Sajak Di Gerbang Perhitungan

 

"Kesuksesan memiliki banyak wajah dan jalan. Sajak ini adalah pengingat bagi kita semua, bahwa di balik pencapaian yang kita raih, ada tanggung jawab besar yang menanti di depan sana, tentang asal-muasal harta dan ke mana ia kita labuhkan."

Sajak Di Gerbang Perhitungan
By: Arif Agus Bege'h


Setiap napas adalah perjalanan yang tak pernah berhenti
Ada yang menapaki karang tajam dengan peluh yang menetes ke bumi
Ada yang melangkah di atas permadani, dibantu jemari sahabat dan keluarga
Membawa harta warisan yang dipupuk dengan harapan para pendahulu yang mulia.

Namun di ujung jalan, semua kaki akan berhenti pada satu garis tanya
Tentang bekal apa yang dibawa, tentang untuk apa semua ini dipergunakan saja
Harta hanyalah titipan yang akan diminta kembali pertanggungjawabannya
Apakah ia menjadi ladang pahala, atau justru api yang membakar jiwa?

Seringkali kita lupa saat puncak kesuksesan telah di tangan
Bahwa di bawah sana, hujan sering membasahi mereka yang kehilangan
Jika harta halal menjadi bekal, maka ia akan menjadi pelita di kegelapan
Menjadi penenang hati, membawa kebahagiaan di hari kemudian.

Tetapi celakalah jika kesuksesan dibungkus dengan cara yang nista
Diselimuti dosa, disombongkan dengan harta yang bukan haknya
Sebab setiap keping uang yang haram akan menjadi bara
Yang akan membakar raga di akhirat, di tempat yang paling sengsara.

Airmata yang jatuh karena takwa adalah mutiara di hadapan-Nya
Namun airmata yang mengalir karena sombong hanyalah debu yang sia-sia
Mari bersihkan hati dari penyakit-penyakit yang membusuk kan jiwa
Agar perjalanan ini tidak berujung pada penyesalan yang tak ada akhirnya.

Jangan biarkan riya’ menutupi mata dan meracuni pikiran
Sebab dunia ini hanya persinggahan bagi setiap insan
Peganglah erat kejujuran, karena itu adalah sebaik-baik jalan
Menuju keridhoan yang menjadi tujuan akhir dari setiap penciptaan.

Ya Rabb, jauhkan kami dari sifat-sifat yang merugikan
Jauhkan hati ini dari kebencian dan kesombongan yang menjerumuskan
Jadikanlah kesuksesan kami sebagai pintu keberkahan
Dan bimbinglah kami pulang dengan damai dalam lindungan-Mu, Aamiin.


Mamuju Sul-Bar, 04/04/2023

AAB - Tsunami Sunyi



Jangan pernah melarang airmata seorang anak yang merindu, karena duka yang dipendam adalah badai yang siap meruntuhkan batin. Inilah sebuah pengingat tentang cara merayakan rindu melalui luka yang paling jujur.

Tsunami Sunyi
By: Arif Agus Bege'h


Jangan bendung airmata anak yang merindukan ibunya
duka yang dipasung adalah badai yang mengerami dada
siap menjelma tsunami meruntuhkan seluruh tenang

Biarkan ia luruh menjadi sungai yang paling jujur
sebab tangis adalah bahasa purba seorang anak
cara sunyi melipat jarak menuju pelukan yang tiada

Menangislah
biarkan ia jadi hujan di tanah perjalanan
mendinginkan bara rindu sebelum membakar habis sabar
membasuh luka hingga jinak menjadi keikhlasan


Mamuju Sul-Bar, 09/03/2023

AAB - Di Balik Perjalanan



"Aku tidak datang untuk mengajari kalian merangkai kata-kata indah atau membedah estetika bahasa. Aku datang membawa luka, air mata, dan perjalanan panjang yang sunyi. Ini adalah catatan tentang bagaimana aku belajar merangkul kepedihan, mengubah keluh kesah menjadi doa, dan menemukan Tuhan di antara retakan hati yang paling dalam. Izinkan aku membacakan sesuatu yang lahir dari sujud sepertiga malamku."


Di Balik Perjalanan
By: Arif Agus Bege'h


Aku bukan guru yang merangkai diksi
aku adalah luka dan air mata yang terus berjalan
menikmati hidup di sela rindu dan cinta
menemukan Tuhan pada tiap ciptaan
sebagai bentuk penghambaan paling dalam

Jika kau terdampar di ujung harapan yang karam
jangan mencari sandaran pada sesama
sebab mereka pun sama-sama sedang terluka
temuilah Sang Pencipta di sepertiga malam
saat sunyi menjadi jembatan paling karib

Bicaralah pada-Nya lewat monolog doa
tumpahkan keluh tanpa sisa penyesalan
sebab manusia tak perlu tahu segala lukamu
cukup jadikan puisi sebagai satu-satunya wadah
tempat segala perihmu menetap dan bernapas

Tak perlu menuntut jawaban atas takdir
cukup mintalah kekuatan untuk tetap tegak
meski badai dunia terus mencoba mematahkan
biarkan Dia memeluk jiwamu yang koyak
hingga isakmu berubah menjadi syukur

Sebab di sini aku pun sedang belajar
menjadikan air mata sebagai tinta abadi
menikmati kepedihan sebagai perjalanan
menuju rumah terakhir di mana segala lelah
akhirnya melebur dalam sujud yang pasrah


Mamuju Sul-Bar, 03/03/2023

AAB - Di Balik Kata

"Di dunia yang terlalu sering dimabuk oleh retorika, kita kerap lupa bahwa kata-kata hanyalah kulit. Kebijaksanaan sesungguhnya tidak lahir dari apa yang diucapkan, melainkan dari apa yang diperjuangkan dalam sunyi. Inilah sebuah pengingat untuk kita semua."


Di Balik Kata
By: Arif Agus Bege'h


Jangan kau ukir kebijaksanaan seseorang
hanya dari indahnya untaian kata yang ia bentang
sebab lidah seringkali menari lebih lincah
menutup celah yang kosong di dalam dada

Kebijaksanaan bukanlah hiasan bibir yang dipoles rapi
ia adalah akar yang tertanam dalam buah pikiran
ia adalah jejak nyata yang tertinggal dalam tindakan
Sebuah janji yang dibuktikan bukan hanya yang disuarakan

Lihatlah bagaimana ia melangkah di tengah badai
lihatlah bagaimana ia bersikap saat tak ada yang memuji
sebab di situlah cermin yang paling jujur
tempat karakter diuji dan martabat diukur

Jangan mudah terpesona pada kemilau retorika
karena yang palsu akan luntur oleh waktu
namun integritas
ia akan tetap tegak
menjadi saksi bisu dari jiwa yang benar-benar bijak


Mamuju Sul-Bar, 15/02/2023

AAB - Saksi Setapak Ilalang



Sebuah kisah tentang perjalanan hati yang tertinggal di masa lalu. Ketika takdir memaksa raga untuk menjauh, namun rasa tetap memilih menetap di antara rimbunnya kenangan. Inilah... "Saksi Setapak Ilalang."

Saksi Setapak Ilalang
By: Arif Agus Bege'h


Kudengar luruh suaramu menyusup di sela angin malam
membawa wangi rindu yang masih saja kau simpan
setapak jalan yang dulu kita babat bersama
kini memang telah berselimut semak dan ilalang duka

Jangan sebut ketabahanmu sebagai kepasrahan yang bodoh
sebab di sinilah aku
di tempat yang tak lagi utuh
juga meraba dinding sepi yang kau tinggalkan
memeluk bayangmu dalam ketiadaan yang merubuhkan

Kau mengira aku tak tahu perih yang kau telan?
kau mengira aku pergi tanpa membawa beban?

Kepergianku bukanlah khianat pada janji setia
melainkan takdir yang memaksa kita tunduk pada rahasia-Nya
aku tak bisa kembali
bukan karena tak ingin lagi
tapi karena batas kita kini sedalam misteri bumi

Maka
bila kah senjamu terasa begitu temaram dan pedih
basuhlah mukamu
jangan lagi ratapi cinta yang tersisih
sebab meski ragaku tak lagi ada dalam nyata dan kenyataan
namamu abadi
terjaga rapat dalam kotak kenangan

Biarlah ilalang dan onak berduri itu tumbuh meninggi
sebagai saksi
kita pernah mencintai sehebat ini


Mamuju Sul-Bar, 02/02/2023