Sajak ini terinspirasi dari sebuah hadist dan 2 kisah: "Tidak ada seorang pun di antara kalian yang masuk surga karena amalnya." Para sahabat bertanya, "Apakah termasuk Engkau, wahai Rasulullah?" Beliau menjawab, "Ya, tidak juga aku, kecuali jika Allah melimpahkan rahmat dan karunia-Nya kepadaku." (HR. Bukhari & Muslim)
Kisah Pelacur dan Anjing kehausan: Seorang wanita pezina diampuni dosanya dan dimasukkan ke surga hanya karena memberi minum seekor anjing yang kehausan dengan sepatunya. Di mata manusia, perilakunya menyimpang, namun ketulusan hatinya memicu rahmat Allah.
Kisah Pembunuh 100 Orang: Seseorang yang telah membunuh 100 nyawa tetap diterima taubatnya dan mendapatkan rahmat-Nya saat ia berniat hijrah menuju tempat yang baik, bahkan sebelum ia sempat melakukan banyak amal shalih di tempat baru tersebut.
Melihat penyimpangan orang lain seharusnya melahirkan rasa iba (rahmah) dan keinginan untuk mendoakan serta merangkul, bukan memvonis. Kita tidak pernah tahu amalan tersembunyi apa yang dimiliki orang yang kita anggap buruk, yang barangkali sedang mengetuk pintu langit dan merayu rahmat Allah dengan begitu indahnya.
Pada akhirnya, tugas kita adalah fokus memperbaiki diri sendiri sambil berharap pada rahmat-Nya, bukan bertindak seolah kita adalah bendahara surga.
Ketika amalan kalah oleh kesombongan, dan air mata pendosa justru membuka pintu langit... Inilah, "Ketukan Sang Pendosa Di Gerbang Rahmat."
Ketukan Sang Pendosa Di Gerbang Rahmat
By: Arif Agus Bege'h
Kau tunjuk dahi, kau kunci pintu langit,
melihat dia yang jalannya berliku dan berbelit.
Kau fikir surga hanya milik jubah yang putih,
hingga dengan mudah kau minta ia tersisih.
Kau lupa, jemari-Nya tak butuh hitunganmu,
amalmu yang menggunung belum tentu jaminanmu.
Sebab surga bukan upah dari sebuah transaksi,
Melainkan samudera kasih yang melampaui sanksi.
Bisa jadi dalam pekatnya malam yang sunyi,
dia yang kau kutuk sedang meratap dan bernyanyi.
Merayu Tuhan dengan air mata yang luruh,
meminta ampunan dengan jiwa yang runtuh.
Tuhan tak melihat megahnya mimbar berkhotbah,
jika di dalamnya terselip sombong yang merekah.
Tapi Dia menatap seekor anjing yang kehausan,
dan cinta seorang pelacur yang berbuah ampunan.
Seratus nyawa melayang di ujung belati,
namun rahmat-Nya menjemput sebelum mati.
Sebab jarak ampunan hanya sejengkal niat,
bagi hati yang lelah dan ingin bertobat.
Pernahkah kau raba hatimu yang mulai mengeras?
merasa paling suci di antara yang cemas.
Ingatlah sumpah usang kaum Bani Israil,
yang pahalanya terhapus karena menghakimi yang labil.
Surga punya seribu jalan yang rahasia,
tak mampu dibatasi oleh prasangka manusia.
Ada ketukan lirih dari jiwa yang terbuang,
yang justru membuat pintu arsy menjadi luang.
Jangan bertindak layaknya sang bendahara surga,
menakar pahala dan dosa sesama warga.
Sebab kita semua hanyalah pengemis yang sama,
mengharap rahmat-Nya di akhir drama.
Biarkan dia merayu Rabb-nya dengan caranya,
tugasmu merangkul, bukan memvonis akhirnya.
Sebab jika rahmat Allah telah turun menyapa,
segala keburukan runtuh, tak tersisa apa-apa.
Mamuju Sul-Bar, 29/01/2023