Sajak Panggung Sandiwara Para Pengganti



"Sebuah catatan yang memotret realitas di sekitar kita, tentang manusia yang kerap kali silau dengan jubah kesucian, hingga lupa pada esensi kemanusiaan itu sendiri. Dari lembaran gelisah tahun 2009 - 2026, mari kita renungkan bersama: Panggung Sandiwara Para Pengganti."

Panggung Sandiwara Para Pengganti
By: Arif Agus B


Di sana
di atas altar yang bising
berhala-berhala baru lahir dari jemari runcing
mereka berebut menghakimi hamba yang kebingungan
yang kehilangan arah di jalan-jalan asing

Di sini
di atas tanah penuh kepura-puraan
kita sibuk memesan jubah kesucian
merebut otoritas langit tanpa beban
seolah takhta tuhan bisa disewa mingguan

Malaikat memilih cuti panjang
menepi dari bumi yang gemar pamer
ritual megah dibangun dari modal utang
demi perayaan yang dipaksakan meriah

Lalu skenario suci itu retak seketika
di tangan pemabuk yang dituding durhaka
di meja judi yang dikutuk sebagai neraka
mereka justru mengeja arti kesetiaan yang nyata

Mereka bertaruh
bukan lagi tentang angka atau dadu
melainkan memeluk nurani yang cedera
menjadi penjaga di balik malam yang pekat
meski stempel pendosa telanjur melekat di jidat

Beduk bertalu
azan jumat membelah udara
namun langkah mereka tertahan di luar gerbang
bukan karena membangkang perintah Sang Pencipta
mereka hanya tahu diri
tubuh penuh lumur dan noda

Panggung ini runtuh di ujung kepasrahan
saat mereka yang merasa suci sibuk memburu pengakuan
dan jiwa yang tersesat justru menemukan pulang
di balik sujud sunyi tanpa sorak-sorai perayaan


Masamba Sul-Sel, 18/06/2026

AAB - Lembar Baru



"Tahun baru bukan sekadar pergantian angka di kalender, melainkan kesempatan untuk membasuh diri dari segala sisa masa lalu. Sebelum kita melangkah lebih jauh, mari kita siapkan lembaran yang lebih bersih. Inilah 'Lembar Baru'."

Lembar Baru
By: Arif Agus Bege'h

Muharram menyapa dengan hening yang jujur
membentangkan putih tanpa debu masa lalu
kulepas beban yang membatu
menghapus jejak luka agar langkah tak lagi terpaku

Tahun lalu hanyalah guru yang telah usai bicara
tak perlu kugendong sisa-sisa airmata
kegagalan adalah tinta yang telah mengering
kuhapus bersih
membiarkan jiwa kembali bening

Aku tak meminta jalan hidup yang selalu rata
hanya keteguhan saat badai menyapa
biarlah waktu menjadi saksi niat yang diperbarui
bukan sekadar angka yang hilang ditelan hari

Selamat tinggal diri yang lama dan lelah
hari ini aku lahir dengan niat yang lebih cerah
menuliskan doa di atas lembar yang masih suci
tanpa bayang ragu yang membuatku berhenti

Tuhan
bimbing jemari ini menuliskan kebaikan
agar setiap langkah adalah bentuk penghambaan
tahun ini adalah kesempatan untuk kembali pulang
pada fitrah yang sempat hilang di tengah petang


Masamba Sul-Sel, 16/06/2026 atau 1 Muharram 1448 H

AAB - Di Balik Jeda Hujan



"Kebaikan yang paling murni adalah kebaikan yang tidak pernah tahu bahwa dirinya sedang berbuat baik."

Di Balik Jeda Hujan
By: Arif Agus Bege'h


Kebaikan bukan tentang menanam papan nama di dada
ia serupa benih yang jatuh ke tanah tanpa suara
tersembunyi
memeluk bumi
menanti waktu untuk bertumbuh
tumbuh menjadi teduh yang tak pernah meminta balasan angkuh

Kita adalah perjalanan yang seringkali salah arah
terburu-buru menuntut tepuk tangan
atas lelah yang parah
padahal
tangan yang memberi tak perlu mata untuk melihat
cukup hati yang tahu bahwa ia telah menjadi rahmat

Lihatlah hujan yang jatuh tanpa pernah bertanya
siapa yang butuh haus
siapa yang butuh dahaga
ia membasahi hutan dan jalanan dengan takaran yang sama
memberi kehidupan tanpa meninggalkan sepatah kata pun untuk dipuja

Maka jika airmata harus jatuh di sela-sela pengabdian
biarkan ia menjadi saksi atas tulusnya sebuah ketetapan
bukan untuk dikabarkan pada dunia yang sibuk menghakimi
tapi untuk membasuh ego yang kadung berkarat di dalam diri

Biarlah tangan kiri tak perlu tahu apa yang diberikan tangan kanan
sebab kemuliaan sejati selalu bersembunyi dalam diam
tak perlu riuh
tak perlu pamrih
tak perlu pengakuan
sebab kebaikan yang tulus biarkan Tuhan saja yang menyimpan dalam ingatan


Masamba Sul-Sel, 13/06/2026

AAB - Belantara Retak

 



"Jangan pernah malu dengan retakan pada jiwamu; retakan itulah yang membuat cahaya akhirnya bisa memantul keluar untuk dilihat dunia."

Belantara Retak
By: Arif Agus Bege'h


Suasana telah menjadi hitam
berjalanlah melalui lorong belakang
dan jiwa-jiwa tidak akan tahu
apa yang telah kita simpan dalam bimbang

Mereka masih sibuk membicarakan pekat
dan di antara kita telah saling memahami
tak perlu risau oleh waktu yang mencelat
sebab cerita tetap akan sampai meski di dalam sunyi

Namun lihatlah
lampu sorot kini menyala
membongkar habis topeng yang kita bawa
kita bukan lagi pemenang yang bersembunyi dalam ragu
sebab kebenaran adalah gema yang paling lantang
ia tak lagi butuh bayang
ia ingin berdiri telanjang

Lusa dan belasan perjalanan waktu kemudian
yang semula terlihat akhirnya menjadi belantara
tempat di mana setiap cela yang merayap
kini memantul menjadi retakan yang merdeka

Cepat
segera
saatnya
semua akan terbaca dengan sendirinya


Masamba Sul-Sel, 12/06/2026


Di Balik Pundak Yang Teguh



"Seringkali kita diajarkan bahwa diam adalah ketabahan, dan mengeluh adalah kekalahan. Namun kali ini, mari kita belajar melepaskan sedikit tali yang mencekik napas itu. Mari jujur pada diri sendiri. Inilah puisi tentang jiwa-jiwa yang lelah namun tetap melangkah, karya Penyair Aspulut: 'Di Balik Pundak yang Teguh'."

Di Balik Pundak yang Teguh

By: Arif Agus Bege'h



Kau berdiri seperti karang di tengah deburan

menahan badai

menelan riak-riak kesakitan

matamu bicara tentang peta perjalanan yang berat

tentang malam-malam di mana kau menolak untuk beristirahat


Ada seuntai beban yang kau ikat kuat di punggungmu

seolah dunia akan runtuh jika kau lepaskan satu

namun dengarlah

wahai jiwa yang sering terengah

langit pun butuh awan untuk membagi beban resah


Bumi tak pernah berputar sendirian dalam sunyi

ada gravitasi yang saling memeluk

menjaga harmon


Tidak semua beban perlu kamu pikul sendiri

sebab pundakmu manusia bukan pilar besi yang abadi

kita sering diajarkan bahwa diam adalah ketabahan

bahwa mengadu adalah kekalahan yang memalukan


Lalu kita mengunci pintu mematikan lampu di dalam dada

berpura-pura tegar meski batinmu basah oleh hujan yang melanda

padahal di dalam

retakan mulai merayap pelan

meminta ruang

meminta sedikit saja perhatian


Belajarlah meminta bantuan

sebab di sana bukan letak kehancuran

mengulurkan tangan bukan berarti kau telah patah

tapi tanda bahwa kau cukup berani untuk bersikap rendah


Biar saja airmata jatuh membasahi pipi yang lelah

sebab mengakui kerapuhan bukanlah sebuah fakta yang salah

meminta bantuan bukan tanda kelemahan

melainkan bukti bahwa kau menghargai kehidupan


Satu tangan yang kau raih satu bahu yang kau pinjam

bisa jadi lentera di tengah lorong yang sedang menghitam

kau tak harus menjadi pahlawan yang selalu menang

terkadang, menjadi manusia yang jujur jauh lebih tenang


Lepaskan sedikit tali yang mencekik napas mu itu

bicaralah pada angin

atau pada sahabat yang menunggu

dunia takkan menghakimi langkahmu yang melambat

sebab yang paling mencintaimu

ingin melihatmu selamat


Berhentilah memikul segalanya sendirian

sebab di sela-sela kebersamaan

ada damai yang Tuhan titipkan



Masamba Sul-Sel, 11/06/2026