AAB - Belahan Jiwa

Belahan Jiwa
By Arif Agus Bege'h


Ingin kembali menatap senyummu
yang pergi membawa harapanku
Kembalikan ia bersama pagi,
sebelum kau sadar ada yang mati
satu belahan jiwa sejati
yang hanya bisa kau dapat dariku


Masamba Sul-Sel, 01/04/2010

AAB - ​Baju Dari Air Mata

Baju Dari Air Mata
By: Arif Agus Bege'h


Kemarahan adalah api yang membakar sia-sia
jika hanya kau lepaskan ke udara
menjadi abu yang ditiup angin
hilang tanpa bekas

​Aku memilih cara lain

​Kubiarkan rasa sakit itu mengendap
dingin dan sunyi
di dasar palung jiwaku yang paling dalam
perlahan, ia mengeras
membatu
menjadi karang yang tak sanggup diguncang ombak
tak mampu ditembus oleh tajamnya tipu daya yang datang dari tangan-tangan palsu

​Sekarang, lihatlah
aku berdiri bukan sebagai korban yang merintih
tapi sebagai penjaga dari kisahku sendiri
luka ini telah kutempa menjadi zirah
menjadi baju pelindung yang kujahit dengan benang ketabahan

​Setiap tetes yang dulu jatuh sia-sia
kini kusematkan menjadi perisai
jangan tanya lagi tentang perih
karena air mata yang kukenakan ini
adalah bukti bahwa aku tidak lagi bisa ditembus oleh kehampaan


Tarailu Sul-Bar, 20/02/2010

AAB - Lentera Di Tengah Gulita

Lentera Di Tengah Gulita
By: Arif Agus Bege'h


Kabut menebal di langkahmu
saat kuperhatikan
ada bimbang yang merayap di sana
akankah kau membagi pekatmu bersamaku
berpaling sejenak dari badai batinmu
garis tatapmu yang kosong
menyisakan ruang yang ingin aku penuhi

Adakah kau izinkan raguku memandu
lalu kau jahit rapat dalam pasrah
sebab aku tak pernah ingin pikiranmu segelap ruang hampa
menanggung sunyi malam sendirian tanpa pelita
yang kumohon hanyalah kerelaan
mengaku kalah apa adanya

Andai binar bintang mampu kupetik
akan kubawa kilaunya ke jemarimu sebagai penunjuk arah
aku mungkin tak bisa menjanjikanmu fajar yang benderang
namun kuyakinkan
nyala setiamu jauh lebih terang dari malam terkelam

Akan kuberikan dadaku yang lapang
tempat kau tumpahkan segala perih dan duka
meski bukan suluh yang sempurna
aku bersedia menjadi sumbu
menjaga pijar tempat kita mencari jalan
demi menemukan keabadian surga di pelukanmu


Tarailu Sul-Bar, 18/01/2010

AAB - Benih Harapan

Benih Harapan
By: Arif Agus Bege'h


Gugur meluruh di lengkung senyummu
saat kuperhatikan ada kecewa yang mengendap
akankah kau bagi gersangmu bersamaku?
berteduh sejenak dari badai kegagalanmu

Patah mimpi menyisakan ruang rindu yang ingin kutanam
izinkan raguku memupuk sabar yang kau dekap rapat
sebab tak pernah kuingin hatimu menjadi ladang mati
menyimpan duka, tanpa tunas baru

Ah...
badai itu barangkali hanya singgah sebentar
guruhnya sekadar menguji keteguhan tanah batinmu
saat putus asa mencoba merenggutmu
mematahkan asa, merusak rencana

Lelah aku melihatmu meratap sendirian
enggan kubiarkan kau menyerah pada keadaan
mari bersandar di bawah rindang keyakinan
berpayung ketabahan yang takkan runtuh

Semangatmu kini layu, tak bertenaga
namun tekad dan impian di sekujur ragamu
harus bangkit, bagai benih
yang menjebol tanah kering di musim kemarau

Mengapa kau biarkan dirimu tenggelam?
andai gerimis mampu kupanggil
akan kubawa sejuknya ke keningmu, pembasuh luka
aku tak menjanjikan panen yang melimpah
namun ketulusanku, jauh lebih kaya dari tanah terbaik

Kuberikan dadaku yang lapang
tempat kau tumpahkan segala perih
meski bukan kebun yang sempurna, aku bersedia menjadi akar
menjaga batang tempat kita tumbuh kembali
demi memetik buah surga di masa depanmu

Telah kusediakan ruang baru sebelum kau meminta
sebab akulah bumi, akulah ladang subur itu
di dalam dekapanku
gersangmu takkan lagi berbekas


Tarailu Sul-Bar, 18/01/2010

AAB - Rumah Di Balik Badai

Rumah Di Balik Badai
By: Arif Agus Bege'h


Senja meredup di matamu
saat kutatap, ada lelah yang tersembunyi di sana
akankah kau membagi bebanmu bersamaku
menepi sejenak dari bising dunia?
garis senyummu getir menyisakan ruang yang rindu kutata

Adakah kau izinkan raguku bertamu
lalu kau kunci rapat dalam percaya
sebab aku tak pernah ingin jiwamu sekeras batu karang
menahan hantaman ombak sendirian tanpa erangan
yang kuminta hanyalah kerelaan
berbagi rapuh apa adanya

Andai hangat perapian mampu kuikat
akan kubawa pijarnya ke dekatmu sebagai selimut malam
aku mungkin tak bisa membangunkankanmu istana yang megah
namun kuyakinkan
dinding sabarku jauh lebih kokoh dari badai terkuat

Akan kuberikan pundakku yang lapang
tempat kau tumpahkan segala tangis dan penat
meski bukan tempat bernaung yang sempurna
aku bersedia menjadi tiang
menopang atap tempat kita berlindung
demi menemukan kedamaian surga di sisimu


Tarailu Sul-Bar, 17/01/2010