Sajak Ketukan Sang Pendosa Di Gerbang Rahmat
Sajak Tiket Murahan
"Kita semua punya mimpi yang sama: masuk surga tanpa antre, duduk di fasilitas VIP-Nya. Tapi malam ini, mari kita tengok isi dompet dan hati kita sendiri... Sebuah sajak untuk kita yang sering berniat pamer pada dunia, tapi pelit pada Sang Pencipta: Tiket Murahan."
Tiket Murahan
By: Arif Agus Bege'h
Aku bermimpi menembus firdaus lewat jalur VIP,
melenggang santai tanpa antrean hisab yang panjang.
Menginginkan tempat terbaik di sisi kanan Arsy,
bersanding dengan para kekasih Tuhan.
Namun saat kotak amal kayu itu bergeser mendekat,
jemariku mendadak menjadi sangat selektif.
Meraba sudut paling gelap di dasar dompet,
mencari lembaran yang paling tak berharga.
Kumasukkan selembar uang lecek bernilai receh,
sisa kembalian belanja yang hampir robek ujungnya.
Itulah harga yang kubayar dengan penuh kerelaan,
untuk menebus takhta di surga yang megah.
Sungguh dagangan yang tidak tahu diri
meminta fasilitas mewah tanpa batas waktu,
tapi membayar dengan sisa-sisa harta fana
yang bahkan tak cukup untuk membeli kopi.
Tuhan
ampuni hamba-Mu yang pelit ini,
yang selalu perhitungan pada Sang Pemilik Rezeki.
Ketuk hati yang bebal ini sebelum terlambat,
agar tahu cara membeli pulang yang terhormat.
Mamuju Sul-Bar, 15/01/2023
AAB - Dawai Waktu
AAB - Ruang Dengar Dipaku
By: Arif Agus B
Ada suara yang selalu disambut tepuk tangan
ada pula suara yang bahkan tak diberi kursi
yang satu dipuji karena jabatan
yang lain dicurigai karena bertanya
Mengapa pertanyaan lebih ditakuti
daripada kesalahan yang terus diwariskan
mengapa telinga kekuasaan
lebih akrab dengan pujian
daripada kenyataan
Rakyat mengenal harga beras
buruh mengenal harga tenaga
petani mengenal harga panen
mengapa hanya suara manusia
tak pernah memiliki nilai
di meja keputusan
Gedung-gedung semakin tinggi
laporan-laporan semakin rapi
tetapi keluhan tetap berjalan kaki
di trotoar yang sama setiap hari
Di lorong gedung
seorang warga berkata
Aku datang membawa pertanyaan."
pejabat tersenyum tipis menjawab,
"Kami lebih membutuhkan dukungan daripada pertanyaan"
Warga menatapnya tanpa ragu,
"Kalau begitu, jangan sebut kami pemilik negeri,
jika suara kami hanya menjadi tamu.
Angka boleh tampak baik-baik saja,
tetapi kenyataan tak pernah pandai berbohong."
Lorong kembali sunyi
yang tertinggal bukan jawaban
melainkan gema pertanyaan
yang tak pernah diizinkan masuk
Barangkali negeri ini
tidak sedang kekurangan pidato
tidak sedang kekurangan janji
melainkan kekurangan telinga
yang benar-benar mau mendengar
Negara tidak runtuh karena rakyat
terlalu banyak bertanya
melainkan karena penguasa
terlalu sedikit mendengar
Mamuju Sul-Bar, 05/12/2022


