunyi
jauh dari bising dunia
Hati yang subur adalah yang paling gulita
menyimpan lembap air mata yang enggan menyeka
di ruang tanpa cahaya
cinta tumbuh tanpa saksi
Rasa tak lahir dari panggung benderang
ia membesar di kedalaman basah yang senyap
hanya dalam gelap utuh
ia menjelma detak paling hidup
Masamba Sul-Sel, 26/07/2019






