AAB : Cahaya di Relung Jiwa


"Cinta sejati tidak terletak pada seberapa sering nama seseorang diucapkan, melainkan pada seberapa dalam kehadirannya dirasakan dalam setiap hela napas dan doa yang dipanjatkan secara rahasia."

Cahaya di Relung Jiwa
By: Arif Agus Bege'h


Sesekali kupanggil dirimu dalam senyap

sebab senyummu tak pernah lelah merayu setiap denyut jantungku

seakan engkau ingin bertahta dalam setiap degub dan hela napasku


Sesekali kurapal bayangmu

karena kutahu engkau pun tak jarang menyertakanku

menjadi penyempurna doa dan mantra penenang hati yang sedang bergelombang


Sesekali kusebut engkau

saat terdiam dalam waktu yang tidak sebentar

seakan semesta turut merenung

menyimak hasrat dan harapan untuk seorang kekasih idaman

sepertimu.


Izinkan aku kali ini tetap sesekali memanggilmu

dalam diam

dalam harapan

dalam ketulusan rindu yang tiada terkira

dalam cahaya yang tak satupun mampu membuatnya jadi gelap


Hanya untukmu yang sesekali kusebut

sebab yakinlah bahwa ketika hari itu tiba

tiada lagi waktu terbuang sebagai antara untuk saling mencari

hanya ada panggilan mesra sebagai tanda ketulusan kasih dan sayang kita

untuk selamanya.


Sesekali kupanggil engkau dengan segenap rasa

meskipun siapapun namamu di dunia nyata

engkau tetaplah cahaya tunggal di jiwaku



Masamba Sul-Sel, 21/03/2025



AAB - Sayap Yang Patah

 

Sayap Yang Patah
By: Arif Agus Bege'h


Sebelah sayap terkulai di puncak sepi
bukan sekadar patah
namun kehilangan arah
dalam perjalanan lapar yang tak terobati
raga terhuyung di bawah langit yang kian resah

Saat pasangan pergi
dunia mendadak runtuh
meninggalkan hujan duka di ruang dada
tangan masih bekerja
meski hati yang rapuh
hanya mampu menampung sisa kenangan yang ada

Rumah adalah surga atau api yang membakar
tempat anak-anak mencari aman dari cemas
sebab kasih sayang adalah tiang yang dipijar
agar nestapa tak menjadi penghuni yang ganas

Tahun tahun berlalu
luka kini terbungkus rapi
walau airmata tak pernah benar-benar mengering
ia menjelma kenangan yang enggan pergi
menjadi detak yang tetap berdenyut meski genting

Bangkitlah
meski pincang membelah waktu
hidup adalah takdir yang harus terus bernapas
Meski sayap sebelah telah kaku dan bisu
langit tetap harus ditaklukkan
tanpa batas


Masamba Sul-Sel, 03/03/2026

AAB - Sang Penunggu Di Dua Alam

 
"Jangan pernah biarkan kelengahan menjadi celah bagi orang lain untuk merampas hakmu, karena di dunia ini, seringkali ada mata yang menunggu untuk mengklaim apa yang kau jatuhkan."

Sang Penunggu Di Dua Alam
By: Arif Agus Bege'h


Keliang Kelambang
Etek Etek Ale Ale
Lapah Tiyan Mele Mangan
Ngeresek Dalem Bale...

Aku adalah Keliang
yang terbang membubung tinggi
mata awasku adalah lensa tajam di angkasa raya
menyisir cakrawala
mencari napas yang terengah

Langkah yang salah
niat yang goyah
kau adalah sasaran bidik tumbal yang kusemai
dalam lapar yang tak pernah usai

Keliang, Kelambang...
ataukah aku adalah kelambang
sang bayang-bayang
yang merayap di sela akar menunggu kau terpeleset jatuh

Aku adalah kesabaran yang busuk
menanti gravitasi bekerja untukku
agar saat tubuhmu menyentuh tanah
kukoyak dagingmu menjadi potongan-potongan sejarah
untuk anak-anakku
generasi yang lahir dari rasa lapar
agar mereka menelanmu memamah setiap sesalmu dengan nikmat

Kita adalah simbiosis dari ketakutan dan kelengahan
keliang dan kelambang dalam satu nama yang sama
kita mencari manusia yang tertidur dalam janjinya
menunggu celah di mana moralitas mulai luruh
lalu mengambil bagian mengklaim hak yang kita sebut "milik"
di atas sisa-sisa mangsa yang tak lagi memiliki suara

Sebab di dunia yang fana ini
jika bukan menjadi yang mengintai dari atas
maka kau adalah yang dikoyak di bawah
dan aku
aku hanya sedang memilih peran
sebelum akhirnya kita semua pun menjadi santapan
oleh waktu yang jauh lebih lapar dari kita berdua


Masamba Sul-Sel, 01/02/2026

Sajak Topeng-Topeng Kertas


"Sajak ini adalah cerminan dari kemuakan terhadap kepalsuan. Sebuah kritik bagi mereka yang menjadikan empati sebagai komoditas, namun mematikan nurani di balik topeng kepedulian. Dengarkanlah ini sebagai suara kejujuran yang menolak untuk dibungkam."

Sajak Topeng-Topeng Kertas

By: Arif Agus Bege'h



Di depan cermin, kau poles wajahmu dengan kepalsuan

Mengucap kata manis, namun menyimpan racun di balik senyuman

Jika tanganmu tak mampu memberi setetes solusi bagi luka

Lebih baik kau bungkam mulutmu, biarkan bisu menjadi sisa!


Jangan kau bicara tentang nurani, jika hatimu telah mati

Karena bagiku, lebih baik bibir itu dilem rapat hingga terkunci

Daripada dijahit, nanti mengalir darah yang tak lagi suci

Sebab bagimu, penderitaan rakyat hanyalah panggung sandiwara hari ini!


Kau datang dengan muka iba, berlagak memikul beban dunia

Namun matamu jelalatan, menghitung untung di atas air mata

Kau sebut dirimu saudara? Jangan buat aku tertawa

Saudara tidak membiarkan kerabatnya tersungkur menahan kecewa!


Sok peduli pada negara, sok peduli pada tanah kelahiran

Padahal langkahmu hanyalah derap kaki menuju kehancuran

Kau injak harga diri, kau jual janji di pasar-pasar kebencian

Sementara rakyatmu kau biarkan kering di tengah musim kemarau pengabdian!


Lihatlah lingkunganmu yang kini porak-poranda karena ambisi

Kau hancurkan ketulusan dengan topeng yang kau pakai sendiri

Peduli bagimu hanyalah komoditas yang kau dagangkan sesuka hati

Lalu di manakah letak kemanusiaan yang kau agung-agungkan tadi?


Berhentilah bermain peran, wahai aktor di atas panggung lara

Sebab setiap kata yang kau ucapkan adalah dusta yang menyiksa

Kami bukan penonton yang bisa kau suapi dengan tipu daya

Kami adalah saksi bisu dari setiap kebusukan yang kau bawa!


Cukup! Simpan saja segala perhatianmu yang penuh noda

Sebab di mataku, kau hanyalah sampah dalam balutan kemeja

Jika tak bisa membantu, jadilah bisu selamanya

Karena kepedulianmu adalah racun yang membunuh kejujuran kita!



Masamba Sul-Sel, 01/01/2026


AAB - Setelah Satu Halaman

Setelah Satu Halaman
By: Arif Agus B


Setiap pagi
gedung itu membuka pintunya
lebih awal daripada matahari
rak-raknya penuh
bukunya bertambah dan
halamannya menua dengan anggun

Tetapi ada sesuatu yang diam-diam menghilang
bukan buku
bukan pula coretan tinta
melainkan manusia yang bersedia datang
membaca dirinya sendiri

Aneh
semakin banyak kepala dipenuhi kutipan
semakin sedikit hati yang mampu mendengarkan
lidah berlomba menjadi pengeras suara
sedangkan telinga memilih pensiun sebelum waktunya

Mereka hafal nama-nama besar
fasih mengulang teori
mereka pandai mengutip
segala macam kebijaksanaan
namun ketika kehidupan mengajukan satu pertanyaan
mereka justru sibuk mencari catatan kaki

Barangkali pengetahuan
telah berubah menjadi lemari pajangan
disusun rapi
dibersihkan
dikagumi setiap hari
namun sayang
ia tak pernah benar-benar dipakai
menghadapi derasnya hujan

Ada orang yang mampu
menjelaskan arti kejujuran
secara mendalam dalam seratus halaman
namun gagal mengucapkan satu kalimat jujur
kepada dirinya sendiri

Ada pula yang lantang
mengajar tentang ketenangan
suaranya tenang
bahasanya tenang
wajahnya tenang
tetapi di dalam dada
suasananya jauh lebih gaduh
daripada pasar menjelang petang

Ilmu bukan mahkota
atau hiasan dinding untuk dipamerkan
ia seharusnya menjadi jendela yang lapang
semakin dibuka
semakin banyak cahaya masuk
bukan malah meninggikan tembok penghalang

Sebab kebesaran sejati
lahir dari kerendahan hati
di hadapan hal-hal yang belum kita pahami
pada akhirnya
buku tidak pernah merasa pintar
hanya manusia
merasa mengerti seluruh kehidupan
setelah satu halaman


Masamba Sul-Sel, 15/12/2025