Alamat Rindu Yang Salah

 

Alamat Rindu Yang Salah
By: Arif Agus Bege'h


Sebuah pertanyaan mengetuk pintu langit,
"Benarkah rindu membunuhmu?"
kau menatap langit-langit sepi
menyimpan jawab di balik kalender usang

Titipkan resah pada Bintang yang tinggi
atau Matahari yang membakar ufuk
berapa pun bekal di dalam dada
segalanya menjelma kesia-siaan mutlak

Menaruh harap pada jarak tak bertepi
hanya membuat perjalanan kehilangan arah
kaki melangkah tanpa pernah sampai
sementara waktu merampas sisa usia

Lalu hujan turun tanpa ketukan
membawa aroma tanah yang dingin
ia kembali mendikte tanggal kadaluarsa
yang kau catat dengan jemari gemetar

Di sudut kamar yang remang
airmata jatuh tanpa sempat dicegah
bukan ratapan kalah melainkan cara rindu
untuk pamit dan larut ke bumi

Matahari tetap api tak tersentuh
bintang hanyalah kerlip yang angkuh
mereka tak peduli pada dada
yang salah alamat

Kini biarkan malam selesai
rindu tidak benar-benar membunuhmu
ia hanya menyisakan baris kertas tua
berbekal rindu pada langit
kau takkan pernah menang


Mamuju Sul-Bar, 03/03/2022

Sajak Di Balik Indah Hatimu



Di Balik Indah Hatimu
By: Arif Agus Bege'h


Andai engkau tahu rahasia di balik dada
tentang hasrat yang terus menyala tanpa padam
maka aku tak perlu lagi menyembunyikan tatapan ini
di balik pekatnya kaca hitam yang sunyi

Aku ingin melepas segala kepura-puraan
membiarkan sepasang mata ini menembus pekatnya malam
bukan untuk berlari atau menghindar dari pandanganmu
melainkan melangkah pulang menuju dekapmu

Sebab siapapun akan menjelma kekasih paling menakjubkan
ketika kepingan rindu yang semula patah
telah menemukan pelabuhan terakhirnya
dan menetap dengan tenang di dalam dadamu

Maka percayalah kepadaku
aku yang berdiri di hadapanmu hari ini
hanyalah serpihan luka dari masa lalu
sisa-sisa kesedihan yang sempat memanjang

Namun aku memercayai satu keajaiban
bahwa seluruh nestapa yang pernah merubuhkan jiwa
akan luruh dan mekar menjadi sesuatu yang indah
saat bersentuhan dengan ketulusan cintamu

Izinkan aku menyembunyikan lelahku
bukan lagi di balik benda mati yang dingin
tetapi jauh di dalam palung hatimu
tempat di mana kedamaian itu pertama kali lahir

Di sanalah aku ingin menetap
menghabiskan sisa waktu yang tersisa
menepis sunyi dan merayakan rindu
yang telah kau sembuhkan dengan segenap jiwamu


Mamuju Sul-Bar, 02/02/2022

AAB - Parasit Dibalik Sepi



Parasit Dibalik Sepi
By: Arif Agus Bege'h


Sahabat hidup saling menjaga dan berkorban
musuh hidup berhadapan di medan pertempuran
kekasih hidup merawat kesetiaan dalam pelukan
orang asing hidup tanpa saling mengusik kedamaian

Mereka memiliki hukum yang adil dalam hubungan
jelas mana batas kawan
jelas mana garis pertahanan

Lalu, makhluk yang datang mengendap-endap di kala sepi
yang mengaku paling paham saat seluruh dunia menjauhi
membisikkan kata manis seolah dialah pelipur hati
dia bernama setan
selalu berpura-pura peduli

Dia sebenarnya hidup dari mana?
dia memakan bagian jiwaku yang mana?

Kita sering kali begitu lengah
menerima uluran tangannya saat iman sedang goyah
kita mengira dia kawan setia yang membasuh air mata
padahal dia sedang menuntun kita menuju tebing nestapa

Setelah hasutannya kita dengarkan
dan kita terbahak-bahak menikmati dosa
kita jadi lupa
demi sebuah kesenangan fana yang dia tawarkan
kita sedang menelantarkan diri
dalam kemiskinan jiwa yang mengerikan
setan setan pun berpura-pura lupa
setelah madu kesesatan itu habis kita telan
dia pergi meninggalkan kita
berjalan kaki di atas puing-puing penyesalan

Dia sungguh tahu
setiap bisikannya mempercepat kematian nurani manusia
lalu, bertahun-tahun setelah kita hancur
terpuruk dalam kehampaan
masih dengan wajah ramah yang sama
si penipu ulung itu datang kembali
mengetuk pintu hati yang retak
tersenyum simpul dan berkata:
"Aku datang lagi gaes!"

Manusia yang telah sadar menatapnya dengan murka dan luka:
"Pergilah, kau adalah musuh yang nyata!"

Ha ha ha
Namun setan tertawa parau
menunjuk sisa-sisa iman yang hampir habis
lalu berkata:
"Jika jiwamu tidak kuhancurkan sampai tandas,
setan hidup memakan apa?"


Majene Sul-Bar, 15/01/2022

AAB - Menanggalkan Arus



Menanggalkan Arus
By: Arif Agus Bege'h


Bukan perihal kalah
bukan pula tentang menyerah
aku hanya sedang memulangkan detak yang sempat kau titip
ke ruang sunyi tempat segala asa berlabuh tanpa paksa

Sebab mencintai
pada akhirnya
adalah seni melepaskan
membiarkan setiap kenangan menemukan rumahnya sendiri
bukan lagi di saku bajuku bukan lagi di sela napasku

Kubiarkan ia mengalir
tak lagi kukunci dalam dekapan
karena yang benar-benar abadi tidak akan pernah menuntut
ia hanya perlu dibiarkan menetap sebagai sejarah
tanpa harus kukorbankan langkahku untuk terus menjamah.


Masamba Sul-Sel, 01/01/2022

Sajak Panggilan Badai

Panggilan Badai
By: Arif Agus Bege'h


Gelap mulai mengepung cakrawala
awan hitam bergulung membawa kabar buruk dari utara
semua orang berlari mencari tempat bersembunyi
menutup pintu dan mengunci jendela rapat-rapat


Tapi lihatlah
siapa yang masih berdiri di sini!
di tengah lapangan terbuka
menantang arah angin
dada ini tidak dirancang untuk bersembunyi dari ketakutan
melainkan untuk menyambut
setiap hantaman dengan kepala tegak

Mereka bilang
jalan ini terlalu sunyi dan berbahaya
bahwa kaki yang telanjang
akan hancur oleh tajamnya batu
namun mereka lupa
bahwa tapak kaki ini telah mengeras
ditempa oleh perjalanan panjang yang penuh air mata

Biarkan petir menyambar membelah langit!
suaranya menggelegar tidak akan membuat jantung ini ciut
sebab gemuruh di dalam jiwa
jauh lebih besar
dari sebuah pemberontakan terhadap nasib

Kita bukan daun kering yang pasrah diterbangkan angin malam
kita adalah pohon tua dengan akar yang tertanam sangat dalam
makin keras angin mencoba merubuhkan batangnya
makin kuat cengkeraman kita pada tanah kehidupan

Dengarkanlah wahai malam yang pekat!
sunyi yang kau tebarkan
tidak akan membungkam suara kami
sebab kebenaran tidak butuh ruang yang megah untuk terdengar
ia hanya butuh satu tenggorokan yang berani berteriak bebas

Waktu mungkin telah mengikis banyak hal dari diri kita
masa muda, tawa, dan kenyamanan yang pernah singgah
namun waktu tidak pernah bisa menyentuh satu hal:
harga diri yang tetap menyala di balik sisa-sisa luka

Maka majulah!
jangan tunggu sampai badai ini mereda
kita akan menembus hujan lebat ini bersama-sama
menghancurkan dinding keraguan yang menghalangi jalan!

Sebab di ujung badai nanti
sebuah fajar sedang menunggu
bukan untuk mereka yang bersembunyi di dalam rumah
melainkan untuk kita
para petarung yang bertahan
hingga tetes hujan terakhir jatuh ke bumi


Masamba Sul-Sel, 12/12/2021