"Berapa banyak dari kita yang sibuk mengejar puncak, hanya untuk mendapati diri kita kesepian di atas sana? Sebelum ego menghancurkan kita... Inilah sajak Tahta Di Puncak Sunyi...."
Tahta Di Puncak Sunyi
By: Arif Agus Bege'h
Ketika kita memilih kebanggaan
dan menobatkan diri sebagai raja dalam jiwa
sesungguhnya langkah kaki telah melenceng
menuju puncak kesombongan yang dingin
Kita menancapkan mahkota di kening
ditempa dari logam ego yang berkilau palsu
merasa paling tinggi melayang di atas angin
sampai lupa pada tanah tempat kita bermula
Langkah kaki kian pongah mendaki
merayapi lereng pujian yang fana
setiap sapaan dianggap sembah bakti yang mutlak
membuat mata hati buta
tak lagi mampu melihat warna
Di kanan kiri
tebing-tebing curam menganga
tempat kepedulian sengaja kita hempaskan ke jurang
sebab seorang raja tidak boleh terlihat cacat
atau ternoda oleh jelaga ketidaksempurnaan manusiawi
Lalu tibalah kita di puncak tertinggi
merayakan kemenangan dalam kesendirian yang mutlak
tidak ada lagi angin yang membisikkan sanjungan
yang tersisa hanya sunyi menghujam langsung ke nadi
Tahta angkuh yang kita bangun dengan megah
rupanya cuma istana pasir yang rapuh
hanya menanti giliran waktu menyapunya hingga rata
meruntuhkan jiwa yang telanjur mengeras oleh keangkuhan
Di titik tertinggi itu
barulah kita mengerti
tidak ada keagungan dalam kesendirian
kita sama sekali tidak sedang menguasai bumi
melainkan sedang tersesat mendekap kehampaan yang luas
Mamuju Sul-Bar, 10/10/2022


