Sajak Tiket Murahan

"Kita semua punya mimpi yang sama: masuk surga tanpa antre, duduk di fasilitas VIP-Nya. Tapi malam ini, mari kita tengok isi dompet dan hati kita sendiri... Sebuah sajak untuk kita yang sering berniat pamer pada dunia, tapi pelit pada Sang Pencipta: Tiket Murahan."


Tiket Murahan

By: Arif Agus Bege'h 



Aku bermimpi menembus firdaus lewat jalur VIP,

melenggang santai tanpa antrean hisab yang panjang.

Menginginkan tempat terbaik di sisi kanan Arsy,

bersanding dengan para kekasih Tuhan.


Namun saat kotak amal kayu itu bergeser mendekat,

jemariku mendadak menjadi sangat selektif.

Meraba sudut paling gelap di dasar dompet,

mencari lembaran yang paling tak berharga.


Kumasukkan selembar uang lecek bernilai receh,

sisa kembalian belanja yang hampir robek ujungnya.

Itulah harga yang kubayar dengan penuh kerelaan,

untuk menebus takhta di surga yang megah.


Sungguh dagangan yang tidak tahu diri

meminta fasilitas mewah tanpa batas waktu,

tapi membayar dengan sisa-sisa harta fana

yang bahkan tak cukup untuk membeli kopi.


Tuhan

ampuni hamba-Mu yang pelit ini,

yang selalu perhitungan pada Sang Pemilik Rezeki.

Ketuk hati yang bebal ini sebelum terlambat,

agar tahu cara membeli pulang yang terhormat.



Mamuju Sul-Bar, 15/01/2023

AAB - Dawai Waktu




"Hidup bukan tentang seberapa cepat kita mencapai garis akhir, melainkan tentang seberapa dalam kita memaknai setiap napas yang kita ambil. Di tengah derasnya perubahan zaman, kadang kita perlu berhenti sejenak, membiarkan kenangan membasuh luka, dan kembali mengumpulkan doa. Berikut adalah bait-bait yang saya tulis sebagai pengingat bagi diri sendiri."

Dawai Waktu
By: Arif Agus Bege'h


Di beranda waktu
aku menakar sisa jejak
saat usia kian deras membawa cerita
perjalanan ini tak selalu ramah
namun bara di dada enggan menyerah

Seringkali kenangan menjelma hujan
membasuh getir yang tertinggal di ingatan
aku tak lagi memusuhi perih yang hadir
sebab di sana
aku belajar mendewasa

Jika langkahku kini mulai melambat
bukan berarti airmata menumpulkan niat
Ini hanya jeda untuk memanen doa
agar esok mampu berpijak lebih kokoh

Biarlah nasib bergulir sesuai takdirnya
aku tetap memegang teguh komitmen diri
menjaga api harapan tetap menyala
meski jalan yang kutempuh kian sunyi

Kelak saat rambut memutih dimakan zaman
aku ingin tetap tegar menyambut senja
sebab hidup bukan tentang cepatnya tiba
melainkan tetap bertahan hingga titik akhirnya


Mamuju Sul-Bar, 01/01/2023

AAB - Ruang Dengar Dipaku

Ruang Dengar Dipaku
By: Arif Agus B

Ada suara yang selalu disambut tepuk tangan

ada pula suara yang bahkan tak diberi kursi

yang satu dipuji karena jabatan

yang lain dicurigai karena bertanya


Mengapa pertanyaan lebih ditakuti

daripada kesalahan yang terus diwariskan

mengapa telinga kekuasaan

lebih akrab dengan pujian

daripada kenyataan


Rakyat mengenal harga beras

buruh mengenal harga tenaga

petani mengenal harga panen

mengapa hanya suara manusia

tak pernah memiliki nilai

di meja keputusan


Gedung-gedung semakin tinggi

laporan-laporan semakin rapi

tetapi keluhan tetap berjalan kaki

di trotoar yang sama setiap hari


Di lorong gedung

seorang warga berkata

Aku datang membawa pertanyaan."

pejabat tersenyum tipis menjawab,

"Kami lebih membutuhkan dukungan daripada pertanyaan"


Warga menatapnya tanpa ragu,

"Kalau begitu, jangan sebut kami pemilik negeri,

jika suara kami hanya menjadi tamu.

Angka boleh tampak baik-baik saja,

tetapi kenyataan tak pernah pandai berbohong."


Lorong kembali sunyi

yang tertinggal bukan jawaban

melainkan gema pertanyaan

yang tak pernah diizinkan masuk


Barangkali negeri ini

tidak sedang kekurangan pidato

tidak sedang kekurangan janji

melainkan kekurangan telinga

yang benar-benar mau mendengar


Negara tidak runtuh karena rakyat

terlalu banyak bertanya

melainkan karena penguasa

terlalu sedikit mendengar



Mamuju Sul-Bar, 05/12/2022

AAB - Cukuplah Engkau Penolongku

Cukuplah Engkau Penolongku
By: Arif Agus B


Aku mencari kabar baik
di layar yang tak pernah lelah menyala
lalu kusadari
langit tak pernah memakai notifikasi
untuk menyampaikan kasih-Nya

Hujan tidak meminta tepuk tangan
ia jatuh basahi bumi
lalu pergi tanpa menagih pujian

Aku berkali-kali menyalahkan waktu
karena doa terasa jauh
padahal yang berlari
bukan jawaban-Mu
melainkan kesabaranku

Ada pintu yang tetap tertutup
aku mengira itu penolakan
ternyata Engkau sedang menyuruhku
melepaskan kesombongan
yang kubawa sebagai bekal

Manusia sibuk menghitung harta
langit sibuk menghitung amal
aku terlambat mengerti
yang berat di bumi
belum tentu bernilai di hadapan-Mu

Saat malam terasa paling sunyi
aku belajar satu hal
gelap bukan musuh cahaya
melainkan ruang
agar harapan terlihat lebih terang

Aku tak lagi meminta
jalan yang selalu mudah
aku hanya memohon
hati yang tetap teguh
saat langkah mulai goyah

Hari demi hari
mengajariku satu kalimat sederhana
percaya kepada-Mu
lebih menenangkan
daripada mengendalikan segalanya

Bila seluruh jalan tampak buntu
aku masih mengenal satu arah
menengadah...
lalu bersujud
di situlah harapan selalu lahir kembali


Mamuju Sul-Bar, 26/11/2022

"Bukankah Allah mencukupi hamba-Nya?"
أَلَيْسَ اللَّهُ بِكَافٍ عَبْدَهُ
Alaisa-llāhu bikāfin 'abdahū

"Bukankah Allah sudah cukup sebagai Penolong bagi hamba-Nya?"
(QS. Az-Zumar: 36)

AAB - Tragedi Margono

Tragedi Margono
By: Arif Agus Bege'h


Sawah hijau warisan leluhur mendadak sunyi di fajar buta
pohon-pohon jati pembatas desa berbalut kabut prasangka
jemari legam terbiasa menyemai bulir-bulir harapan
kini dituduh dalang perusak tatanan kemajuan

Hak hidup tergilas aturan sepihak para pemodal
genggaman cangkul di sela jemari gemetar
kini dicap sebagai simbol perlawanan liar
tetes keringat pemakmur tanah sekian generasi
diadili selembar berkas penuh rekayasa keji

Desas-desus busuk merayap masuk ke tiap beranda
gugatan adat diputarbalikkan menjadi tindakan makar
sebuah nama bersih seketika cacat tanpa ruang bicara
terik siang mencekam mengubah ketenangan warga
menjadi tungku bara yang siap melumat paksa hak mereka

Intrik politik menjelma monster besi baja
meruntuhkan impian yang dirawat sekuat tenaga
mereka penikmat ruang ber-AC tak paham kerasnya kerja
begitu mudah menuduh petani sebagai perusak rencana
pagar bambu hancur lebur diterjang keangkuhan penguasa
Brak!

Asap perih menyengat mengungkap wajah-wajah penuh murka
“Seret paksa tua bangka ini! Hancurkan gubuk pembohong ini!”
teriakan keji bergaung membungkam suara kebenaran
“Demi Tuhan, ini tanah pusaka, ini tanah warisan, bukan curian!”
ratapan Margono yang parau
dari celah dinding

Kaum perempuan dan anak-anak menjerit ketakutan
menyaksikan ladang tumpuan hidup digulung mesin-mesin raksasa
debu hitam membubung menyumbat rongga dada
seiring sirnanya rasa iba di hati manusia

Sama sekali tiada kesempatan membela diri
raga tuanya ditarik paksa ke aspal
dihujani pukulan sepatu-sepatu laras yang merasa paling berkuasa
pentungan logam menghantam rusuk ringkihnya tanpa ampun

Darah kental merembes
membasahi tanah kering tak bersalah
mereka bersorak mengatasnamakan kemajuan bangsa
sambil menyiksa rakyat kecil yang didera kebingungan
“Bawa dia! Amankan provokator ini sebelum warga lain terhasut!”
gertak petugas sembari mengunci pergelangan tangannya
ujung laras laras baja menekan tengkuknya ke bumi
memastikan tiada lagi gaung protes berani bangkit

Tubuh lunglai terhempas ke bak kendaraan lalu disekap
petinggi seragam dan cukong tersenyum merayakan kejayaan semu
di sudut ruangan pengap tanpa celah cahaya
Margono mendekap sisa-sisa napasnya kian melemah
tatapannya kosong menembus besi pembatas dengan pasrah
menatap dinding semen yang dingin
mencari setitik ketetapan adil yang sirna di dunia

Ambisi perluasan wilayah kembali menelan korban jelata
menyisakan hamparan ladang gundul tanpa pembela
kini hanya tersisa puing-puing beton
dan isak tangis keluarga kehilangan tulang punggung
di bawah kuasa yang tumpul ke atas tajam ke bawah
riwayat Margono terhapus dalam catatan kelam masa lalu yang keliru


Mamuju Sul-Bar, 21/10/2022