AAB - Saksi Setapak Ilalang



Sebuah kisah tentang perjalanan hati yang tertinggal di masa lalu. Ketika takdir memaksa raga untuk menjauh, namun rasa tetap memilih menetap di antara rimbunnya kenangan. Inilah... "Saksi Setapak Ilalang."

Saksi Setapak Ilalang
By: Arif Agus Bege'h


Kudengar luruh suaramu menyusup di sela angin malam
membawa wangi rindu yang masih saja kau simpan
setapak jalan yang dulu kita babat bersama
kini memang telah berselimut semak dan ilalang duka

Jangan sebut ketabahanmu sebagai kepasrahan yang bodoh
sebab di sinilah aku
di tempat yang tak lagi utuh
juga meraba dinding sepi yang kau tinggalkan
memeluk bayangmu dalam ketiadaan yang merubuhkan

Kau mengira aku tak tahu perih yang kau telan?
kau mengira aku pergi tanpa membawa beban?

Kepergianku bukanlah khianat pada janji setia
melainkan takdir yang memaksa kita tunduk pada rahasia-Nya
aku tak bisa kembali
bukan karena tak ingin lagi
tapi karena batas kita kini sedalam misteri bumi

Maka
bila kah senjamu terasa begitu temaram dan pedih
basuhlah mukamu
jangan lagi ratapi cinta yang tersisih
sebab meski ragaku tak lagi ada dalam nyata dan kenyataan
namamu abadi
terjaga rapat dalam kotak kenangan

Biarlah ilalang dan onak berduri itu tumbuh meninggi
sebagai saksi
kita pernah mencintai sehebat ini


Mamuju Sul-Bar, 02/02/2023

Sajak Ketukan Sang Pendosa Di Gerbang Rahmat


Sajak ini terinspirasi dari sebuah hadist dan 2 kisah: "Tidak ada seorang pun di antara kalian yang masuk surga karena amalnya." Para sahabat bertanya, "Apakah termasuk Engkau, wahai Rasulullah?" Beliau menjawab, "Ya, tidak juga aku, kecuali jika Allah melimpahkan rahmat dan karunia-Nya kepadaku." (HR. Bukhari & Muslim)

Kisah Pelacur dan Anjing kehausan: Seorang wanita pezina diampuni dosanya dan dimasukkan ke surga hanya karena memberi minum seekor anjing yang kehausan dengan sepatunya. Di mata manusia, perilakunya menyimpang, namun ketulusan hatinya memicu rahmat Allah.

Kisah Pembunuh 100 Orang: Seseorang yang telah membunuh 100 nyawa tetap diterima taubatnya dan mendapatkan rahmat-Nya saat ia berniat hijrah menuju tempat yang baik, bahkan sebelum ia sempat melakukan banyak amal shalih di tempat baru tersebut.


Melihat penyimpangan orang lain seharusnya melahirkan rasa iba (rahmah) dan keinginan untuk mendoakan serta merangkul, bukan memvonis. Kita tidak pernah tahu amalan tersembunyi apa yang dimiliki orang yang kita anggap buruk, yang barangkali sedang mengetuk pintu langit dan merayu rahmat Allah dengan begitu indahnya.

Pada akhirnya, tugas kita adalah fokus memperbaiki diri sendiri sambil berharap pada rahmat-Nya, bukan bertindak seolah kita adalah bendahara surga.

Ketika amalan kalah oleh kesombongan, dan air mata pendosa justru membuka pintu langit... Inilah, "Ketukan Sang Pendosa Di Gerbang Rahmat."

Ketukan Sang Pendosa Di Gerbang Rahmat
By: Arif Agus Bege'h


Kau tunjuk dahi, kau kunci pintu langit,
melihat dia yang jalannya berliku dan berbelit.
Kau fikir surga hanya milik jubah yang putih,
hingga dengan mudah kau minta ia tersisih.

Kau lupa, jemari-Nya tak butuh hitunganmu,
amalmu yang menggunung belum tentu jaminanmu.
Sebab surga bukan upah dari sebuah transaksi,
Melainkan samudera kasih yang melampaui sanksi.

Bisa jadi dalam pekatnya malam yang sunyi,
dia yang kau kutuk sedang meratap dan bernyanyi.
Merayu Tuhan dengan air mata yang luruh,
meminta ampunan dengan jiwa yang runtuh.

Tuhan tak melihat megahnya mimbar berkhotbah,
jika di dalamnya terselip sombong yang merekah.
Tapi Dia menatap seekor anjing yang kehausan,
dan cinta seorang pelacur yang berbuah ampunan.

Seratus nyawa melayang di ujung belati,
namun rahmat-Nya menjemput sebelum mati.
Sebab jarak ampunan hanya sejengkal niat,
bagi hati yang lelah dan ingin bertobat.

Pernahkah kau raba hatimu yang mulai mengeras?
merasa paling suci di antara yang cemas.
Ingatlah sumpah usang kaum Bani Israil,
yang pahalanya terhapus karena menghakimi yang labil.

Surga punya seribu jalan yang rahasia,
tak mampu dibatasi oleh prasangka manusia.
Ada ketukan lirih dari jiwa yang terbuang,
yang justru membuat pintu arsy menjadi luang.

Jangan bertindak layaknya sang bendahara surga,
menakar pahala dan dosa sesama warga.
Sebab kita semua hanyalah pengemis yang sama,
mengharap rahmat-Nya di akhir drama.

Biarkan dia merayu Rabb-nya dengan caranya,
tugasmu merangkul, bukan memvonis akhirnya.
Sebab jika rahmat Allah telah turun menyapa,
segala keburukan runtuh, tak tersisa apa-apa.


Mamuju Sul-Bar, 29/01/2023

Sajak Tiket Murahan

"Kita semua punya mimpi yang sama: masuk surga tanpa antre, duduk di fasilitas VIP-Nya. Tapi malam ini, mari kita tengok isi dompet dan hati kita sendiri... Sebuah sajak untuk kita yang sering berniat pamer pada dunia, tapi pelit pada Sang Pencipta: Tiket Murahan."


Tiket Murahan

By: Arif Agus Bege'h 



Aku bermimpi menembus firdaus lewat jalur VIP,

melenggang santai tanpa antrean hisab yang panjang.

Menginginkan tempat terbaik di sisi kanan Arsy,

bersanding dengan para kekasih Tuhan.


Namun saat kotak amal kayu itu bergeser mendekat,

jemariku mendadak menjadi sangat selektif.

Meraba sudut paling gelap di dasar dompet,

mencari lembaran yang paling tak berharga.


Kumasukkan selembar uang lecek bernilai receh,

sisa kembalian belanja yang hampir robek ujungnya.

Itulah harga yang kubayar dengan penuh kerelaan,

untuk menebus takhta di surga yang megah.


Sungguh dagangan yang tidak tahu diri

meminta fasilitas mewah tanpa batas waktu,

tapi membayar dengan sisa-sisa harta fana

yang bahkan tak cukup untuk membeli kopi.


Tuhan

ampuni hamba-Mu yang pelit ini,

yang selalu perhitungan pada Sang Pemilik Rezeki.

Ketuk hati yang bebal ini sebelum terlambat,

agar tahu cara membeli pulang yang terhormat.



Mamuju Sul-Bar, 15/01/2023

AAB - Dawai Waktu




"Hidup bukan tentang seberapa cepat kita mencapai garis akhir, melainkan tentang seberapa dalam kita memaknai setiap napas yang kita ambil. Di tengah derasnya perubahan zaman, kadang kita perlu berhenti sejenak, membiarkan kenangan membasuh luka, dan kembali mengumpulkan doa. Berikut adalah bait-bait yang saya tulis sebagai pengingat bagi diri sendiri."

Dawai Waktu
By: Arif Agus Bege'h


Di beranda waktu
aku menakar sisa jejak
saat usia kian deras membawa cerita
perjalanan ini tak selalu ramah
namun bara di dada enggan menyerah

Seringkali kenangan menjelma hujan
membasuh getir yang tertinggal di ingatan
aku tak lagi memusuhi perih yang hadir
sebab di sana
aku belajar mendewasa

Jika langkahku kini mulai melambat
bukan berarti airmata menumpulkan niat
Ini hanya jeda untuk memanen doa
agar esok mampu berpijak lebih kokoh

Biarlah nasib bergulir sesuai takdirnya
aku tetap memegang teguh komitmen diri
menjaga api harapan tetap menyala
meski jalan yang kutempuh kian sunyi

Kelak saat rambut memutih dimakan zaman
aku ingin tetap tegar menyambut senja
sebab hidup bukan tentang cepatnya tiba
melainkan tetap bertahan hingga titik akhirnya


Mamuju Sul-Bar, 01/01/2023

AAB - Ruang Dengar Dipaku

Ruang Dengar Dipaku
By: Arif Agus B

Ada suara yang selalu disambut tepuk tangan

ada pula suara yang bahkan tak diberi kursi

yang satu dipuji karena jabatan

yang lain dicurigai karena bertanya


Mengapa pertanyaan lebih ditakuti

daripada kesalahan yang terus diwariskan

mengapa telinga kekuasaan

lebih akrab dengan pujian

daripada kenyataan


Rakyat mengenal harga beras

buruh mengenal harga tenaga

petani mengenal harga panen

mengapa hanya suara manusia

tak pernah memiliki nilai

di meja keputusan


Gedung-gedung semakin tinggi

laporan-laporan semakin rapi

tetapi keluhan tetap berjalan kaki

di trotoar yang sama setiap hari


Di lorong gedung

seorang warga berkata

Aku datang membawa pertanyaan."

pejabat tersenyum tipis menjawab,

"Kami lebih membutuhkan dukungan daripada pertanyaan"


Warga menatapnya tanpa ragu,

"Kalau begitu, jangan sebut kami pemilik negeri,

jika suara kami hanya menjadi tamu.

Angka boleh tampak baik-baik saja,

tetapi kenyataan tak pernah pandai berbohong."


Lorong kembali sunyi

yang tertinggal bukan jawaban

melainkan gema pertanyaan

yang tak pernah diizinkan masuk


Barangkali negeri ini

tidak sedang kekurangan pidato

tidak sedang kekurangan janji

melainkan kekurangan telinga

yang benar-benar mau mendengar


Negara tidak runtuh karena rakyat

terlalu banyak bertanya

melainkan karena penguasa

terlalu sedikit mendengar



Mamuju Sul-Bar, 05/12/2022