AAB - Lentera Di Tengah Gulita

Lentera Di Tengah Gulita
By: Arif Agus Bege'h


Kabut menebal di langkahmu
saat kuperhatikan
ada bimbang yang merayap di sana
akankah kau membagi pekatmu bersamaku
berpaling sejenak dari badai batinmu
garis tatapmu yang kosong
menyisakan ruang yang ingin aku penuhi

Adakah kau izinkan raguku memandu
lalu kau jahit rapat dalam pasrah
sebab aku tak pernah ingin pikiranmu segelap ruang hampa
menanggung sunyi malam sendirian tanpa pelita
yang kumohon hanyalah kerelaan
mengaku kalah apa adanya

Andai binar bintang mampu kupetik
akan kubawa kilaunya ke jemarimu sebagai penunjuk arah
aku mungkin tak bisa menjanjikanmu fajar yang benderang
namun kuyakinkan
nyala setiamu jauh lebih terang dari malam terkelam

Akan kuberikan dadaku yang lapang
tempat kau tumpahkan segala perih dan duka
meski bukan suluh yang sempurna
aku bersedia menjadi sumbu
menjaga pijar tempat kita mencari jalan
demi menemukan keabadian surga di pelukanmu


Tarailu Sul-Bar, 18/01/2010

AAB - Benih Harapan

Benih Harapan
By: Arif Agus Bege'h


Gugur meluruh di lengkung senyummu
saat kuperhatikan ada kecewa yang mengendap
akankah kau bagi gersangmu bersamaku?
berteduh sejenak dari badai kegagalanmu

Patah mimpi menyisakan ruang rindu yang ingin kutanam
izinkan raguku memupuk sabar yang kau dekap rapat
sebab tak pernah kuingin hatimu menjadi ladang mati
menyimpan duka, tanpa tunas baru

Ah...
badai itu barangkali hanya singgah sebentar
guruhnya sekadar menguji keteguhan tanah batinmu
saat putus asa mencoba merenggutmu
mematahkan asa, merusak rencana

Lelah aku melihatmu meratap sendirian
enggan kubiarkan kau menyerah pada keadaan
mari bersandar di bawah rindang keyakinan
berpayung ketabahan yang takkan runtuh

Semangatmu kini layu, tak bertenaga
namun tekad dan impian di sekujur ragamu
harus bangkit, bagai benih
yang menjebol tanah kering di musim kemarau

Mengapa kau biarkan dirimu tenggelam?
andai gerimis mampu kupanggil
akan kubawa sejuknya ke keningmu, pembasuh luka
aku tak menjanjikan panen yang melimpah
namun ketulusanku, jauh lebih kaya dari tanah terbaik

Kuberikan dadaku yang lapang
tempat kau tumpahkan segala perih
meski bukan kebun yang sempurna, aku bersedia menjadi akar
menjaga batang tempat kita tumbuh kembali
demi memetik buah surga di masa depanmu

Telah kusediakan ruang baru sebelum kau meminta
sebab akulah bumi, akulah ladang subur itu
di dalam dekapanku
gersangmu takkan lagi berbekas


Tarailu Sul-Bar, 18/01/2010

AAB - Rumah Di Balik Badai

Rumah Di Balik Badai
By: Arif Agus Bege'h


Senja meredup di matamu
saat kutatap, ada lelah yang tersembunyi di sana
akankah kau membagi bebanmu bersamaku
menepi sejenak dari bising dunia?
garis senyummu getir menyisakan ruang yang rindu kutata

Adakah kau izinkan raguku bertamu
lalu kau kunci rapat dalam percaya
sebab aku tak pernah ingin jiwamu sekeras batu karang
menahan hantaman ombak sendirian tanpa erangan
yang kuminta hanyalah kerelaan
berbagi rapuh apa adanya

Andai hangat perapian mampu kuikat
akan kubawa pijarnya ke dekatmu sebagai selimut malam
aku mungkin tak bisa membangunkankanmu istana yang megah
namun kuyakinkan
dinding sabarku jauh lebih kokoh dari badai terkuat

Akan kuberikan pundakku yang lapang
tempat kau tumpahkan segala tangis dan penat
meski bukan tempat bernaung yang sempurna
aku bersedia menjadi tiang
menopang atap tempat kita berlindung
demi menemukan kedamaian surga di sisimu


Tarailu Sul-Bar, 17/01/2010

AAB - Hadiah Hati Untukmu

Hadiah Hati Untukmu
Oleh: Arif Agus Bege'h


Merah merona pipimu
saat kupandang, ada harapan yang berpendar di sana.
Akankah kau mengingatku saat terjaga,
menyambut mentari pagi?
Rambut hitammu terurai, laksana putri mayang.

Adakah kau simpan namaku di kalbumu,
lalu kau abadikan dalam sukma?
Dingin dan beku salju abadi di puncak Papua,
namun aku tak pernah berharap hatimu sedingin itu untukku.
Yang kumau, hanyalah ketulusan,
menerima aku apa adanya.

Andai tetesan embun mampu kutampung,
akan kubawa untukmu sebagai persembahan;
sejuknya cinta yang kutawarkan.
Aku mungkin tak bisa membawamu mendaki Himalaya,
namun aku jamin, rinduku jauh lebih tinggi dari puncaknya.

Akan kuberikan hatiku yang lapang,
untuk kau tebarkan segala rasa dan hasrat.
Meski tak seluas samudra,
akan kutangguk setiap asa,
demi mengayuh kehidupan,
dan menggapai kelenggangan surga di kalbumu.


Tarailu, Sulawesi Barat, 16/01/2010

Puisi AAB - Hujan Air Mata

Hujan Air Mata
By: Arif Agus Bege'h


Menghitung waktu pada jemari manis
saat aksara kehilangan daya
tak lagi menulis karena berharap
kini dirimu usai di pelukan sang raja
permaisuri menertawakan sunyiku
para menteri berpesta pora
dan panglima menghunus pedangnya

Seakan terjaga dari mimpi buruk
namun nyata menyelimuti duk
menantang nasib atau menanti keajaiban
salahkan hujan yang menanam benih
benih air, benih mata

Siapakah yang mampu membuangmu?
siapa pula yang memisahkanmu dari badai takdir?
apakah luka ini hanyalah kenangan
atau sejarah ketulusan cinta?
aku takkan dapat menggores namamu
di setiap sajak yang tak berarti di mata mereka
sebab kau telah lahir sebagai Fitra

Air, beranjaklah
daki tangga keempat dan kelima nan pasti
dalam bentangan jalan yang kau tempuh
redam benci pada jiwa sang raja
raja yang takluk oleh permaisurinya
sungguh dirimu memanggil adik pada mata
dan kau pun kuberi nama: Nur Arifah Saputri

Mata, kau adalah sekeping mahar kebahagiaan
meski air menghalangi pandangan
kalian tetap buah dan jantung hati
tak terpisah oleh benturan atau tiga ketukan
bahkan oleh pemilik istana sekalipun
dan kau pun kuberi nama: Nur Jumanah Dwiputri

Sungguh bercahaya dalam nyata
meski gelap pada hujan
berkilau pada netra
namun gemerlapnya tak pernah menggelegar
kau tak sanggup menerobos gerimis meski asa menggebu
namun takdir akhirnya tunduk di pangkuanmu
semoga mereka bercermin padamu
sebagai titisan cahaya terdahulu

Sampai kapan cahaya tertahan di ujung harapan?
hingga saat air dan mata mencari asalnya
kemelut berakhir dalam kehausan hakiki
cinta memberi pilihan
cinta memberi pertanyaan
dan jawabanmu ada pada hujan
hujan air mata


Tarailu Sul-Bar, 30/12/2009