AAB - Nama Lain Cinta

Nama Lain Cinta
By: Arif Agus B


Setiap benih
tumbuh perlahan
karena bumi
setia memeluknya

Tak ada pohon
berbuah lebat
tanpa lebih dulu
menguatkan akar

Begitu pula cinta
ia tak lahir
dari kata-kata
melainkan perhatian
kepercayaan
kesetiaan
pengorbanan
dan doa yang terus dipelihara

Namun
tak semua yang disebut cinta
mampu menjaga
ada yang memeluk
karena ingin memiliki
ada pula
yang melepaskan
karena ingin
membahagiakan

Begitulah cinta
semakin dewasa
ia semakin sunyi dari tuntutan
dan semakin ramai
oleh ketulusan

Lalu Tuhan
mengajarkan manusia
melalui ibu
ayah
anak
sahabat
pasangan
tetangga
orang asing
bahkan mereka yang pernah melukai
agar manusia belajar
bahwa cinta bukan sekadar
rasa yang datang
melainkan pilihan
untuk tetap berbuat baik

Sebab pada akhirnya
cinta bukan tentang
siapa yang paling dicintai
melainkan siapa yang
paling mendekatkan hati
kepada Tuhan


Mamuju Sul-Bar, 15/12/2023

Badai Di Balik Sapu Jagat

Badai Di Balik Sapu Jagat
By: Arif Agus Bege'h

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ
Bismillahirrahmanirrahim
Rabbana atina fiddunya hasanah, wa fil-akhirati hasanah, waqina 'adzabannar.

Dengan nama-Mu aku melangkah,
Sang Pengalir Samudra Kasih, Sang Peneduh Jiwa dalam Dekapan Sayang.

Ya Tuhan Pencipta Semesta
hamparkanlah indahnya sekuntum bahagia di taman dunia kami,
dan binalah mahligai damai abadi di akhirat nanti
jagalah jiwa-jiwa yang rapuh ini
bentengilah kami dari jilatan api neraka yang menyala

Kini hamba mengadu hanya kepada-Mu:
bagaimana di dunia ini aku bisa tenang dengan kebahagiaan ini, ya Allah?
bagaimana?

Seorang hamba datang bersimpuh di hadapan-Mu
hadir sebagai pemandu syariat
pemandu tarikat
pemandu hakikat
dan pemandu makrifat

Sedangkan di luar sana
mereka menantangku dengan syariat
menghujamku dengan tarikat
menyayatku dengan hakikat
bahkan tak ragu mengancam dan berniat membunuhku dengan makrifat
bagaimana aku bisa tenang dengan kebahagiaan ini, ya Tuhanku?
bagaimana?

Lalu kami datang sebagai pemandu huruf dan angka
pemandu kata dan kalimat
pemandu tulis dan baca
menjadi pemandu adalah kebahagiaan yang kuukir dalam mimpi sejak kecil

Tetapi mereka kembali datang
menantangku dengan huruf
menghujamku dengan angka-angka
menyayatku dengan kata-kata
serta tak ragu mengancam dengan kalimat yang mereka tulis dan bacakan
di hadapan para kekasih-Mu
atau mungkin langsung di hadapan-Mu
bagaimana aku bisa bahagia dalam ketenangan ini
ya Tuhanku?
bagaimana?

Kami pun datang
belajar menenangkan diri melalui syiar, syair, puisi, dan sajak
menumpahkan segala resah yang selalu menghalangi bahagia masuk ke kalbu

Tapi mereka justru menganggapku musuh
atau mungkin mereka lupa
aku ini baru hendak belajar menulis
butuh teman seiring jalan bukan lawan yang harus diperangi

Jika setiap langkah yang kuambil selalu berbenturan
lalu bagaimana aku bisa menemukan ketenangan?
bagaimana aku bisa merengkuh kebahagiaan?
atau memang tak pernah ada ketenangan
dan kebahagiaan sejati di dunia ini

Doa sapu jagat kulangitkan
sebagai jalan menuju bahagia
rupanya menyimpan badai
bisa melumat damai jiwa yang lain

Di balik pekatnya noda dan hanyutnya dosa
aku bersimpuh, ya Allah
kuatkan aku ya Rabb
kokohkan tiang ikhlas di palung sukmaku
agar jemariku tak lagi gemetar saat membalik lembar demi lembar
alur naskah agung yang mengalir dalam takdir-Mu

Semoga Rahmat-Nya senantiasa memelukku
meluruhkan riuh di antara buruk dan baik yang kerap beradu
agar hati kembali sunyi
menemukan damai dalam rengkuhan-Nya yang Satu

Aamiin.


Mamuju Sul-Bar, 27/11/2023

AAB - Aku Dan Bayang Kelam

Aku Dan Bayang Kelam
By: Arif Agus Bege'h


​Di depan cermin buram yang retak dan berdebu,
aku berdiri tegak menatap bayanganku
netra ini dipaksa melihat segumpal noda
pada raga yang begitu angkuh berkepala batu
yang hingga detik ini
masih saja gemar berdosa
mengapa hati selalu kalah oleh rayuan semu?

​Lidahku dengan tajam kerap menoreh luka
menyayat hati sesama tanpa rasa iba
tangan ini pun ringan menggenggam yang mungkar
meraba dunia seolah esok takkan tiada
semua hitam itu kini berkumpul dan menjalar
membuat lentera nurani meredup
perlahan sirna

​Lalu bayang kelam berbisik "Dosamu menggunung, kau milikku!"
Aku langsung bersujud menepis bisikannya
"Tidak! Ampunan Tuhan pasti kudapatkan!"
Dar! 

Hssst!
Iblis lenyap mendesis murka kalah oleh nurani yang teguh

​قُلْ يٰعِبَادِيَ الَّذِيْنَ اَسْرَفُوْا عَلٰٓى اَنْفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوْا مِنْ رَّحْمَةِ اللّٰهِ ۗ اِنَّ اللّٰهَ يَغْفِرُ الذُّنُوْبَ جَمِيْعًا ۗ اِنَّهٗ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيْمُ
​Qul yā 'ibādiyallażīna asrafū 'alā anfusihim lā taqnaṭū mir raḥmatillāh, innallāha yagfiruż-żunūba jamī'ā, innahū huwal-gafūrur-raḥīm.

​"Wahai hamba yang terpasung noda, jangan berputus asa dari rahmat Allah yang luas. Sungguh, Dialah Maha Pengampun segala dosa, Zat Maha Pengasih yang memelukmu dengan cinta tanpa batas." (QS. Az-Zumar: 53)

​Cermin mungkin jujur memperlihatkan retak dan nodamu
tapi taubat yang tulus selalu mampu membasuh jiwa di hadapan Tuhan


Mamuju Sul-Bar, 25/11/2023

AAB - Balon Lampu Menertawakan Kita

Balon Lampu Menertawakan Kita
By: Arif Agus B


Mereka mengadakan rapat besar-besaran
agenda utamanya sederhana
mengusir semua yang berlabel negatif
seolah hidup bisa disterilkan seperti ruang operasi
seolah langit pernah berjanji
hanya akan menurunkan cuaca yang menyenangkan

Aku membawa sebuah balon lampu ke podium
ia tidak pandai berpidato
ia hanya diam sambil menggantung
tetapi diamnya lebih memalukan
daripada ribuan seminar yang menjual kiloan optimisme

Balon lampu itu seperti bertanya
"kalian ingin cahaya?"
"ha ha ha"
"lalu mengapa kalian memecat kutub yang kalian hina?"
"kalian ini aneh bin ajaib"
"kalian punya otak, tapi selalu menindas hatimu sendiri"
balon lampu itu menertawakan kita
ha ha ha

Betapa lucunya manusia
kegagalan disebut aib
air mata dianggap kebocoran karakter
kesalahan diperlakukan seperti sampah
lalu bingung
mengapa jiwanya gelap
meski rumahnya penuh slogan

Paku tidak pernah protes karena dipukul
pisau tidak marah karena terus diasah
benih tidak melaporkan tanah
kepada pengadilan karena dikubur
hanya manusia
berharap panen tanpa musim yang melelahkan
ha ha ha 

Kalian ingin laut tanpa ombak
gunung tanpa tanjakan
kitab tanpa ujian
doa tanpa penantian
lalu menyebut semua itu
sebagai definisi kehidupan yang sehat
ha ha ha

Balon lampu kembali tersenyum tipis
katanya
yang berbahaya bukan kutub negatif
yang berbahaya adalah rangkaian terputus
sebab kesombongan
lebih sering memadamkan cahaya
daripada kesedihan

Mungkin masalahnya
bukan pada hal-hal yang kalian sebut negatif
mungkin yang rusak
adalah cara kalian memberi nama
kalian menyebut proses sebagai hukuman
menyebut teguran sebagai kebencian
menyebut jeda sebagai kegagalan
ha ha ha

Jadi
sebelum sibuk mengusir segala kepahitan
cobalah bertanya kepada balon lampu
ia tidak pernah memilih hanya satu kutub
ia hanya setia menjalankan perannya
mengubah perbedaan menjadi cahaya


Mamuju Sul-Bar, 22/11/2023

AAB - Menjaga Akar Di Tanah Zaman




"Di tengah arus zaman yang menderu, tradisi bukan sekadar masa lalu, melainkan kompas bagi perjalanan kita. Puisi-puisi ini adalah napas yang menjaga agar akar bangsa tidak hanyut ditelan waktu."


Menjaga Akar Di Tanah Zaman
By: Arif Agus Bege'h


Perjalanan panjang telah menempuh usia
menyusuri zaman yang terus berubah rupa
kita tidak menolak laju mesin dan baja
namun bukan berarti melupakan jati diri yang terjaga

Hujan turun membasuh debu-debu modernitas
mengingatkan kita pada tanah yang punya identitas
tradisi adalah tepian agar sungai tak meluap liar
tempat akar berpijak agar jiwa tak pernah gusar

Seringkali airmata jatuh melihat tatanan luntur
tergerus ego yang angkuh dan kemajuan yang tak terukur
namun kita masih di sini menenun benang yang tersisa
menyimpan narasi leluhur di dalam dada yang setia

Perubahan itu niscaya
namun jangan sampai hanyut
jika identitas hilang
kita hanya akan menjadi pengembara kalut
mencari rumah di tengah megahnya beton yang dingin
kehilangan arah meski telah sampai ke puncak ingin

Maka biarlah perjalanan ini menjadi bukti nyata
bahwa inovasi dan warisan bisa berjalan seirama
hujan dan waktu akan menguji seberapa kuat kita bertahan
menjaga api tradisi tetap menyala di tengah kegelisahan

Jangan biarkan airmata penyesalan menjadi penutup kisah
karena membiarkan tradisi musnah adalah kekalahan yang parah
jadilah perisai bagi bangsa yang tetap memegang teguh martabat
agar anak cucu masih mengenali wajah negerinya yang keramat

Kita adalah penjaga yang menolak untuk lupa
menjadikan tradisi sebagai kompas di sepanjang masa


Masamba Sul-Sel, 22/11/2023