AAB - Dawai Waktu




"Hidup bukan tentang seberapa cepat kita mencapai garis akhir, melainkan tentang seberapa dalam kita memaknai setiap napas yang kita ambil. Di tengah derasnya perubahan zaman, kadang kita perlu berhenti sejenak, membiarkan kenangan membasuh luka, dan kembali mengumpulkan doa. Berikut adalah bait-bait yang saya tulis sebagai pengingat bagi diri sendiri."

Dawai Waktu
By: Arif Agus Bege'h


Di beranda waktu
aku menakar sisa jejak
saat usia kian deras membawa cerita
perjalanan ini tak selalu ramah
namun bara di dada enggan menyerah

Seringkali kenangan menjelma hujan
membasuh getir yang tertinggal di ingatan
aku tak lagi memusuhi perih yang hadir
sebab di sana
aku belajar mendewasa

Jika langkahku kini mulai melambat
bukan berarti airmata menumpulkan niat
Ini hanya jeda untuk memanen doa
agar esok mampu berpijak lebih kokoh

Biarlah nasib bergulir sesuai takdirnya
aku tetap memegang teguh komitmen diri
menjaga api harapan tetap menyala
meski jalan yang kutempuh kian sunyi

Kelak saat rambut memutih dimakan zaman
aku ingin tetap tegar menyambut senja
sebab hidup bukan tentang cepatnya tiba
melainkan tetap bertahan hingga titik akhirnya


Mamuju Sul-Bar, 01/01/2023

AAB - Ruang Dengar Dipaku

Ruang Dengar Dipaku
By: Arif Agus B

Ada suara yang selalu disambut tepuk tangan

ada pula suara yang bahkan tak diberi kursi

yang satu dipuji karena jabatan

yang lain dicurigai karena bertanya


Mengapa pertanyaan lebih ditakuti

daripada kesalahan yang terus diwariskan

mengapa telinga kekuasaan

lebih akrab dengan pujian

daripada kenyataan


Rakyat mengenal harga beras

buruh mengenal harga tenaga

petani mengenal harga panen

mengapa hanya suara manusia

tak pernah memiliki nilai

di meja keputusan


Gedung-gedung semakin tinggi

laporan-laporan semakin rapi

tetapi keluhan tetap berjalan kaki

di trotoar yang sama setiap hari


Di lorong gedung

seorang warga berkata

Aku datang membawa pertanyaan."

pejabat tersenyum tipis menjawab,

"Kami lebih membutuhkan dukungan daripada pertanyaan"


Warga menatapnya tanpa ragu,

"Kalau begitu, jangan sebut kami pemilik negeri,

jika suara kami hanya menjadi tamu.

Angka boleh tampak baik-baik saja,

tetapi kenyataan tak pernah pandai berbohong."


Lorong kembali sunyi

yang tertinggal bukan jawaban

melainkan gema pertanyaan

yang tak pernah diizinkan masuk


Barangkali negeri ini

tidak sedang kekurangan pidato

tidak sedang kekurangan janji

melainkan kekurangan telinga

yang benar-benar mau mendengar


Negara tidak runtuh karena rakyat

terlalu banyak bertanya

melainkan karena penguasa

terlalu sedikit mendengar



Mamuju Sul-Bar, 05/12/2022

AAB - Cukuplah Engkau Penolongku

Cukuplah Engkau Penolongku
By: Arif Agus B


Aku mencari kabar baik
di layar yang tak pernah lelah menyala
lalu kusadari
langit tak pernah memakai notifikasi
untuk menyampaikan kasih-Nya

Hujan tidak meminta tepuk tangan
ia jatuh basahi bumi
lalu pergi tanpa menagih pujian

Aku berkali-kali menyalahkan waktu
karena doa terasa jauh
padahal yang berlari
bukan jawaban-Mu
melainkan kesabaranku

Ada pintu yang tetap tertutup
aku mengira itu penolakan
ternyata Engkau sedang menyuruhku
melepaskan kesombongan
yang kubawa sebagai bekal

Manusia sibuk menghitung harta
langit sibuk menghitung amal
aku terlambat mengerti
yang berat di bumi
belum tentu bernilai di hadapan-Mu

Saat malam terasa paling sunyi
aku belajar satu hal
gelap bukan musuh cahaya
melainkan ruang
agar harapan terlihat lebih terang

Aku tak lagi meminta
jalan yang selalu mudah
aku hanya memohon
hati yang tetap teguh
saat langkah mulai goyah

Hari demi hari
mengajariku satu kalimat sederhana
percaya kepada-Mu
lebih menenangkan
daripada mengendalikan segalanya

Bila seluruh jalan tampak buntu
aku masih mengenal satu arah
menengadah...
lalu bersujud
di situlah harapan selalu lahir kembali


Mamuju Sul-Bar, 26/11/2022

"Bukankah Allah mencukupi hamba-Nya?"
أَلَيْسَ اللَّهُ بِكَافٍ عَبْدَهُ
Alaisa-llāhu bikāfin 'abdahū

"Bukankah Allah sudah cukup sebagai Penolong bagi hamba-Nya?"
(QS. Az-Zumar: 36)

AAB - Tragedi Margono

Tragedi Margono
By: Arif Agus Bege'h


Sawah hijau warisan leluhur mendadak sunyi di fajar buta
pohon-pohon jati pembatas desa berbalut kabut prasangka
jemari legam terbiasa menyemai bulir-bulir harapan
kini dituduh dalang perusak tatanan kemajuan

Hak hidup tergilas aturan sepihak para pemodal
genggaman cangkul di sela jemari gemetar
kini dicap sebagai simbol perlawanan liar
tetes keringat pemakmur tanah sekian generasi
diadili selembar berkas penuh rekayasa keji

Desas-desus busuk merayap masuk ke tiap beranda
gugatan adat diputarbalikkan menjadi tindakan makar
sebuah nama bersih seketika cacat tanpa ruang bicara
terik siang mencekam mengubah ketenangan warga
menjadi tungku bara yang siap melumat paksa hak mereka

Intrik politik menjelma monster besi baja
meruntuhkan impian yang dirawat sekuat tenaga
mereka penikmat ruang ber-AC tak paham kerasnya kerja
begitu mudah menuduh petani sebagai perusak rencana
pagar bambu hancur lebur diterjang keangkuhan penguasa
Brak!

Asap perih menyengat mengungkap wajah-wajah penuh murka
“Seret paksa tua bangka ini! Hancurkan gubuk pembohong ini!”
teriakan keji bergaung membungkam suara kebenaran
“Demi Tuhan, ini tanah pusaka, ini tanah warisan, bukan curian!”
ratapan Margono yang parau
dari celah dinding

Kaum perempuan dan anak-anak menjerit ketakutan
menyaksikan ladang tumpuan hidup digulung mesin-mesin raksasa
debu hitam membubung menyumbat rongga dada
seiring sirnanya rasa iba di hati manusia

Sama sekali tiada kesempatan membela diri
raga tuanya ditarik paksa ke aspal
dihujani pukulan sepatu-sepatu laras yang merasa paling berkuasa
pentungan logam menghantam rusuk ringkihnya tanpa ampun

Darah kental merembes
membasahi tanah kering tak bersalah
mereka bersorak mengatasnamakan kemajuan bangsa
sambil menyiksa rakyat kecil yang didera kebingungan
“Bawa dia! Amankan provokator ini sebelum warga lain terhasut!”
gertak petugas sembari mengunci pergelangan tangannya
ujung laras laras baja menekan tengkuknya ke bumi
memastikan tiada lagi gaung protes berani bangkit

Tubuh lunglai terhempas ke bak kendaraan lalu disekap
petinggi seragam dan cukong tersenyum merayakan kejayaan semu
di sudut ruangan pengap tanpa celah cahaya
Margono mendekap sisa-sisa napasnya kian melemah
tatapannya kosong menembus besi pembatas dengan pasrah
menatap dinding semen yang dingin
mencari setitik ketetapan adil yang sirna di dunia

Ambisi perluasan wilayah kembali menelan korban jelata
menyisakan hamparan ladang gundul tanpa pembela
kini hanya tersisa puing-puing beton
dan isak tangis keluarga kehilangan tulang punggung
di bawah kuasa yang tumpul ke atas tajam ke bawah
riwayat Margono terhapus dalam catatan kelam masa lalu yang keliru


Mamuju Sul-Bar, 21/10/2022

AAB - Tragedi Mukiyah

Tragedi Mukiyah

By: Arif Agus Bege'h



Lantunan zikir tarekat mendadak sunyi di ujung malam

kitab kuning di sudut surau berselimut debu kecurigaan

pengabdian tulus membimbing jemari kecil mengeja Alif-Ba-Ta

kini dituding sebagai racun yang merusak aqidah


Kebenaran dibungkam oleh dogma penguasa mimbar

tasbih yang melingkar di jemari gemetar

kini dianggap mantra pemanggil teluh dan ingkar

kalam baitullah yang mengalir dalam darah

diadili lisan yang penuh amarah


Desas-desus liar merayap dari rumah ke rumah

ajaran batin yang suci diputarbalikkan menjadi aliran  sesat

sebuah nama mulia dikotori heresi tanpa tabayun

malam mencekam mengubah kedamaian kampung

menjadi tungku api yang siap menghanguskan keadilan


Selentingan tetangga menjelma  belati

menusuk punggung keyakinan yang dirawat setengah mati

mereka yang tak paham dalamnya samudra makrifat

dengan mudah menghakimi sesama sebagai ahli maksiat

pintu madrasah hancur didobrak kemarahan yang buta

Dar!


Obor menyala, menerangi wajah-wajah yang kerasukan amarah

“Keluar kau lelaki penyembah setan! Bakar saja surau sesat ini!”

caci maki berhamburan mengalahkan jernihnya suara kebenaran

“Demi Allah, ini jalan makrifat, bukan ajaran sesat!” ratap Mukiyah lirih

dari bilik bambu


Anak-anak mengaji menangis ketakutan

melihat tiang-tiang tempat mereka bersujud mulai dijilat api

asap hitam mengepul menyumbat jalan napas

bersama hilangnya rasa kemanusiaan yang lepas


Tanpa ruang bicara

tubuh ringkih nya diseret paksa

dihujani batu dan pukulan dari tangan-tangan yang merasa paling suci

bambu runcing dan balok kayu menghantam dada yang penuh asma


Darah segar mengalir dari pelipis

menetes di atas tanah yang tak berdosa

mereka berteriak mengagungkan nama Tuhan

sambil menginjak-injak hamba-Nya yang dalam kebingungan

“Angkut dia! Jangan biarkan provokator itu menghasut warga lebih jauh!”

bentak aparat sembari memborgol paksa

sepatu laras panjang ikut menekan tengkuknya ke bumi

memastikan tak ada lagi suara kebenaran yang bersemi


Tubuh lebam terkapar di tanah basah sebelum dilempar kasar ke dalam mobil

seragam hitam dan warga bersorak merayakan kemenangan semu

di dalam bak yang sempit dan pengap

Mukiyah memeluk erat sisa-sisa kesadarannya yang meredup

Mukiyah menatap langit dengan kepasrahan total

menembus jeruji besi yang dingin

mencari keadilan yang tak ia temukan di bumi manusia


Peradilan sesat kembali memakan korban rakyat kecil

meninggalkan surau yang sepi dan keadilan yang mati

kini hanya ada abu sisa pembakaran

dan tangis anak-anak yang kehilangan guru ngaji

di bawah hukum yang tumpul ke atas dan tajam ke bawah

nama Mukiyah terkubur dalam lembaran hitam sejarah yang salah



Mamuju Sul-Bar, 20/10/2022