AAB - Tanpa Penundaan

Tanpa Penundaan
By: Arif Agus Bege'h


​Seberapa keras pun napas dihela dalam perjuangan

ketika garis takdir telah menjemput

segala daya manusia akan menjadi sunyi


Tidak ada pintu yang bisa menunda ajal

tidak ada ruang untuk negosiasi dengan waktu


​Di ambang kepasrahan itu

jangan biarkan imanmu retak hanya karena merasa terabaikan


Jangan mencari kesalahan pada mereka yang tidak mengulurkan tangan

sebab pada akhirnya

semua akan kembali sendiri-sendiri

ke hadapan-Nya.



Jakarta, 20/10/2023

AAB - Cermin Di Jalan Setapak



"Seringkali kita merasa bahwa setiap langkah yang kita ambil adalah milik kita sendiri. Namun, dalam hening yang panjang, saya menyadari bahwa jejak-jejak di depan kita bukanlah sekadar milik orang lain, melainkan guru yang membimbing agar kita tak jatuh di lubang yang sama. Berikut adalah puisi tentang perjalanan, kerendahan hati, dan cermin dari langkah-langkah yang telah lalu."


Cermin Di Jalan Setapak
By: Arif Agus Bege'h


Kita musafir yang tergesa mengejar fajar
lupa bahwa debu yang kita injak
adalah sisa perjalanan hujan dan airmata
milik mereka yang lelah sebelum sampai

Sesekali, langkah haruslah terhenti
membaca sunyi pada kaki yang pincang
menjadikan retakan di jalan orang lain
sebagai peta agar kita tak tersesat
sebab kesalahan adalah guru yang bisu
ia berdiri di tikungan yang paling tak terduga
menunggu kita mengulang langkah yang sama
di atas jalan yang tampak rata namun rapuh

Kerendahan hati adalah cara kita menatap
menjadikan jejak mereka cermin yang jujur
bahwa setiap luka yang telah mereka kecap
adalah kompas bagi jiwa yang masih gamang

Kini, berkacalah tanpa merasa lebih tinggi
karena pada akhirnya
kita hanya sedang pulang
belajar dari luka yang telah usai
agar tak perlu kita rengkuh kembali


Mamuju Sul-Bar, 22/09/2023

Sajak Mantera Jiwa


Mau tahu rahasia sebuah ucapan jadi nyata? Simak sajak ini..!

Mantera Jiwa
By: Arif Agus Bege'h


Ia bukan magis yang lahir dari asap dupa,
bukan pula rahasia yang terkubur di balik rupa.
Sebab getaran tertinggi tidak butuh upacara,
ia hanya butuh sebaris niat yang menyala.

Mantera hanyalah pakaian bagi sebuah rasa,
kalimat yang dipilih untuk mengikat masa.
Ketika bibir mengucap dan hati mengiyakan,
di sanalah hukum sebab-akibat mulai berjalan.

Tak perlu altar megah atau malam yang dikeramatkan,
jika jiwa telah bulat dalam satu ketetapan.
Sebab keajaiban tidak tunduk pada dekorasi,
ia patuh pada ketulusan yang murni di dalam diri.

Bahkan jika ia meluncur dari lisan yang tercela,
atau keluar dari pekatnya mulut sang buaya.
Kebenaran dari sebuah janji takkan pernah luntur,
ia tetap tegak, berjalan tanpa bisa diundur.

Kata-kata adalah kontrak yang tak tertulis,
antara tekad manusia dan takdir yang mengiris.
Sekali komitmen sejati telah dikunci,
seluruh semesta bergerak untuk menepati.

Maka jagalah setiap bahasa yang kau lepaskan,
ia bukan sekadar angin yang lewat di keheningan.
Ada daya yang hidup di balik setiap ketukan,
menjadi nyata lewat apa yang kau sepakati kemudian.

Sebab pada akhirnya, kekuatan itu sangat sederhana:
ia adalah janji setia antara kau dan pencipta rasa.
Tak peduli siapa atau bagaimana ia disuarakan,
jika tekad telah mengunci, wujudnya takkan tertahankan.


Mamuju Sul-Bar, 09/09/2023

AAB - Gema Lidah



"Banyak orang mengira lantang berarti menang. Padahal, sering kali suara yang dilepas tanpa saring, justru menjadi bumerang yang menghujam dada sendiri. Sebelum kita berani bersuara keras di depan semesta, kita harus berani menaklukan ego di dalam jiwa. Inilah sebuah pengingat, tentang perjalanan, tentang hujan, dan airmata yang mendewasakan."

Gema Lidah
By: Arif Agus Bege'h


Kutempa nyali di sepanjang perjalanan yang tak menentu
menjaga api dalam dada agar tak membakar diriku sendiri
sebab kata yang lahir dari amarah
hanyalah pisau bermata dua
yang siap berbalik menghujam jantung saat ia lepas dari mulutnya

Langit meredup
hujan menderas membasuh angkuh yang sisa
membersihkan saringan nurani sebelum suara ini kupancangkan
aku belajar menahan diri bukan karena takut pada dunia
namun karena sadar
memaki semesta hanya akan mengotori muka

Di balik airmata yang pernah jatuh membeku di pipi
aku memungut hikmah
bahwa diam adalah benteng yang suci
setiap kata yang tersaring adalah kehormatan yang kujaga
agar tak ada lagi luka yang harus kubayar dengan nestapa

Suaraku kini lantang mengguncang sunyi dengan ketegasan
bukan untuk memantik api tapi untuk menuntaskan ego diri
biarkan gema ini merambat menjadi saksi atas kemenangan
bahwa menguasai lidah adalah kedaulatan jiwa yang tertinggi

Tak perlu riuh rendah
cukup pesan yang menghujam ke sukma
sebab yang lantang bukan sekadar suara
tapi jejak yang nyata


Mamuju Sul-Bar, 18/08/2023

AAB - Gugatan Ketulusan

Gugatan Ketulusan
By: Arif Agus B


Di kedalaman dada yang paling sunyi
harapan selalu lahir dengan pakaian yang sama
sebuah doa agar kekasih yang datang
membawa sekeping hati yang utuh
tanpa topeng
tanpa syarat yang disembunyikan di balik punggung
Kita semua mengemis pada takdir
meminta cinta yang murni seputih mata air
mengira bahwa ketulusan adalah muara
di mana semua lelah dan luka
bisa dibasuh sampai tuntas
Namun dunia ini berjalan di atas meja hitung
setiap inci rasa ditimbang dengan untung
dan mereka yang datang dengan tangan terbuka
sering kali lupa mengenakan perisai
di dadanya yang telanjang
Lalu di sebuah sudut
malam itu
sebuah suara berdenting seperti pecahan kaca
menyuarakan kebenaran yang getir:
"Semua orang berharap kekasihnya tulus mencintai,
karena hanya orang tulus yang mudah dimanfaatkan."
Kalimat itu menggantung di udara Mamuju,
menampar wajah-wajah yang terlalu polos berharap
sebuah kalimat yang bukan sekadar deretan kata
melainkan monumen dari hati yang pernah patah
akibat memberi terlalu banyak
Lihatlah
bagaimana ketulusan diubah menjadi kelemahan
ketika engkau menyerahkan segalanya tanpa sisa
para pencuri kesempatan akan datang berbondong-bondong
menjadikan kebaikanmu sebagai anak tangga
untuk kepuasan ego mereka sendiri
Mereka yang memanfaatkan
mungkin tertawa hari ini
merasa menang karena berhasil mengecoh ketidakberdayaan
tetapi mereka lupa
orang yang tulus hanya kalah pada ruang
bukan pada hakikat kehidupan yang merawat jiwa
Maka biarkan suara ini meninggi
bukan karena amarah yang merusak diri
melainkan sebuah ketegasan yang baru
bahwa menjadi tulus bukan berarti bersedia menjadi korban
dan batas diri adalah benteng yang harus ditegakkan
Pada akhirnya
catatan ini akan tetap abadi
tersimpan di antara lipatan waktu yang terus melaju
bahwa di atas tanah ini
kita pernah belajar
cinta yang agung adalah yang tahu kapan harus memberi
dan tahu kapan harus berhenti
demi menjaga harga diri


Mamuju Sul-Bar, 18/07/2023

Surat Ar-Rahman ayat 60:

Di baca aebelum titimangsa
هَلْ جَزَآءُ ٱلْإِحْسَٰنِ إِلَّا ٱلْإِحْسَٰنُ
Teks Latin:
Hal jazaa'ul-ihsaani illal-ihsaan.

“Tanyakan pada semesta yang terbentang: adakah upah bagi sebuah ketulusan, selain pelukan kebaikan yang abadi?”

Terjemahan Asli: "Tidak ada balasan untuk kebaikan selain kebaikan (pula)."