AAB - Bait-bait Perlawanan


Kenyataan hari ini tidak sedang baik-baik saja. Di balik sunyinya malam, sebuah gerakan nyata terus mengancam masa depan generasi kita tanpa kenal lelah.

Malam ini, bukan sekadar kata yang bersuara. Ini adalah sikap, keresahan mendalam, dan pengaduan langsung kepada Sang Pencipta.
Inilah... bait-bait perlawanan."

AAB - Puisi Itu Tidak Mahal

 


Ketika kata-kata bisa diracik instan oleh mesin dan dihargai murah oleh pasar, di mana letak harga diri sebuah rasa? Inilah sebuah gugatan realitas: 'Puisi Itu Tidak Mahal'

AAB - Berhenti Mengaturmu

Banyak yang menggunakan cinta sebagai alat untuk mengubah seseorang menjadi apa yang mereka inginkan. Namun, pecinta sejati justru menggunakan cinta untuk membebaskan seseorang dari tuntutan menjadi apa pun, selain menjadi dirinya sendiri.

Sebuah puisi tentang pembebasan ekspektasii

AAB - Dialog Di Batas Angka Dan Huruf

 

Dunia sibuk menghitung jumlah dan mengurutkan aturan, hingga kita lupa bahwa kebenaran sejati tidak terletak pada apa yang dipaksakan oleh dunia, melainkan pada apa yang didekap oleh jiwa.

AAB - Arsip Abadi



Arsip Abadi
By: Arif Agus B


Aroma tiner dan cat minyak menguap di udara
ku tutup rapat jendela kayu yang mulai rapuh
menolak bising klakson kota yang merusak fokus kerja

Di bawah temaram lampu pijar seratus watt
jemariku menari
menorehkan cairan pengawet pada kanvas basah
menangkap sisa-sisa napas terakhir yang hampir punah

Lembar demi lembar waktu perlahan membeku
denyut nadi melambat
tergantikan guratan pigmen yang pekat
seluruh penyesalan masa lalu
ku kunci di balik bingkai mahoni

Ku pandangi mahakarya yang terpajang di sudut sunyi
begitu anggun
sempurna
dan tak akan pernah menua

Keindahan fana yang dahulu mudah rapuh
kini menjelma abadi

Persetan dengan hukum alam
persetan dengan pembusukan
selamat datang di galeri kesunyian yang tak berujung

Di ruangan ini
akulah sang penguasa tunggal
menciptakan dunia dari kuas yang berlumur obsesi
mengubur penuaan di bawah lapisan pernis yang berkilau

Detak jarum jam dinding terdengar kian menjauh
namun ego ini telah menemukan rumahnya

Di dalam dimensi visual ini
aku mengunci waktu
menjadi pencipta keindahan absolut
membiarkan dunia luar runtuh menjadi debu


Masamba Sul-Sel, 10/07/2026

AAB - Janji Di Atas Podium

 

Janji Di Atas Podium
By: Arif Agus B

Hari itu
beratus mulut berteriak
bersumpah
membakar semangat dengan narasi tentang kesejahteraan
entah masa depan apa yang mereka janjikan
heran aku mendengarnya

Aku tak sudi lagi percaya
sebab orasi mereka telah menjelma fatamorgana
mengaburkan kenyataan
harapan dan keadilan

Paling hanya jelang pemilihan mereka peduli
pekikan kalian mengotori harapan rakyat kecil
suara penuh kepalsuan
jargon kosong dan pencitraan

Muak rasa telingaku
enggan aku ikut bersorak
bertepuk tangan di balik panggung baliho raksasa
berpayung kemewahan partai

Sikapku saat ini diam tanpa gerakan
namun nalar
kritik
marah
kecewa
kesadaranku
bergemuruh bagai gempa yang tak mampu meretakkan tanah di waktu fajar dan senja
mengapa kalian menipu jelata?

Basi...
tak sudi kutelan bualan manis para penguasa
meskipun kalian menang dan bersuka cita aku tetap bertahan di sini, dan roda nasib akan terus berputar

Telah kuabaikan rayuan kalian sebelum kalian berkuasa
sebab aku adalah akar aku adalah gunung
di bawah pijakanku
kuasa kalian takkan menggetarkan


Masamba Sul-Sel, 08/07/2026

Mantera Sembongkem


Mantera Sembongkem
By: Arif Agus B


Gerhana tipis menyapu ufuk yang memerah
tanah mengeras di bawah jejak kaki yang diam
aku berdiri tegak membawa segenggam mantra bumi

Sembongkem, si bongkem
kupanggil hening dari sudut paling sepi
lipatlah lidah yang bersiap melepas fitnah
redamlah bara amarah yang bergolak di dada lawan

Eeem...meng-emeng...
dunia mendadak sunyi
kehilangan seluruh gaungnya
menyisakan desau angin yang tak bertepi

Kunci Allah, gembok Allah
pintu-pintu ucapan kini telah terpasang pasak besi
tak akan mampu bergetar walau digertak badai
tak akan pecah menjadi kalimat yang mengancam

Tup tutup batur perem musuh
matamu mendadak kosong dan gamang
kata-katamu luruh
menjelma debu sebelum terucap
lumpuh segala niat buruk di hadapan wibawaku

Ndek buek muni, ndek buek ngeraos
kunci lidahmu yang tajam
kancing rapat pertemuan ini
hingga tak ada lagi celah untuk berdusta

Kene ajian sembongkem bunge
Maka tunduklah segala yang liar di bawah langit
redahlah sengketa lama yang membakar hati
biarkan jagat raya menjadi saksi bisunya kata

Udara membeku di antara kita
suara-suara bising meleleh menjadi hening
kau terpaku tanpa daya
menyerah pada kekuatan sakral yang merayap

Bismillahirrohmanirrohim...
sembongkem, si bongkem
eeem...meng-emeng...
kunci Allah, gembok Allah
tup tutup batur perem musuh
ndek buek muni, ndek buek ngeraos
kene ajian sembongkem bunge
ndenaara’ ku kuasani
kuasani Alah
em... (Roma/Ani) puah
ante teperiri, ante tepiara
mbe-mbe muter
mbe-mbe meco
keme’ te balit
keme’ te slametang
Berkat Lailahaillallah Muhammadarrasulullah


Masamba Sul-Sel, 02/07/2026

AAB - Menunda Muara

 

Menunda Muara
By: Arif Agus B


Jangan biarkan rindu itu tuntas sekarang
biarkan ia mengendap
menjadi rahasia yang paling gigih
di dalam dada kita masing-masing

Kau mengambil jalan ke utara
aku melangkah menuju selatan
kita adalah sepasang pengembara
pada dua setapak yang sengaja berjauhan

Tak perlu terburu-buru melipat jarak
waktu tahu cara merawat jeda
menghitung detak demi detak
sebelum ingatan benar-benar menjadi usang

Lalu, di sebuah tikungan yang tak terduga
tepat di penghujung hari yang lelah
langkah kita akan mendadak berhenti
menemukan ujung dari labirin yang sama

Di sanalah kisah kita akan diringkas
ketika langit mendadak luruh
menyatukan seluruh sisa tunggu
menjadi satu dengan hujan dan airmata


Masamba Sul-Sel, 01/07/2026

AAB - Yang Lupa Kusiapkan

Yang Lupa Kusiapkan
(Sebuah Nasehat Diri)
By: Arif Agus B


Pagi kugadaikan
siang kulipat
malam kujual
demi angka-angka
yang terus kuanggap belum cukup
lalu aku berkata
"Akan kupastikan mereka tidak kekurangan"

Aku sibuk bertanya
nanti anakku akan jadi apa?
jadi orang lurus
atau pengikut jalan bengkok
jadi pengajar
atau pemburu tipu daya
jadi penyejuk
atau penyebab orang lain menangis
pertanyaanku sangat panjang
tapi doaku kadang pendek

Lemari penuh
rekening bertambah
tetapi saat kotak sedekah lewat
dua ribu rupiah mendadak terasa lebih berat
daripada sajadah di pundakku
"Besok sajalah"
kalimat itu lebih sering hidup daripada sedekahku

Aku menghafal biaya sekolah
harga tanah
nilai emas
peluang usaha
dan grafik keuntungan
hingga nilai seporsi MBG pun tak luput
tetapi lupa menghafal berapa dosa yang belum sempat ku istigfarkan
aneh sekali

Kataku, "Yang penting masa depan anak"
betul, betul, betul
lalu siapa yang sedang menyiapkan masa depanku sendiri?
terlalu sibuk membangun rumah
hingga lupa alamat rumah terakhirku

Tak ada orang yang bisa menawar
tanggal rambut memutih
tak ada yang mampu menggeser
jadwal kulit menjadi keriput
otot yang ku banggakan
pelan-pelan menyerah
langkah yang dulu gagah
akhirnya belajar gemetar

Ada pintu yang pasti terbuka
bukan pintu kantor
bukan pintu rumah
pintu yang membuat gelar
jabatan
rekening
dan tepuk tangan berhenti bekerja
di sana
tak ada warisan yang bisa menggantikan amalku.

"Kita masih punya waktu kok"
siapa yang berkata begitu?
jam tidak pernah membuat janji
kematian tidak pernah mengirim surat pemberitahuan
sedang aku terus menyusun rencana A
rencana B
rencana C
padahal Tuhan telah memiliki satu rencana yang tak pernah gagal datang

Maka sebelum sibuk menentukan siapa anakmu kelak
bertanyalah lebih dulu
siapa dirimu ketika berdiri sendirian di hadapan Tuhan
jangan sampai anak-anakmu menikmati hasil jerih payahmu
sementara engkau menyesali masa depanmu sendiri yang terlambat dipersiapkan


Masamba Sul-Sel, 22/06/2026

(QS. Al-Hasyr [59]: 18)
 يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنظُرْ نَفْسٌ مَا قَدَّمَتْ لِغَدٍ ۖ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۚ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ 

Yā ayyuhallażīna āmanuttaqullāha wal-tanzur nafsum mā qaddamat lighad, wattaqullāh. Innallāha khobīrum bimā ta'malūn.

Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap orang memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat). Bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Mahateliti terhadap apa yang kamu kerjakan.

Sajak Panggung Sandiwara Para Pengganti



"Sebuah catatan yang memotret realitas di sekitar kita, tentang manusia yang kerap kali silau dengan jubah kesucian, hingga lupa pada esensi kemanusiaan itu sendiri. Dari lembaran gelisah tahun 2009 - 2026, mari kita renungkan bersama: Panggung Sandiwara Para Pengganti."

Panggung Sandiwara Para Pengganti
By: Arif Agus B


Di sana
di atas altar yang bising
berhala-berhala baru lahir dari jemari runcing
mereka berebut menghakimi hamba yang kebingungan
yang kehilangan arah di jalan-jalan asing

Di sini
di atas tanah penuh kepura-puraan
kita sibuk memesan jubah kesucian
merebut otoritas langit tanpa beban
seolah takhta tuhan bisa disewa mingguan

Malaikat memilih cuti panjang
menepi dari bumi yang gemar pamer
ritual megah dibangun dari modal utang
demi perayaan yang dipaksakan meriah

Lalu skenario suci itu retak seketika
di tangan pemabuk yang dituding durhaka
di meja judi yang dikutuk sebagai neraka
mereka justru mengeja arti kesetiaan yang nyata

Mereka bertaruh
bukan lagi tentang angka atau dadu
melainkan memeluk nurani yang cedera
menjadi penjaga di balik malam yang pekat
meski stempel pendosa telanjur melekat di jidat

Beduk bertalu
azan jumat membelah udara
namun langkah mereka tertahan di luar gerbang
bukan karena membangkang perintah Sang Pencipta
mereka hanya tahu diri
tubuh penuh lumur dan noda

Panggung ini runtuh di ujung kepasrahan
saat mereka yang merasa suci sibuk memburu pengakuan
dan jiwa yang tersesat justru menemukan pulang
di balik sujud sunyi tanpa sorak-sorai perayaan


Masamba Sul-Sel, 18/06/2026

AAB - Lembar Baru



"Tahun baru bukan sekadar pergantian angka di kalender, melainkan kesempatan untuk membasuh diri dari segala sisa masa lalu. Sebelum kita melangkah lebih jauh, mari kita siapkan lembaran yang lebih bersih. Inilah 'Lembar Baru'."

Lembar Baru
By: Arif Agus Bege'h

Muharram menyapa dengan hening yang jujur
membentangkan putih tanpa debu masa lalu
kulepas beban yang membatu
menghapus jejak luka agar langkah tak lagi terpaku

Tahun lalu hanyalah guru yang telah usai bicara
tak perlu kugendong sisa-sisa airmata
kegagalan adalah tinta yang telah mengering
kuhapus bersih
membiarkan jiwa kembali bening

Aku tak meminta jalan hidup yang selalu rata
hanya keteguhan saat badai menyapa
biarlah waktu menjadi saksi niat yang diperbarui
bukan sekadar angka yang hilang ditelan hari

Selamat tinggal diri yang lama dan lelah
hari ini aku lahir dengan niat yang lebih cerah
menuliskan doa di atas lembar yang masih suci
tanpa bayang ragu yang membuatku berhenti

Tuhan
bimbing jemari ini menuliskan kebaikan
agar setiap langkah adalah bentuk penghambaan
tahun ini adalah kesempatan untuk kembali pulang
pada fitrah yang sempat hilang di tengah petang


Masamba Sul-Sel, 16/06/2026 atau 1 Muharram 1448 H

AAB - Di Balik Jeda Hujan



"Kebaikan yang paling murni adalah kebaikan yang tidak pernah tahu bahwa dirinya sedang berbuat baik."

Di Balik Jeda Hujan
By: Arif Agus Bege'h


Kebaikan bukan tentang menanam papan nama di dada
ia serupa benih yang jatuh ke tanah tanpa suara
tersembunyi
memeluk bumi
menanti waktu untuk bertumbuh
tumbuh menjadi teduh yang tak pernah meminta balasan angkuh

Kita adalah perjalanan yang seringkali salah arah
terburu-buru menuntut tepuk tangan
atas lelah yang parah
padahal
tangan yang memberi tak perlu mata untuk melihat
cukup hati yang tahu bahwa ia telah menjadi rahmat

Lihatlah hujan yang jatuh tanpa pernah bertanya
siapa yang butuh haus
siapa yang butuh dahaga
ia membasahi hutan dan jalanan dengan takaran yang sama
memberi kehidupan tanpa meninggalkan sepatah kata pun untuk dipuja

Maka jika airmata harus jatuh di sela-sela pengabdian
biarkan ia menjadi saksi atas tulusnya sebuah ketetapan
bukan untuk dikabarkan pada dunia yang sibuk menghakimi
tapi untuk membasuh ego yang kadung berkarat di dalam diri

Biarlah tangan kiri tak perlu tahu apa yang diberikan tangan kanan
sebab kemuliaan sejati selalu bersembunyi dalam diam
tak perlu riuh
tak perlu pamrih
tak perlu pengakuan
sebab kebaikan yang tulus biarkan Tuhan saja yang menyimpan dalam ingatan


Masamba Sul-Sel, 13/06/2026

AAB - Belantara Retak

 



"Jangan pernah malu dengan retakan pada jiwamu; retakan itulah yang membuat cahaya akhirnya bisa memantul keluar untuk dilihat dunia."

Belantara Retak
By: Arif Agus Bege'h


Suasana telah menjadi hitam
berjalanlah melalui lorong belakang
dan jiwa-jiwa tidak akan tahu
apa yang telah kita simpan dalam bimbang

Mereka masih sibuk membicarakan pekat
dan di antara kita telah saling memahami
tak perlu risau oleh waktu yang mencelat
sebab cerita tetap akan sampai meski di dalam sunyi

Namun lihatlah
lampu sorot kini menyala
membongkar habis topeng yang kita bawa
kita bukan lagi pemenang yang bersembunyi dalam ragu
sebab kebenaran adalah gema yang paling lantang
ia tak lagi butuh bayang
ia ingin berdiri telanjang

Lusa dan belasan perjalanan waktu kemudian
yang semula terlihat akhirnya menjadi belantara
tempat di mana setiap cela yang merayap
kini memantul menjadi retakan yang merdeka

Cepat
segera
saatnya
semua akan terbaca dengan sendirinya


Masamba Sul-Sel, 12/06/2026


Di Balik Pundak Yang Teguh



"Seringkali kita diajarkan bahwa diam adalah ketabahan, dan mengeluh adalah kekalahan. Namun kali ini, mari kita belajar melepaskan sedikit tali yang mencekik napas itu. Mari jujur pada diri sendiri. Inilah puisi tentang jiwa-jiwa yang lelah namun tetap melangkah, karya Penyair Aspulut: 'Di Balik Pundak yang Teguh'."

Di Balik Pundak yang Teguh

By: Arif Agus Bege'h



Kau berdiri seperti karang di tengah deburan

menahan badai

menelan riak-riak kesakitan

matamu bicara tentang peta perjalanan yang berat

tentang malam-malam di mana kau menolak untuk beristirahat


Ada seuntai beban yang kau ikat kuat di punggungmu

seolah dunia akan runtuh jika kau lepaskan satu

namun dengarlah

wahai jiwa yang sering terengah

langit pun butuh awan untuk membagi beban resah


Bumi tak pernah berputar sendirian dalam sunyi

ada gravitasi yang saling memeluk

menjaga harmon


Tidak semua beban perlu kamu pikul sendiri

sebab pundakmu manusia bukan pilar besi yang abadi

kita sering diajarkan bahwa diam adalah ketabahan

bahwa mengadu adalah kekalahan yang memalukan


Lalu kita mengunci pintu mematikan lampu di dalam dada

berpura-pura tegar meski batinmu basah oleh hujan yang melanda

padahal di dalam

retakan mulai merayap pelan

meminta ruang

meminta sedikit saja perhatian


Belajarlah meminta bantuan

sebab di sana bukan letak kehancuran

mengulurkan tangan bukan berarti kau telah patah

tapi tanda bahwa kau cukup berani untuk bersikap rendah


Biar saja airmata jatuh membasahi pipi yang lelah

sebab mengakui kerapuhan bukanlah sebuah fakta yang salah

meminta bantuan bukan tanda kelemahan

melainkan bukti bahwa kau menghargai kehidupan


Satu tangan yang kau raih satu bahu yang kau pinjam

bisa jadi lentera di tengah lorong yang sedang menghitam

kau tak harus menjadi pahlawan yang selalu menang

terkadang, menjadi manusia yang jujur jauh lebih tenang


Lepaskan sedikit tali yang mencekik napas mu itu

bicaralah pada angin

atau pada sahabat yang menunggu

dunia takkan menghakimi langkahmu yang melambat

sebab yang paling mencintaimu

ingin melihatmu selamat


Berhentilah memikul segalanya sendirian

sebab di sela-sela kebersamaan

ada damai yang Tuhan titipkan



Masamba Sul-Sel, 11/06/2026

AAB - Roda Menolak Diam


"Berhentilah menganggap hidup adalah roda yang berputar dengan sendirinya, sebab nasib bukanlah mekanisme otomatis yang bekerja tanpa bahan bakar. Tuhan telah memberikan mesin berupa akal, tenaga, dan kehendak. Jika roda kehidupanmu tak kunjung berputar, jangan tanyakan mengapa Tuhan tidak adil, tetapi tanyakan seberapa besar daya dan upaya yang telah kau curahkan untuk menggerakkannya."

Roda Menolak Diam
By: Arif Agus Bege'h


Bukan sekadar lingkaran besi yang pasrah pada nasib
bukan pula poros yang menunggu takdir memanggilnya naik ke langit
roda adalah janji
adalah jejak yang mesti dipahat di atas tanah
sebab tanpa daya yang membakar
ia hanyalah rongsokan yang terlelap dalam lelah

Kita sering berbisik pada angin
mengeluh tentang posisi yang di bawah
menuding semesta
menunjuk Tuhan seolah dialah yang membelenggu langkah
padahal, di tanganmu ada api
di kakimu ada otot dan nyali
mengapa kau biarkan roda itu membeku
hanya menjadi saksi mimpi yang mati?

Roda kehidupan tidak berputar oleh waktu yang sekadar berlalu
ia berputar oleh tetes keringat
oleh tekad yang tak kenal buntu
setiap engsel yang berderit adalah suara dari upaya yang kau kerahkan
setiap tanjakan adalah ruang bagi kekuatanmu untuk dibuktikan

Jangan kau gadai kegagalanmu dengan menyalahkan ketetapan-Nya
sebab Tuhan telah memberi mesin berupa akal dan jiwa yang merdeka
jika roda itu terhenti
jangan cari alasan pada langit yang diam
periksalah kembali daya di tanganmu
sebelum kau karam dalam kelam

Jadilah nahkoda bagi poros hidupmu sendiri
tarik napas
gerakkan roda itu
raih tujuan yang menanti
sebab nasib bukanlah surat yang datang dari langit tanpa nama
ia adalah lukisan yang kau coretkan dengan daya upaya dan doa yang terjaga


Masamba Sul-Sel, 08/06/2026